
"Assalamu'alaikum, Bu, Pak." ucap Naura sembari mengetuk pintu. Sementara Bayu sedang mengeluarkan koper Naura dari dalam bagasi mobilnya.
Tak lama pintu rumah itupun terbuka beriringan dengan senyuman dua paruh baya melihat putri mereka kini sudah kembali setelah satu bulan tinggal di kota lain.
"Masyallah, Naura, pulang kok gak ngabarin, Nak?" tanya bu Lastri lalu menarik tubuh putrinya itu masuk kedalam pelukannya.
"Bu, Pak." ucap Bayu kini ikut bergabung dengan keluarga Naura.
"Gimana, Nak, kerjaannya lancar kan?" tanya pak Agung pada Bayu.
"Alhamdulillah lancar, Pak." jawab Bayu, lalu tersenyum menatap Naura.
"Dan itu semua juga berkat putri Bapak yang hebat ini." ucapnya, tangannya respon terulur mengusap puncak kepala Naura, namun dengan segera menarik tangannya saat terjadi tersadar dengan situasinya saat ini.
Sementara pak Agung dan bu Lastri saling pandang lalu terkekeh dengan tingkah Bayu itu.
"Maaf Pak, Bu." ucap Bayu merasa tidak enak pada dua paruh baya itu karena sudah lancang menyentuh putri mereka walau hanya di puncak kepala.
"Gak apa-apa, Nak Bayu. Anggap saja Naura itu seperti adikmu sendiri sama seperti Lusi. Kami pun sudah menganggap Lusi seperti anak kami sendiri. Bapak dan Ibu sangat senang Naura bisa berteman dengan anak sebaik Lusi, Lusi itu sangat baik dan begitu menyayangi Naura." ujar pak Agung dan di angguki oleh bu Lastri.
Bayu menanggapi ucapan pak Agung dengan tersenyum. Namun, dalam hatinya tak menerima kata 'adik' yang diucapkan pak Agung. Bukan itu yang diinginkan Bayu meski kenyataannya Naura memang lebih pantas menjadi adiknya. Bayu berharap suatu saat nanti Naura akan menerima perasaannya. Bayu akan terus berusaha, meski banyak rintangan yang akan menghadang termasuk itu adalah Wahyu temannya, Bayu tak akan gentar.
"Ayo masuk, kebetulan Ibu habis masak. Ayo nak Bayu, ikut makan dulu ya." ajak bu Lastri. Dan Bayu pun mengangguk antusias dengan senyum sumringah nya. Tentu Bayu tak akan menolak ajakan bu Lastri untuk makan bersama, kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.
Di ruang makan, bu Lastri dan pak Agung duduk bersebelahan. Sementara Naura dan Bayu duduk berhadapan. Di posisinya duduk berhadapan dengan Bayu membuat Naura sedikit gugup. Entah karena apa? Mungkin saja karena laki-laki itu pernah mengatakan perasaannya tempo hari. Jika saja Bayu tak pernah mengungkapkan perasaannya mungkin Naura akan bisa saja duduk berhadapan dengannya saat ini.
__ADS_1
"Bu, Pak, kenapa gak ngasih tau Aku kalau Kak Noval mau nikah?" tanya Naura sembari menyendok nasi ke piringnya.
Mendengar pertanyaan Naura, sontak pak Agung dan bu Lastri langsung saling pandang lalu bersamaan menatap Naura.
"Ya Allah, Nak. Maaf, Ibu sama Bapak lupa." jawab bu Lastri tersenyum canggung.
"Kok lupa sih, Bu. Emangnya Aku gak penting ya buat tau." ujar Naura, mimik wajahnya menunjukkan dia sedang merajuk.
Pak Agung dan bu Lastri pun terdiam tak menanggapi ucapan putrinya lagi.
"Pokoknya nanti Aku harus ketemu sama Kak Noval! Kak Noval harus kasih penjelasan kenapa gak kasih tau Aku." ujar Naura di sela-sela mengunyah makanannya.
"Kalau makan jangan sambil ngomong, liat tuh nasi nya sampai nongol gitu." Bayu terkekeh melihat beberapa biji nasi menyembul di bibir Naura.
"Kalau mau ketemu sama Kakak Kamu nanti biar Aku yang antar, sekarang makan aja dulu jangan ngomel." ucap Bayu lagi, dan kali ini pak Agung dan bu Lastri pun tidak bisa menahan tawa nya lagi.
"Ibu, Bapak..." Naura merasa kesal karena ditertawakan.
Melihat mimik wajah Naura yang semakin kesal, pak Agung, bu Lastri dan Bayu pun diam. Ruang makan itu seketika menjadi hening karena tatapan Naura yang mengintimidasi ketiga orang yang menertawai nya itu.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan Naura pun berpamitan dengan ibu dan bapaknya untuk pergi bertemu Noval, dan Naura di antarkan oleh Bayu seperti janjinya sebelumnya.
Sementara di tempat lain, Diandra begitu tegang saat Noval mengajaknya ke sebuah cafe dan memberitahunya akan bertemu dengan Naura.
Posisinya duduknya terasa tak nyaman, kedua telapak tangannya terasa dingin dan keningnya pun mulai basah dengan rintik-rintik peluh nya.
__ADS_1
"Hei, kenapa tegang gitu?" Noval meraih tangan Diandra dan menggenggam nya. "Ini bukan pertama kalinya loh Kamu bakal ketemu sama Naura, lupa ya kalau Naura dulunya mahasiswi Kamu." ujar Noval lalu tersenyum pada calon istrinya itu.
"Gak apa-apa." jawab Diandra sedikit menggelengkan kepalanya. Ini memang bukan yang pertama kalinya dia akan bertemu Naura, tapi ini adalah pertempuran pertamanya sejak status Naura yang menjadi janda. Entah apa yang akan dikatakan oleh Naura nanti padanya, seharusnya dia menikah dengan Wahyu karena Naura sudah menceraikan Wahyu untuknya.
"Ah, sudahlah. Ini semua juga salah Wahyu sendiri yang selalu menggantung harapanku, tidak pernah memberikan kepastian yang jelas." ujar Diandra dalam hati. Berusaha merilekskan dirinya yang sedang tegang, Diandra berpikir ini semua bukan murni kesalahannya. Menikah dengan Noval juga bukan termasuk kesalahannya, semuanya karena Wahyu yang tidak pernah memberikan kejelasan tentang hubungan mereka.
Salahkan Diandra ingin mencari kebahagiaan nya sendiri?
.
.
.
Hai kakak² readers 🤗🤗🤗 othor bawa novel teman nih, mampir yuk sambil nunggu up selanjutnya.
Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya yang tak lain dengan dosennya sendiri yang sikapnya begitu dingin namun siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.
Bagaimanakah sikap mereka di kampus?
Akankah mereka saling mencintai?
Apakah sang Dosen akan menerima jika dia tau jati diri gadis itu yang sebenarnya?
__ADS_1