Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 88. PEMANDANGAN MENYESAKKAN DADA


__ADS_3

Keesokan harinya Wahyu kembali bekerja seperti biasanya. Namun, hari ini saat dia tiba suasana di kantor nampak berbeda dari biasanya.


Biasanya, beberapa karyawan lainnya akan menyapanya dengan ramah, namun hari ini semua karyawan nampak sedang berbisik-bisik saat dia tiba di kantor.


Namun, Wahyu tak ingin memperdulikan nya, sepertinya para karyawan itu sudah tau apa yang terjadi padanya selama sepuluh hari ini. Wahyu pun terus melangkah menuju ruangannya dan berusaha untuk tidak mengambil hati tingkah para karyawan yang mungkin saja sedang membicarakan nya.


Baru saja Wahyu menduduki kursi kerjanya, terdengar suara ketukan dibalik pintu ruangannya.


"Masuk," perintah Wahyu, pintu ruangannya itu pun terbuka dan ternyata itu adalah Andi, sekertaris nya Bayu.


"Oh Andi, ada apa?" tanya Wahyu sembari membuka laptopnya.


"Kamu dipanggil Bayu ke ruangannya." jawab pertanyaan Andi, dan Wahyu pun menutup laptopnya kembali.


"Baiklah, nanti Aku akan kesana." kata Wahyu lalu memasang kembali jas nya yang sebelumnya dia lepas dan meletakkannya di atas meja kerjanya.


"Oke, kalau gitu Aku duluan." ujar Andi, lalu berbalik keluar dari ruangan Wahyu.


Beberapa saat kemudian kini Wahyu sudah berada di depan ruangan Bayu. Perlahan Wahyu mengetuk pintu ruangan itu. Setelah mendapat perintah menyuruhnya masuk dalam dari pemilik ruangan, Wahyu pun membuka pintu ruangan itu lalu masuk.


Seketika mata Wahyu membulat dan berdiri mematung di tempatnya, melihat pemandangan di depannya.


Ternyata bukan hanya Bayu yang ada diruangan itu, melainkan ada seorang gadis yang Wahyu sangat kenal.


"Mau Aku suapin lagi?" tanya Bayu, dan Naura pun menggelengkan kepalanya.


"Udah kenyang, Kak." jawab Naura.


"Oke, kalau gitu kamu minum dulu," ujar Bayu lalu mengambil gelas yang berisi air putih lalu membantu Naura untuk minum.


"Eh, tunggu dulu," cegah Bayu saat Naura akan beranjak dari tempat duduknya.


"Sini aku lap dulu bibirnya, tuh ada bekas makanan," Bayu pun mengambil tisu lalu mengusap sudut bibir Naura yang terdapat sisa makanan.


"Nah, udah bersih." ucap Bayu lagi, dan Naura pun segera beranjak dari tempat duduknya kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang berada di ruangan itu.


"Eh Wahyu, kamu udah masuk rupanya. Maaf ya Aku sampai gak sadar karena saking sibuknya." ucap Bayu lalu terkekeh sendiri.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa, ada apa kamu memanggilku?" tanya Wahyu, berusaha untuk terlihat tenang seolah tak melihat apapun tadi.


"Oh iya Aku hampir saja lupa," Bayu beranjak dari sofa kemudian duduk di kursi putar nya.


"Aku ingin meminta laporan keuangan selama Aku berada di Palembang." ucap Bayu sembari membuka buka beberapa map yang berada di atas mejanya.


"Baiklah, tunggu sebentar Aku akan ambil berkas laporannya di ruangan ku." ujar Wahyu lalu keluar dari ruangan temannya itu.


Tak lama kemudian Wahyu pun kembali ke ruangan Bayu dengan membawa berkas laporan keuangan yang diminta oleh temannya itu.


Namun, lagi-lagi Wahyu dibuat mematung dengan pemandangan yang dilihatnya kini.


Di sofa panjang yang ada diruang itu, Naura dan Bayu duduk berdampingan dengan Naura yang menyandarkan kepalanya di bahu Bayu sembari memejamkan matanya.


"Letakan saja berkas laporannya di meja kerja Aku, terus kamu balik aja ke ruangan kamu. Nanti aja kita bahas nya setelah Naura sudah bangun, Aku gak mau tidur Naura terganggu karena pembahasan kita." ucap Bayu yang membuat Wahyu tersadar dari lamunannya.


"I-iya," jawab Wahyu tergagap lalu melangkah pelan menuju meja kerja Bayu kemudian meletakkan berkas laporan keuangan yang diminta oleh temannya itu.


"Kalau gitu Aku permisi." ucapnya kemudian dengan langkah cepat keluar dari ruangan Bayu, tak tahan melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya itu.


Apakah laki-laki yang dimaksud oleh Noval sebagi penggantian dirinya itu adalah Bayu?


Di luar ruangan itu, sejenak Wahyu bersandar pada dinding lalu memegangi dadanya yang terasa bergemuruh. Oh Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini?


Beberapa saat kemudian Wahyu pun mulai mengatur nafasnya yang terasa tercekat, lalu dengan langkah gontai berlalu dari hadapan ruangan Bayu menuju ruangannya sendiri.


Sementara didalam ruangan Bayu, setelah kepergian Wahyu.


"Hei, ayo bangun dia sudah pergi," Bayu menepuk-nepuk pipi Naura.


Namun, beberapa kali menepuk-nepuk pipi Naura, gadis kecilnya itu tak juga bangun sehingga membuat Bayu mengerutkan keningnya


"Naura, ya ampun Kamu tidur beneran." dengan gerakan pelan Bayu mengangkat kepala Naura dari bahunya kemudian meletakkannya di bantal sofa.


"Padahal cuma sebentar loh, kok tidur beneran sih." Bayu mencolek hidung Naura, namun si pemilik hidung sama sekali tidak terganggu dengan ulah laki-laki yang kini duduk bersimpuh di lantai sambil menatapnya yang kini berbaring di sofa.


Puas menatap wajah lelap Naura yang terlihat menggemaskan, Bayu pun perlahan berdiri kemudian melepaskan jas nya lalu menutupi tubuh Naura dengan jasnya itu. Bayu pun kembali ke meja kerjanya lalu membuka berkas laporan keuangan yang tadi dibawakan oleh Wahyu.

__ADS_1


"Maaf Aku melakukan ini padamu, entah kenapa Aku juga merasa kesal atas apa yang sudah Kau lakukan padanya." gumam Bayu mengalihkan tatapannya dari dokumen itu pada Naura yang terlelap di sofa.


"Jangan salahkan Aku jika suatu saat nanti Aku mengambil posisimu yang pernah ada, Wahyu." lirih nya kemudian menutup kembali dokumen itu, lalu membawanya keluar dari ruangannya menuju ruangan Wahyu.


"Kenapa Kau tak menikahi Diandra, bukankah kalian itu saling mencintai? Sayang loh hubungan tujuan tahun berakhir dalam status yang tidak jelas." ucap Bayu pelan saat masuk ke ruangan Wahyu tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.


"Dia sudah akan menikah, dan pasti tau hal itu." jawab Wahyu dengan lirih.


"Yah, Aku memang tau, bahkan Aku lebih banyak tau dari pada kau." ucap Bayu sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Wahyu.


"Apa Kau tau?" Bayu memajukan kepalanya kehadapan Wahyu. "Diandra gagal nikah karena ketahuan oleh calon suaminya, perusak rumah tangga orang." ujar Bayu secara terang-terangan.


Wahyu sedikit terkejut mendengarnya, namun dia berusaha untuk terlihat tetap tenang.


"Apa perduli ku, dia sendiri yang memtusukan hubungan kami." jawab Wahyu spontan.


"Owh oke baiklah. Jadi, sekarang Kau dan Diandra akan hidup melajang, begitu?"


"Apa ada yang perlu Aku jelaskan dari dokumen itu?" tanya Wahyu mengalihkan pembicaraan.


"Em, tidak ada. Aku kesini sebenarnya ingin memujimu. Perusahaan mengalami kemajuan pesat selama Kau yang mengelolanya. Dan Aku mengucapkan terima kasih banyak atas kerja keras mu untuk perusahaan ini." ujar Bayu menjelaskan maksud sebenarnya mendatangi ruangan Wahyu.


"Itu juga berkata bantuan Andi, kalau tidak ada dia, mana mungkin Aku bisa mengatasi perusahaan sebesar ini sendirian." ucap Wahyu merendahkan diri.


"Hem. Karena sejak awal kau memang adalah karyawan terbaik di perusahaan ini. Aku mempercayakan tugas mengelola perusahaan ini padamu, karena mungkin dalam waktu dekat ini Aku dan Naura akan kembali ke Palembang untuk menyelesaikan pekerjaan kami yang tertunda disana." ucap Bayu, dan membuat hati Wahyu mencelos mendengarnya.


"Terima kasih atas kepercayaan nya, Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk perusahaan ini, Aku tidak akan mengecewakan Pak Jhohan." ucap Wahyu mantap dengan bahasa formalnya.


.


.


.


Halo akak² readers, mampir ke novel teman othor yuk sambil nunggu up selanjutnya.


__ADS_1


__ADS_2