
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ujar Wahyu sembari meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku.
"Sekarang waktunya makan." setelah membereskan tumpukan berkas diatas mejanya, Wahyu bergegas keluar dari ruangannya menuju lift untuk ke lantai bawah.
Namun, saat sampai didepan lift Wahyu harus menunggu sembari memperhatikan angka di lift itu yang bergerak naik.
Dan tak lama kemudian pintu lift itu terbuka beriringan dengan Naura yang keluar dalam lift, namun Wahyu tersentak kaget melihat Naura yang menangis dan Bayu yang seperti berusaha membujuk.
"Naura, tunggu." ucap Bayu merupakan berusaha mengejar Naura.
"Ada apa, kenapa Naura menangis, apa dia menyakitinya?"
Sekelumit tanya muncul di benak Wahyu melihat mantan istrinya itu menangis, terlebih Bayu yang sepertinya sedang berusaha membujuk membuat Wahyu berpikir hal demikian.
Wahyu menatap langkah Naura dan Bayu yang perlahan semakin menjauh sebelum akhirnya dia masuk ke dalam lift.
Di dalam lift perasaan Wahyu mulai berkecamuk, dia terus mengingat saat tadi melihat Naura menangis.
"Apa mereka bertengkar, apa Bayu berbuat sesuatu yang membuat Naura menangis, tapi apa?" Wahyu terus bergumam tanya hingga pintu lift yang membawanya ke lantai dasar itu, terbuka.
Sementara di ruangan Bayu, Naura masih terus membelakangi Bayu tak ingin laki-laki itu melihatnya menangis, namun Bayu terus berusaha agar Naura mau melihatnya.
Ada penyesalan di relung hati Bayu telah berkata demikian yang ternyata membuat gadis kecilnya itu bersedih.
"Naura Aku minta maaf, Aku janji gak ngomong kayak gitu lagi, sekarang ayo lihat Aku, Aku mohon jangan membelakangiku seperti ini." namun Naura masih setia dengan posisinya, membelakangi Bayu.
Merasa tak tahan diabaikan seperti ini, Bayu pun menarik lengan Naura agar menoleh padanya.
Dan sama seperti Wahyu yang sebelumnya tersentak kaget melihat Naura menangis, begitupun dengan Bayu yang benar-benar tidak menyangka karena ucapannya itu sampai membuat Naura nya menangis.
"Hei jangan menangis?" Bayu hendak menyeka air mata Naura, namun sebelum tangan Bayu sampai Naura lebih dulu menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan Bayu, Naura memeluk tubuh Bayu dengan erat untuk yang pertama kalinya.
__ADS_1
Sejenak Bayu hening, dia terbuai akan Naura yang tiba-tiba memeluk tubuhnya untuk yang pertama kalinya, hingga sampai Bayu tersadar akan Naura yang sedang menangis.
Kedua tangan Bayu terangkat hendak menjauhkan tubuh Naura dari tubuhnya agar bisa mengusap air mata yang mengucur karena dirinya, namun Naura seperti enggan melepaskan dan semakin erat memeluk tubuh Bayu, hingga Bayu sendiri tak punya pilihan lain selain membalas pelukan Naura sembari mengusap lembut puncak kepala gadis kecilnya itu.
"Aku mohon jangan menangis, maafkan Aku sudah membuatmu menangis dan Aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi." Bayu terus menggumamkan kata maaf hingga perlahan Naura mulai melonggarkan pelukannya.
"Sudah ya, jangan menangis lagi," Bayu pun akhirnya bisa mengusap air mata itu. Namun semakin dia mengusapnya semakin air mata itu terus mengalir membuat Bayu semakin merasa bersalah.
"Naura, udah dong jangan nangis lagi kan Aku udah minta maaf, kalau terus nangis begini Aku jadi makin merasa bersalah."
Naura terkekeh, namun air matanya masih saja terus mengalir.
"Kak Bayu janji ya, jangan bicara seperti itu lagi, Aku gak suka dengernya, ucapan itu adalah doa, Kak" ucap Naura dengan sesenggukan.
"Iya Aku janji gak akan bicara seperti itu lagi, pokoknya Aku gak akan melakukan sesuatu yang akan membuat kamu menangis." dengan penuh kasih, Bayu mengecup kedua mata Naura yang masih berurai air mata hingga Bayu tersadar akan apa yang dilakukannya itu.
Bayu pun menjauhkan bibirnya dari mata Naura. "Maaf, Aku gak bermaksud...
"Kak Bayu apaan sih, main cium-cium aja." dibalik tubuh Bayu Naura tersenyum, entah kenapa malam dirinya yang merasa malu.
Wahyu pun tersenyum, namun dalam hati dia merutuki apa yang dilakukannya barusan.
"Ya udah makanya jangan nangis lagi, kalau masih nangis nanti bukan hanya mata kamu yang Aku cium, mau emangnya?"
Mendengar ucapan Bayu seperti itu dengan cepat Naura mengurai pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari Bayu.
"Udah ah Aku mau pulang aja," kata Naura lalu mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Loh kok pulang sih, itu kerjaan kamu belum selesai, mau emangnya kalau gajinya di potong, huh?" ucap Bayu menunjuk ke arah meja Naura sambil menarik turunkan alisnya.
"Pecat aja sekalian, masih banyak kok perusahaan lain yang mau terima Aku kerja." ujar Naura dengan sinis.
__ADS_1
"Mana ada perusahaan yang mau terima kamu, kalau perusahaan ini blacklist kamu."
"Ah Kak Bayu ngeselin, udah ah pokoknya Aku mau pulang!" Naura beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil tas nya kemudian melangkah menuju pintu.
"Ya pulang aja sana kalau mau pulang." Bayu menyandarkan tubuhnya di dinding sambil tersenyum senyum melihat Naura yang berjalan ke arah pintu.
"Loh kok pintunya di kunci sih." Naura kaget karena pintu ruangan itu tiba-tiba terkunci, sejak kapan. Sebelumnya pintu ruangannya ini tidak pernah terkunci.
"Katanya mau pulang, kenapa masih berdiri di situ, berubah pikiran ya?" ucap Bayu dengan sedikit berteriak.
Naura pun menoleh, melihat Bayu yang tersenyum Naura pun mempunyai firasat jika pintu ruangannya itu memang sengaja di kunci.
Sebelumnya, saat Bayu menyusul Naura masuk ke ruangannya itu, Bayu memang mengunci pintunya agar tidak ada yang masuk dan menganggu karena dia ingin menenangkan Naura yang tengah bersedih.
"Pasti Kak Bayu kan yang kunci pintunya?"
"Kalau iya, emangnya kenapa?" Bayu menyilangkan kedua tangannya didada seolah menantang Naura.
"Buka gak pintunya!" perintah Naura dengan tatapan tajamnya.
"Kalau Aku gak mau, emangnya kenapa, huh?" Bayu membalas tatapan tajam Naura dengan kedipan mata membuat Naura semakin kesal dibuatnya.
"Aku baru tau loh, ternyata Naura itu kalau lagi marah malam terlihat semakin cantik, gak kayak tadi nangis kayak sinchan, hahaha." gelak tawa Bayu menggema di ruangan itu.
"Kak Bayu, diam gak, nyebelin banget sih!" Naura semakin kesal dibuatnya.
"Buka gak pintunya atau kalau engga Aku gedor nih pintunya sambil teriak." ancam Naura.
"Eh jangan, kalau nanti orang-orang di luar mengira Aku ngapa ngapain kamu gimana coba?"
"Biarin, biar Kak Bayu di arak sekalian sama para karyawan sendiri keliling perusahaan terus di cap punya atasan mesum."
__ADS_1
"Di arak keliling perusahaan? Hahaha," Bayu tertawa mendengar ucapan Naura itu yang terdengar lucu di telinganya. "Yang bener itu naik turun perusahaan, bukannya keliling. Perusahaan ini bentuknya memanjang berlantai lantai, bukan bulat sampai harus keliling keliling, ya ampun Naura kamu itu lucu juga rupanya ya, hahaha."