
Seperti biasa, pagi-pagi sekali Bayu dan Naura sudah bersiap-siap untuk berangkat ke lokasi pembangunan cafe. Namun, suasana pagi ini nampak berbeda dari biasanya selama satu bulan ini. Langit terlihat cerah, tetapi tidak secerah wajah Naura dan Bayu di pagi ini.
Wajah keduanya tampak muram, tak ada lagi candaan walau hanya sekedar tegur sapa. Tak ada lagi tampang jahil Bayu yang selalu membuat wajah Naura cemberut.
Naura dan Bayu seolah kembali seperti dua orang asing yang baru pertama kalinya bertemu.
Semenjak kejadian tadi malam, sepanjang malam Bayu berpikir keras tentang perasaannya pada Naura. Yah, cinta tidak bisa dipaksakan, tetapi tidak ada salahnya tetap mencintai walaupun tak berbalas. Meski menyakitkan, itu adalah konsekuensi mencintai seseorang yang memiliki trauma dalam sebuah hubungan.
Sementara Naura, bukan tanpa alasan mendiami laki-laki yang hampir mendekati kepala tiga itu. Naura hanya merasa tidak enak karena sudah menolak perasaan kakak dari temannya itu. Namun, ini bukan salahnya. Dia hanya ingin meyakinkan hatinya lagi untuk tidak memiliki bayang-bayang masa lalu untuk kehidupan yang akan dia jalani di masa depan nanti.
"Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi, Aku yakin hati Naura pasti akan bisa Aku miliki." Bayu yang tengah mengemudikan mobilnya sesekali melirik Naura dari kaca spion, sementara orang yang dilirik terlihat serius dengan beberapa lembar gambar sketsa nya.
"Maaf jika sikapku kembali seperti saat pertama kali kita bertemu, cuek. Yah, mungkin itu lebih baik agar Kak Bayu tidak berharap lebih padaku." Meski dalam mode diam, sejujurnya Naura masih merasa tak enak pada laki-laki yang tengah mengemudi disampingnya itu.
Beberapa saat kemudian mobil Bayu pun sudah terparkir di tempat yang memang khusus disediakan untuk mobilnya, hanya berjarak beberapa meter dari lokasi pembangunan cafe.
...*******...
__ADS_1
Di ibukota, Wahyu yang baru saja sampai di kantor disambut oleh Andi dengan wajah yang terlihat sedih. Melihat kesedihan di wajah sekertaris temannya itu, Wahyu pun menghentikan langkahnya tepat di hadapan Andi.
"Kamu kenapa, sakit?" tanya Wahyu, mengerutkan keningnya menunggu jawaban dari Andi.
"Enggak, tapi anak Aku yang lagi sakit. Sekarang sudah berada dirumah sakit sama Mama nya. Kalau boleh, Aku hari ini mau izin mau temenin Anak Aku dirumah sakit." Andi menatap Wahyu dengan tatapan penuh permohonan.
Melihat tatapan Andi, Wahyu pun terkekeh sembari menepuk pundak sekertaris Bayu itu.
"Aku gak ada hak untuk tidak mengizinkan Kamu. Keluarga Kamu lebih penting, Aku yakin Bayu juga akan mengerti. Sekarang pergilah temani anakmu dirumah saki."
"Tapi, Wahyu. Dua jam lagi ada meeting penting bersama klien kita yang dari Malaysia, di cafe X."
"Terima kasih, Wahyu. Kalau begitu Aku pamit dulu."
"Iya, sampaikan salamku pada anakmu, jika ada waktu Aku akan menjenguknya."
Andi pun menanggapinya dengan senyuman, kemudian membalikkan badannya lalu melangkah keluar dari perusahaan itu.
__ADS_1
Setelah Andi pergi, Wahyu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Ada beberapa berkas yang harus dia periksa sebelum berangkat ke cafe yang akan menjadi tempat pertemuannya hari ini dengan klien yang sangat penting.
..............
"Terima kasih, Tuan atas kerja samanya." Wahyu berdiri dari tempat duduknya lalu menjabat tangan klien yang dari Malaysia itu.
"Sama-sama, Pak Wahyu. Senang bekerja sama dengan perusahaan kalian. Dan sampaikan salamku pada Pak Jhohan dan putranya, Bayu. Sayang sekali dipertemuan ini tidak bisa bertemu dengan mereka." laki-laki paruh baya yang berasal dari Negeri Jiran itu membalas jabat tangan Wahyu diiringi dengan senyuman.
"Baik, Tuan. Nanti akan Saya sampaikan pada Pak Jhohan dan juga Bayu." ucap Wahyu juga tersenyum.
Setelah klien nya itu pergi, Wahyu pun kembali duduk di tempatnya semula untuk menghabiskan makanan nya. Sembari mengunyah makanannya, Wahyu mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafe itu. Ingatnya tertuju pada saat dia mengajak Naura ke cafe itu. Saat itu Naura bersikap manja sekali padanya, tak ingin makan jika bukan Wahyu yang menyuapi nya. Mengingat hal itu tanpa sadar Wahyu menyunggingkan senyum. Sangat indah, yah masa-masa bersama Naura sangatlah indah meski tidak ada cinta dihati Wahyu saat itu.
Andai waktu dapat di putar, Wahyu ingin tetap ada Naura di sampingnya. Mencoba mencintai tanpa harus ada kepalsuan.
Menyesal. Hanya kata itu yang dapat Wahyu ucapkan.
Renungan tiga hati di kota yang berbeda saling menelaah tentang perasaan mereka masing-masing.
__ADS_1
Ada hati yang berharap, namun satu hati lagi mencoba memantapkan hatinya agar tak salah melangkah dikemudian hari. Sementara hati yang lain merenung didalam lingkaran penyesalan.