Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 122. PERISTIWA LIMA TAHUN LALU


__ADS_3

"Sekarang waktunya tidur," ucap Bayu menggendong Rayan menuju kamar putranya itu.


"Rayan kan udah besar, jadi Rayan harus tidur dikamar Rayan sendiri ya." Bujuk Bayu pada putranya itu.


"Gak mau, malam ini Rayan mau bobok sama Papa sama Mama juga. Boleh ya, Ma?" Rayan menatap mamanya penuh harap.


"Iya boleh, Rayan boleh bobok sama Mama sama Papa." jawab Naura tersenyum, membuat Rayan yang berada di gendongan Bayu bersorak senang.


"Yeayy bobok sama Papa sama Mama," Rayan bersorak sembari bertepuk tangan.


"Pa, turunin Rayan." Rayan segera berlari menuju kamar Papa Mama nya.


"Sayang, kok di bolehin sih?" Bayu menatap istrinya dengan kesa. "Jadinya kan kita gak bisa...


"Gak bisa apa, huh?" Naura berkacak pinggang sembari menatap tajam suaminya itu.


"Aku capek ya, jadi biarin aja Rayan tidur sama kita, biar Kak Bayu gak macam-macam." ucap Naura lalu melangkah menyusul putranya ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Bayu terus mendengus kesal melihat putranya yang langsung mengambil posisi di tengah-tengah ranjang yang artinya dia dan Naura tidak akan bisa saling memeluk malam ini.


Rayan terus berceloteh hingga larut malam dan dengan sabarnya Naura meladeni dan menjawab semua pertanyaan putranya itu. Namun, hal itu membuat Bayu semakin kesal karena putranya itu sudah mengganggu ketenangannya malam ini.


Hingga, jam dinding di kamar itu menunjukkan sudah pukul 1 dini hari barulah Rayan mulai tertidur.


"Sayang, aku pindahin Rayan ke kamarnya ya?" Bayu menatap Naura dengan tersenyum senyum, sesekali dia melirik putranya yang sudah tertidur pulas.


"Ngapain di pindahin, biarin aja disini." ucap Naura lalu menguap, rasa kantuk juga mulai menyerangnya.


"Tapi...


" Udah Kak, gak ada tapi tapian, aku udah ngantuk, Kak Bayu juga tidur gih. Ingat, besok kita mau ke rumah Kak Rania." ucap Naura lalu berbaring memeluk putranya.


Bayu hanya bisa mendengus kesal melihat ibu dan anak itu tidur dengan berpelukan, sementara dirinya diabaikan.


...******...


Siang itu Andi tengah makan siang bersama istri dan anaknya di cafe, tiba-tiba ponselnya berdering.


Andi mengernyitkan keningnya melihat nama Wahyu di layar ponselnya, Andi pun mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Ya halo Wahyu, ada apa menelpon? Aku rasa sudah tidak ada meeting." ucap Andi terkekeh.


"Andi, tolong aku. Mobilku rem nya blong, sekarang aku mengarahkan mobilku ke jalan tol." suara Wahyu terdengar sangat panik, membuat Andi seketika berdiri dari tempat duduknya.


"Apa? Baik, aku akan segera kesana. Wahyu kau jangan panik, aku akan segera datang, jangan pergi terlalu jauh, berputar-putar saja disekitar sana. " Andi pun memutus sambungan teleponnya.


"Mas, ada apa?" tanya Rania, yang juga ikut berdiri.


"Wahyu, rem mobilnya blong, aku harus kesana menolongnya."


"Tapi Mas itu terlalu berbahaya, Mas jangan pergi."


"Rania, kau jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja, nanti kau pulang duluan saja bersama Melani naik Taksi." Andi pun mengecup kening istrinya kemudian segera pergi dari sana, tak menghiraukan lagi panggilan Rania yang melarangnya pergi.


Hampir 30 menit berkendara, Andi pun menemukan mobil Wahyu. Andi segera menelpon Wahyu untuk mengarahkan mobilnya ke tempat yang sepi.


Saat berada di jalanan sepi, Andi menambah kecepatan mobilnya untuk mendahului mobil Wahyu. Setelah memastikan jalanan benar-benar sepi dan tidak ada pengendara lain, Andi mengarahkan mobilnya tepat didepan mobil Wahyu untuk menahan mobil Wahyu dengan mobilnya.


Andi mengerem mobilnya agar mobil Wahyu berhenti, namun usahanya itu sia-sia dan mobil Andi malah terdorong.


Andi masih terus berusaha mengerem mobilnya agar mobil Wahyu berhenti, namun hingga mendekati persimpangan mobil Wahyu belum juga berhenti.


Andi dan Wahyu akhirnya bisa bernafas lega, namun musibah lainnya tak bisa dielakkan.


Andi tidak menyadari dari arah kiri terlihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi, dan tanpa sempat Andi menghindar truk itu menghantam mobilnya dan seketika mobil Andi terguling di jalanan. Mobil Andi mengalami kerusakan parah, begitupun dengan Andi didalam mobil yang sudah bersimbah darah di sekujur tubuhnya.


............


Di rumah sakit, Rania tak hentinya menangis melihat keadaan suaminya yang penuh luka di sekujur tubuhnya.


"Aku sudah melarang mu pergi, Mas," Rania terisak dengan terus menggenggam tangan suaminya.


"Tapi Mas tidak mau mendengarkan aku." ucapnya tersedu-sedu.


"Su-dah Rania ja-ngan me-nangis." ucap Andi dengan terbata, tubuhnya terasa begitu lemas.


"Rania, ka-lau ak-u ti-dak se-la-mat, to-long do-nor-kan jan-tung-ku un-tuk Pak Ba-yu." setelah mengatakan itu perlahan Andi menutup matanya seiring suara beep monitor yang berbunyi satu arah.


Andi pun telah tiada.

__ADS_1


Dan semenjak kejadian itu, Rania terus mengamuk menyerang Wahyu karena sudah menyebabkan suaminya tiada. Bahkan Rania sampai mendatangi rumah Wahyu terus menyerangnya ingin membunuh Wahyu.


"Pembunuh! Kau pembunuh kau sudah membunuh suamiku, kenapa tidak kau saja yang celaka, kenapa tidak kau saja yang mati!"


Kata-kata itu selalu di ucapkan Rania setiap kali mendatangi Wahyu, bahkan Rania tak segan membawa senjata tajam ingin membunuh Wahyu, hingga sampai Bayu berangsur pulih setelah mendapat donor jantung yang berasal dari jantung Andi, dan Bayu pun terpaksa melarikan Wahyu ke luar Negeri.


...*******...


Rania tersenyum kecut setelah menceritakan peristiwa lima tahun lalu pada Naura dan Bayu.


"Andai saja waktu itu pak Bayu tidak membawanya kabur ke luar Negeri, pasti aku sudah membunuhnya." ucap Rania, tatapannya tertuju pada Melani dan Rayan yang kini tengah bermain tak jauh dari ruang tamu.


"Dia ingin bertanggung jawab, dengan menjadi ayah pengganti untuk Melani." ucap Bayu yang mengikuti arah pandang Rania.


"Aku hanya ingin nyawanya." tukas Rania, pelan namun penuh penekan.


Bayu dan Naura pun saling pandang. Entah bagaimana membujuk Rania agar mau memafkan Wahyu yang ingin bertanggung jawab dengan menggantikan sosok Andi untuk Melani.


.


.


.


RAYAN



MELANI



RANIA



ANDI


__ADS_1


__ADS_2