Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 40. KANTOR PENGADILAN AGAMA


__ADS_3

"Kak maaf, bukannya aku ingin mengusir. Mungkin kakak akan pergi ke sesuatu tempat, gak apa-apa kakak lanjutkan saja perjalanan kakak, aku bisa kok beli Bakso sendiri dan kakak tidak perlu merasa bersalah karena hampir menabrak ku tadi, itu juga salahku yang sedikit melamun tadi" Ucap Naura memberi pengertian pada Laki-laki yang terus menarik tangannya, hingga kini mereka berdua sudah sampai diseberang jalan, dimana penjual Bakso itu berada.


Namun Bayu, tak menghiraukan ocehan gadis yang hampir ditabrak nya itu. Malah Bayu bersikap seolah sudah mengenalnya, dan dengan santainya Bayu membawa tubuh Naura untuk duduk di kursi yang tersedia.


"Kamu duduk manis aja di sini, jangan banyak omong dan tunggu aku akan memesan Bakso nya dulu" Ujar Bayu, kemudian menghampiri tukang Bakso itu.


"Pak, Bakso nya dua mangkok" Ucapnya pada pedagang Bakso itu.


"Siap Mas" Jawab si penjual Bakso.


Sementara Naura yang menunggu hanya bisa menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


'Aduh, kok jadi gini sih. Ini orang juga udah dibilangin gak usah tanggung jawab tapi masih aja ngeyel banget'


Tak lama kemudian Bayu pun datang dengan membawa dua mangkok Bakso lalu meletakkan satu mangkok dihadapan Naura, dan satu mangkok lagi dihadapannya.


"Silahkan makan" Ucap Bayu tersenyum pada Naura.


Keduanya pun makan dengan diam. Bayu sesekali melirik ke arah Naura, dan Naura sendiri yang menyadari sedang diperhatikan hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak sekaligus malu.


Setelah Bakso nya habis, Naura beranjak dari tempatnya duduknya kemudian menghampiri si pedagang Bakso untuk membayar, tapi dengan cepat Bayu mendahuluinya lalu memberikan selembar uang berwarna merah pada pedagang Bakso itu.


"Kembaliannya ambil aja Pak"


"Wah, terima kasih banyak ya Mas" Dan Bayu menganggukkan kepalanya.


Karena sudah didahului oleh laki-laki yang hampir menabraknya itu, Naura pun menyodorkan uangnya pada laki-laki itu sebagai ganti karena sudah membayar Bakso nya, namun dengan cepat Bayu mendorong pelan tangan Naura yang menyodorkan uang padanya.

__ADS_1


"Gak perlu ganti, anggap saja itu tadi aku sedang membayar kerugian karena sudah hampir menabrak mu" Ucap Bayu tersenyum.


"Tapi Kak"


"Shhttt, gak ada tapi tapi. Oh ya dari tadi kita belum kenalan, nama aku Bayu, dan nama kamu siapa?" Tanya Bayu, sembari mengulurkan tangannya pada Naura.


Namun, Naura merasa ragu menyambut uluran tangan itu dia hanya menatapnya tanpa berani menyambutnya, sehingga membuat Bayu menarik kembali tangannya kemudian tersenyum walau dalam hati merasa sedikit kecewa karena gagal mengetahui nama gadis itu.


"Ok baiklah kalau kau tidak ingin menyebutkan namamu, tidak masalah" Ucap Wahyu berusaha tersenyum.


"Tapi, apa boleh aku mengantarkanmu pulang?" Sambungnya, membuat Naura semakin tidak merasa nyaman.


'Ya ampun, berkenalan dengan nya saja aku merasa enggan, dan dia sekarang malah ingin mengantarkan aku pulang. Apa-apaan ini.'


Dalam hati Naura melenguh, dia memikirkan cara untuk menghindar dari laki-laki itu. Naura benar-benar merasa tak nyaman dengan sikap laki-laki itu. Menurutnya laki-laki seperti itu sama saja seperti suaminya, lihatlah laki-laki itu dengan mudahnya mengakrabkan diri padahal baru saja beberapa saat yang lalu mereka bertemu dalam sebuah insiden kecil.


"Hei kamu kok melamun? Apa boleh aku mengantarkanmu pulang" Ujar Bayu mengulang pertanyaannya.


"Oh ya kau ingin kemana? Biar sekalian saja aku yang mengantarkanmu" Tawar Bayu tak ingin menyerah, barangkali masih ada kesempatan untuk mendekati dan mengenal gadis itu pikirnya.


"Maaf Kak, ini tentang masalah pribadiku jadi aku tidak bisa sembarangan untuk memberitahu pada orang asing" Ucap Naura, dan kali ini Naura benar-benar berharap laki-laki itu mengerti akan maksudnya yang tidak ingin diganggu.


"Em, Ok baiklah. Tapi, apakah kita bisa bertemu lagi?" Tanya Bayu, dia berharap bisa bertemu gadis itu lagi. Baru kali ini dia bertemu seorang wanita yang bisa membuatnya merasakan sesuatu yang dirinya juga tidak tau itu apa.


"Maaf, aku tidak bisa berjanji. Kalau begitu aku pamit pergi ya Kak" Ucap Naura, kemudian melangkah pergi meninggalkan Bayu yang masih berdiri mematung ditempatnya.


Bayu menatap langkah gadis itu yang semakin menjauh hingga sosok itu masuk kedalam sebuah Taksi.

__ADS_1


"Oh, ada apa denganku ini, kenapa aku seperti tidak rela berpisah dari gadis itu. Ah Bayu apa-apaan kau ini, kau baru saja bertemu dengannya tadi, bahkan kau belum mengenal siapa namanya" Ucap Bayu berbicara pada dirinya sendiri.


*******


Lusi yang baru saja bangun dari tidurnya langsung mengambil ponselnya untuk melihat jam, namun seketika matanya terbelalak melihat beberapa foto dan video yang dikirimkan oleh Naura.


"Oh ya ampun, suaminya Naura itu benar-benar kelewatan. Benar kata Naura, sekali pembohong tetap saja pembohong" Lusi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua orang yang terlihat sangat mesra didalam foto dan video itu yang tak lain adalah Wahyu dan Diandra.


Setelah puas melihat dan mengumpati dua orang yang berada didalam foto itu. Lusi pun akhirnya menghubungi Naura dengan sambungan video call.


Lagi-lagi Lusi terbelalak melihat keberadaan temannya itu yang saat ini berada di kantor pengadilan agama.


"Ya ampun Naura, kamu ini beneran? Aku gak salah lihat kan kamu lagi di... "


"Iya Lus, kalau Mas Wahyu gak mau menceraikan aku, biar aku yang menggugat dia. Kamu sudah lihat kan foto dan video yang aku kirim ke kamu" Di sana Lusi menganggukkan kepalanya.


"Naura, kamu tunggu aku di situ ya, aku susul kamu kesana"


"Iya, ini aku juga baru sampai" Ucap Naura, lalu Lusi pun mengakhiri sambungan video call itu, dan segera bersiap menyusul temannya yang saat ini berada di kantor pengadilan agama.


Bayu yang baru saja memarkirkan mobilnya, mengerutkan keningnya melihat Lusi yang terlihat sangat tergesa-gesa masuk kedalam mobil.


Bayu meneriaki adiknya itu, namun mobil Lusi sudah melaju dan tidak mendengarkan teriakan kakaknya.


Bayu ingin menyusul adiknya, namun dia juga merasa lelah dan akhirnya memutuskan untuk beristirahat saja di kamarnya. Untuk Lusi, biar nanti dia akan menanyakan kemana dia pergi kalau adiknya itu sudah pulang.


Sekitar lima belas menit berkendara, mobil Lusi pun sudah terpakir rapi di pelataran kantor pengadilan agama, dan Naura yang melihat Lusi sudah datang dengan segera menghampiri temannya itu.

__ADS_1


Naura langsung memeluk Lusi, dan Lusi pun membalas pelukan temannya itu dengan erat. Lusi tau, saat ini temannya itu sangat rapuh.


"Naura, kamu yang kuat ya. Ada aku yang akan selalu menemani kamu" Ucap Lusi sembari mengelus bahu temannya itu.


__ADS_2