Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 58. PERASAAN BAYU


__ADS_3

"Naura, jadi selama ini Kau hamil? Tapi, bagaimana bisa? Di data dirimu, disitu tertulis dengan jelas kalau statusmu belum menikah," Akhirnya, Bayu memberanikan diri mengungkapkan apa yang sedari tadi terus berputar dalam otaknya.


Laki-laki yang hampir berusia tiga puluh tahun itu menatap gadis yang berbaring di hadapannya dengan sendu. Sungguh, dia sudah siap mendengarkan kebenaran tentang gadis kecil yang sudah beberapa hari ini terus menggangu pikirannya.


Sementara Naura, seketika terdiam mendapat pertanyaan seperti itu dari kakak temannya itu. Ternyata, Bayu tidak tahu tentang statusnya sebelumnya. Yah, Naura harus menjelaskannya sebelum laki-laki itu salah paham lebih jauh padanya.


"Apa Lusi tidak pernah memberitahu pada Kak Bayu tentang statusku sebelumnya?" Tanya Naura, dan perlahan Bayu menggelengkan kepalanya.


"Lampiran data diri itu Aku buat setelah Aku bercerai dari Suamiku," Ucap Naura, kemudian memalingkan wajahnya dari tatapan Bayu. Naura tahu, kalau Bayu sebelumnya pasti berpikiran yang buruk tentangnya.


"Apa? Ah, maaf Naura, Aku tadi sempat berpikiran buruk tentangmu. Aku sama sekali tidak tahu, Aku pikir Kau tadi...


"Hamil di luar nikah," Ucap Naura memotong ucapan Bayu, tanpa menoleh menatap laki-laki itu.


"Maaf, Naura." ucap Bayu kemudian menundukkan kepalanya merasa bersalah karena sempat berpikiran seperti itu pada gadis kecilnya itu.


"Aku sudah meminta Lusi untuk membawa Ibu dan Bapakmu kemari, mungkin mereka sudah diperjalanan sekarang," Ucap Bayu lagi, dan Naura pun langsung menoleh menatap laki-laki yang sedang menundukkan kepalanya itu.


"Kenapa memberitahu mereka. Ya Tuhan, pasti Ibu dan Bapak akan sangat khawatir. Seharusnya Kak Bayu tidak tidak usah memberitahu mereka, Aku ini baik-baik saja!" Naura sedikit kesal dengan tindakan kakak temannya itu. Naura pun kembali memalingkan wajahnya.


"Maaf, Naura. Aku tadi sangat panik melihatmu kesakitan seperti itu,"


Beberapa saat ruangan itu menjadi hening, namun Bayu tak melepas pandangnya dari Naura yang memalingkan wajah darinya. Kekecewaan yang sempat hinggap kini sirna sudah, Bayu setidaknya sedikit merasa lega mengetahui Naura ternyata sudah bercerai dari suaminya. Meski begitu, tak memupuskan rasa yang tiba-tiba datang meski status Naura yang seorang janda. Yah, seperti itu prinsip Bayu, cinta tak memandang status.


Namun, kekecewaan yang sirna berubah menjadi keraguan akan balasan untuk perasaannya itu. Apakah Naura akan membalas perasaannya jika dia mengungkapkannya. Mengetahui Naura yang baru bercerai dari suaminya tak memungkinkan gadis kecilnya itu juga akan menghilangkan perasaannya pada mantan suaminya begitu saja.


Beberapa saat kemudian, keheningan itu terpecah dengan pintu ruangan yang terbuka, lalu masuklah dua orang perawat yang membawa obat dan juga makanan untuk Naura.


"Maaf, Pak. Ini mkanan dan obat untuk Istri Bapak, tolong dibantu ya Istrinya, Pak. Jangan lupa dihabiskan, dan kami permisi dulu." ucap salah satu perawat, kemudian keluar dari ruangan itu tanpa sempat Bayu menjawab.


"Ya ampun, mereka sudah salah mengira," gumam Bayu, menatap pintu yang baru saja ditutup oleh perawat itu.


Sementara Naura masih betah dengan posisinya tanpa merespon apa yang tadi dikatakan oleh perawat itu. Hingga sentuhan di bahunya mengagetkan Naura dari lamunannya akan apa yang beberapa saat lalu terjadi padanya.

__ADS_1


"Naura, Kau makan dulu ya, baru minum obatnya," ucap Bayu, kemudian menarik tangannya dari bahu Naura.


Naura pun menoleh walau sebenarnya dia tak ingin makan, namun harus dia makan agar tak terlihat lemah nanti di hadapan orangtuanya.


"Aw...sshhtt... " Naura meringis kesakitan saat akan mencoba untuk duduk.


"Naura, Kau berbaring saja, biar Aku yang akan menyuapi mu," Bayu pun membantu meninggikan posisi kepala Naura, lalu mengambil semangkuk bubur yang dibawakan oleh perawat. Kemudian, perlahan memulai menyuapi Naura.


Naura menerima suapan demi suapan hingga bubur yang berada dalam mangkok cap ayam jago itu tandas berpindah ke dalam perutnya.


Setelah selesai menyuapi Naura, Bayu kemudian membantu Naura untuk meminum obatnya.


"Sekarang istirahatlah. Setelah Ibu dan Bapakmu datang, kita urus kepulanganmu ke Jakarta. Kau harus memulihkan tubuhmu, jangan memikirkan masalah cafe." ujar Bayu, menarik selimut menutupi tubuh Naura yang kini terbalut dengan pakaian rumah sakit.


"Tapi Kak, Aku bahkan belum memulai pekerjaanku...


"Shuttt... "Bayu menempelkan jari telunjuknya di bibir, sebagai isyarat agar Naura tak memikirkan masalah itu. Naura pun menurut dan akhirnya memilih diam.


"Aku keluar sebentar, Kau istirahatlah." ujar Bayu, kemudian membalikkan badannya keluar dari ruangan itu.


"Oh Tuhan, sebenarnya perasaan apa ini? Apakah Aku sudah jatuh cinta pada gadis itu, baru kali ini Aku merasakannya pada seorang wanita. Jika Dia memang jodohku tunjukkanlah jalannya, Aku tidak perduli dengan statusnya saat ini." lirih nya, lalu kembali menyandarkan kepalanya.


Aku masih ada di sini


Masih dengan perasaanku yang dahulu


Tak berubah dan tak pernah berbeda


Aku masih yakin nanti milikmu


Aku masih di tempat ini


Masih dengan setia menunggu kabarmu

__ADS_1


Masih ingin mendengar suaramu


Cinta membuatku kuat begini


Aku merindu


Ku yakin kau tahu


Tanpa batas waktu


Ku terpaku


Aku meminta


Walau tanpa kata


Cinta berupaya


Engkau jauh dimata


Tapi dekat di doa


Aku merindukanmu


Sepenggal lirik lagu TANPA BATAS WAKTU menjadi nada dering ponsel Bayu, dia mengganti nada dering nya saat masih berada di hotel tadi pagi. Hingga sepenggal lirik lagu itu berhenti barulah Bayu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya. Tertera nama adiknya di layar ponselnya, Bayu pun mengangkat panggilan itu.


''Halo Kak, kita sudah di bandara," ucap Lusi di sana. "Kakak bisa jemput gak ya?" tanyanya.


"Maaf, Lusi. Sepertinya Kakak gak bisa jemput, mobilnya yang Kakak tumpangi masih dilokasi kecelakaan tadi, dan supirnya juga sedang di rumah sakit. Kalian kesini pakai taksi aja ya," Ujar Bayu, merasa sedikit tidak enak kali ini tidak bisa menjemput orangtua gadis kecilnya itu.


"Oh ok, kalau gitu sekarang Kakak kirim lokasi rumah sakitnya, Aku cari taksi dulu," Lusi pun mematikan sambungan teleponnya.


Setelah kakaknya mengirim lokasi rumah sakit tempat Naura di rawat, Lusi, pak Agung dan bu Lastri pun berangkat ke rumah sakit itu dengan menggunakan taksi.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, bu Lastri dan pak Agung merapalkan doa untuk keselamatan putri mereka. Mereka sangat mengkhawatirkan putri semata wayangnya itu, karena hanya Naura lah yang mereka punya.


Tak berapa lama, taksi yang membawa Lusi, pak Agung dan bu Lastri sudah terparkir rapi di pelataran rumah sakit. Lusi pun menelpon kakaknya kembali agar di jemput di luar rumah sakit.


__ADS_2