Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 104. ORIGINAL


__ADS_3

"Kenapa Kak Bayu ngeliatin Aku terus? Makan gih, gak bakalan kenyang kalau cuma lihatin Aku terus, kasihan tuh makanan dari tadi di anggurin," Naura memutar bola matanya, malas. Merasa risih karena sejak awal memasuki restauran Bayu terus menatapnya. "Katanya tadi lapar."


"Hebat ya, cuma dengan ngelihatin kamu rasa lapar Aku jadi hilang." ucap Bayu sembari tersenyum.


"Baguslah, jadi nanti Aku gak perlu masak. Lihatin Aku aja terus, dan beras gak bakalan habis." ujar Naura dengan kesal.


"Hem, usulan yang bagus. Dengan begitu tenaga kamu gak akan habis hanya untuk memasak dan pekerjaan rumah lainnya, jadi kamu akan tetap strong melayani Aku saja." setelah mengatakan itu Bayu menutup wajahnya sendiri karena merasa malu.


"Kak Bayu, ngeselin banget sih!" tukas Naura mulai meninggikan suaranya.


"Biarin ngeselin, yang penting cinta Aku ke kamu itu gak KW, gak abal-abal, gak modus dan gak palsu, dan yang terpenting cinta Bayu ke Naura itu ORIGINAL." ucap Bayu dengan penuh percaya diri.


Naura pun terkekeh mendengarnya, lalu meletakkan sendoknya di piring kemudian mendorong piringnya yang masih terdapat makanan setengah porsi, menjauh dari hadapannya.


"Kok makanannya tiba-tiba jadi gak enak ya, bikin enek." kata Naura kemudian minum lalu mengambil tisu mengelap bibirnya.


"Ah, masa sih?" Bayu pun mengambil makanan sisa Naura lalu mencobanya.


"Enak kok rasanya," ujar Bayu sambil mengunyah makanannya.


"Ah bermasalah nih lidahnya Kak Bayu, coba sekali lagi." Bayu pun kembali mencoba makanan sisa Naura.


"Beneran kok ini rasanya enak, nih ya Aku coba lagi tuh enak kok." Bayu pun terus mencobanya siap demi siap hingga makanan bekas Naura itu habis tak bersisa oleh Bayu.


"Tuh enak kan, Aku aja sampai habis makannya," kata Bayu lalu bersendawa kecil. "Alhamdulillah." ujarnya diiringi dengan senyum canggung.


"Alhamdulillah Akhirnya Kak Bayu makan juga." ucap Naura, lalu terkekeh.

__ADS_1


Bayu yang baru selesai minum, meletakkan gelasnya dengan gerakan pelan, lalu menatap Naura dengan lekat.


"Wah Aku dikerjain nih kayaknya."


"Ya habisnya dari tadi Kak Bayu gak makan, malah ngeliatin Aku terus, gimana mau kenyang coba? Enak kan makanannya." kekeh Naura.


Bayu pun terdiam sembari menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Melihat Naura tersenyum lepas turut membuatnya senang, semoga dia selalu bisa membuat Naura tersenyum.


"Ya Allah, semoga senyum itu tidak akan pernah pudar selama Naura berada di sisiku. Jangan buat air matanya tumpah lagi, jadikanlah Aku sumber kebahagiaan nya yang akan selalu memberinya kasih sayang, menyayangi, menjaganya dan mencintainya sepenuh hati. Pisahkan kami hanya dalam kematian, karena Aku tidak akan sanggup bila harus berpisah dengannya di dunia." begitulah doa yang selalu diucapkan Bayu dalam hati setiap kali melihat Naura tersenyum.


"Kak," panggil Naura, tatapannya sendu menatap Bayu.


"Ada apa, hei kenapa kok jadi sedih gitu sih?" Bayu cemas melihat perubahan raut wajah Naura.


"Ada yang mau Aku ceritakan," kata Naura, dan kini hatinya kembali gelisah seperti tadi malam saat dia memimpikan Bayu.


Meski awalnya ragu, Naura pun menceritakan soal mimpinya semalam pada Bayu. Dan Bayu mendengarkannya dengan seksama sembari memanggut manggutkan kepalanya.


"Itu hanya mimpi, Naura," ucap Bayu lalu meraih tangan Naura kedalam genggamannya. "Itu hanya bunga tidur, gak usah terlalu difikirkan." sambungnya diiringi dengan senyuman yang membuat kegelisahan Naura sedikit berkurang.


"Apa kamu tau, apa yang selalu Aku minta didalam do'a ku?" Naura menggelengkan kepalanya.


"Aku selalu meminta pada-NYA, jika suatu hari nanti kita memang harus terpisah, Aku ingin hanya kematian lah yang memisahkan kita. Dan jika bisa memilih, Aku lebih memilih untuk lebih dulu pergi, Naura. Karena Aku tidak akan sanggup bila harus kehilangan kamu." kata Bayu masih dengan senyuman nya.


Mendengar ucapan calon suaminya itu, perlahan Naura menarik tangannya dari genggaman Bayu. Naura menceritakan mimpinya berharap Bayu akan memberikan solusi untuk menghilangkan kegelisahan nya, namun yang Naura dapat hanyalah sepenggal isi do'a Bayu yang membuatnya semakin gelisah.


Setiap dua insan yang menjalin hubungan, pasti kelak akan mengalami perpisahan. Entah masih di dunia ataupun dalam bentuk kematian.

__ADS_1


Karena pada dasarnya setiap kali ada pertemuan pasti ada perpisahan. Sama halnya dengan Naura dan Wahyu yang dipertemukan dengan sebuah perjodohan lalu terpisahkan karena sebuah fakta yang berkaitan dengan masa lalu Wahyu sendiri.


Begitupun dengan Bayu yang dipertemukan dengan Naura dalam bentuk ketidaksengajaan. Namun, Bayu sendiri meminta dirinya dipisahkan dengan Naura dalam bentuk kematian yang mungkin saja kejadiannya tidak akan seperti yang dimintanya.


Melihat Naura yang sepertinya tak nyaman dengan ucapannya barusan, Bayu pun mengajak calon istrinya itu untuk kembali ke kantor.


Sesampainya di pelataran kantor, Naura turun begitu saja dari mobil tanpa menunggu Bayu yang membukakan nya seperti biasa. Dan tanpa menunggu Bayu juga turun dari mobil, Naura dengan langkah cepat masuk kedalam kantor.


Sepanjang langkah menuju ruangannya, mata Naura mulai berkaca-kaca dan tak terasa setetes air matanya lolos begitu saja.


Sementara Bayu yang baru saja turun dari mobil dengan berlari kecil menyusul Naura kedalam.


Beruntung Bayu dapat mengejar Naura dan bersamaan masuk kedalam lift menuju ruangannya di lantai atas.


Dan Naura seketika membelakangi Bayu ketika melihatnya ikut masuk kedalam lift.


"Naura, Aku minta maaf kalau kata-kata ku tadi membuatmu sedih." Naura masih membelakangi Bayu. Dia tidak ingin Bayu melihatnya menangis, meskipun tangisannya karena ulah calon suaminya itu sendiri.


"Naura, jangan membelakangi Aku seperti ini, ayo sini lihat Aku, Aku minta maaf kalau Aku salah." namun Naura masih enggan membalikkan tubuhnya.


Beruntung didalam lift itu hanya ada mereka berdua, jika tidak Naura pasti akan merasa malu dengan keadaannya sekarang. Menangis karena perkataan Bayu yang terdengar sepele namun begitu menusuk di relung hatinya.


Dia sudah pernah mengalami perpisahan, dan Naura tidak ingin lagi perpisahan itu menghampirinya lagi meski dengan kata ajal yang memang sudah di takdirnya untuk setiap makhluk yang bernyawa. Egois kah dirinya jika meminta hal demikian?


Terdengar dentingan beriringan dengan pintu lift yang terbuka, dengan langkah cepat Naura melangkah keluar dari lift itu sembari menyeka air matanya yang entah kenapa malah semakin deras, dan bertepatan dengan itu ternyata Wahyu berada di depan lift itu menunggu pintu lift terbuka dan Wahyu tersentak kaget melihat Naura keluar dari dalam lift dalam keadaan menangis bersama Bayu yang terlihat sedang membujuk Naura.


"Ada apa, kenapa Naura menangis, apa dia menyakitinya?"

__ADS_1


Sekelumit tanya muncul di benak Wahyu melihat mantan istrinya itu menangis, terlebih Bayu yang sepertinya sedang berusaha membujuk membuat Wahyu berpikir hal demikian.


__ADS_2