
"Kayak gak asing, tapi siapa ya?" ucap Lusi dalam hati.
"Wow Lusi, kamu bertambah cantik saja ya." ujar Renita, dan Lusi pun mulai mengenali wanita didepannya ini.
"Kak Renita?" Renita tersenyum.
"Lusi, siapa yang datang?" teriak mamanya dari ruang tamu.
"Kak Renita, Ma," jawab Lusi juga dengan berteriak.
"Kak Renita, ayo masuk." ajaknya pada Renita.
"Renita..." pekiknya melihat kedatangan putri dari temannya itu. "Wah, lama gak ketemu makin cantik aja kamu." puji nya membuat Renita tersipu malu.
"Ah tante berlebihan memujinya, biasa aja kok masih sama kayak yang dulu." kekeh Renita.
"Kamu kapan datangnya, terus gimana kerjaan kamu di Amerika? tanya mamanya Lusi.
"Kemarin tante, kerjaan alhamdulillah lancar. Tapi, untuk sekarang Aku mau fokus di Negara sendiri." jawab Renita.
"Maksudnya, gak bakal balik ke Amerika lagi, gitu?" Renita menganggukkan kepalanya.
"Wah, tante ikut senang dengernya. Terus gimana sama keluarga kamu, mereka udah gak marah lagi kan sama kamu?"
"Nah itu dia masalahnya tante, Aku kesini mau minta tolong sama Om Jhohan buat ngomong sama mereka."
"Jadi, mereka masih marah sama kamu?"
"Yah gak tau juga sih Tante, Aku juga belum berani mau ketemu mereka."
"Jadi, maksudnya kamu belum ketemu sama keluarga kamu?" Renita menganggukkan kepalanya.
"Terus kamu tinggal dimana?"
"Di hotel, Tante. Oh ya, Om Jhohan nya ada kan, Tan?"
"Ada kok, tunggu sebentar ya. Lusi, panggilin Papa kamu di kamar." perintah mamanya Lusi pada putrinya itu.
Dan Lusi pun beranjak menuju kamar papa mamanya.
Tak lama kemudian, pak Jhohan pun pergi ke ruang tamu menemui Renita disana, sementara Lusi pergi ke kamar Bayu untuk memberitahu kakak nya itu bahwa ada Renita di luar.
__ADS_1
Namun, saat masuk ke kamar kakaknya itu Lusi sampai menggeleng gelengkan kepalanya karena ternyata kakaknya itu masih juga telepon dengan calon istrinya.
"Ya ampun Kak, gak bosen apa sih telepon terus sampai berjam-jam tiap hari pula." ucap Lusi yang langsung merebahkan tubuhnya disamping kakaknya.
Dan Naura disana tersenyum geli mendengar ucapan temannya itu.
"Naura, kamu udah mandi udah makan apa belum sih, perasaan udah lama banget teleponnya." teriak Lusi, dan semakin membuat Naura disana tertawa geli.
"Eh tenang aja, calon kakak ipar Kamu itu pasti udah wangi, gak kayak kamu mandi mandi aja gak luluran." celetuk Bayu.
"Huuuh, sok tau!" kesal Lusi.
"Kak, udah dulu gih teleponan nya, di luar ada tamu." ucap Lusi.
"Siapa?" Bayu mengerutkan keningnya.
"Kak Renita." jawab Lusi, dan Naura disana mengerutkan keningnya mendengar Lusi menyebutkan nama wanita.
"Wah dia sudah kembali rupanya, Aku pikir dia sudah lupa sama Negeri nya sendiri." ucap Bayu terkekeh, dan semakin membuat Naura penasaran dengan wanita yang bernama Renita itu.
"Naura, Aku tutup teleponnya dulu ya, di luar ada tamu Aku mau temuin dia dulu, nanti Aku telepon lagi." ucap Bayu
"Iya Kak, Assalamu'alaikum." ucap Naura lesu, seperti tak rela memutuskan sambungan teleponnya itu.
"Ayo kita temui dia," ajak Bayu pada adiknya.
"Kak Renita makin cantik aja loh, Kak." ucap Lusi disela-sela langkahnya menuju ruang tamu, Lusi sengaja berkata seperti itu karena ingin melihat bagaimana reaksi kakaknya itu.
"Ah masa? Tapi, bagi kakak yang paling cantik itu adalah Naura." ucap Bayu dengan bangganya.
Lusi pun tersenyum mendengar ucapan kakaknya itu, Lusi berharap kakaknya adalah laki-laki terakhir untuk Naura. Jika Naura bahagia Lusi pun akan ikut bahagia, begitupun sebaliknya, jika Naura bersedih Lusi pun akan turut merasakan kesedihan temannya itu. Terbukti saat Wahyu ketahuan berhubungan dengan Diandra, Lusi ingin sekali menghajar Wahyu karena sudah menyakiti temannya.
"Wah wah kelihatan banget ya lagi bahagia," ujar Renita lalu beranjak ingin memeluk temannya itu.
"Eh stop," ujar Bayu merentangkan tangannya agar Renita tak memeluknya. "Jangan peluk peluk, udah punya calon istri." sambungnya dan membuat semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum sembari menggeleng gelengkan kepala.
"Ya elah, cuma peluk doang masa gak boleh."
"Yang boleh cuma calon istri Aku." ucap Bayu menegaskan, dan membuat Renita tersenyum geli mendengarnya.
"Ya udalah terserah kamu aja, ya gini nih kalau orang udah bucin." Renita terkekeh.
__ADS_1
"Siap-siap sana, terus kita pergi jemput calon istri kamu." ucap Renita.
"Mau pergi kemana?"
"Ke butik." jawab Renita.
"Ngapain ke butik? Kita udah fitting baju pengantin kok." kata Bayu.
"Iya Aku tau, Aku hanya ingin memodifikasi baju pengantin kalian." ucap Renita.
"Memodifikasi?"
"Iya Bayu, ternyata butik tempat kamu dan Naura fitting baju pengantin itu adalah butik nya Renita, dan Renita ingin memodifikasi baju pengantin kalian supaya lebih bagus lagi saat nanti kamu dan Naura pakai. Renita ini seorang desainer loh. " ujar mamanya menyahuti.
"Butik nya Renita?" Bayu menautkan kedua alisnya.
"Udah buruan siap-siap, gak usah banyak tanya." ujar Renita dengan mendorong pelan tubuh Bayu.
"Ah iya, tunggu sebentar Aku siap-siap dulu." ucap Bayu lalu pergi ke kamarnya, begitupun dengan Lusi yang juga pergi ke kamarnya bersiap-siap karena dia akan ikut.
Satu jam kemudian, Bayu, Lusi dan Renita pun telah sampai dirumah Naura.
Tak hentinya Renita menatap kagum pada wanita muda yang membukakan pintu untuk mereka dan Renita yakini pasti itu adalah calon istrinya Bayu.
"Wow, ternyata selera kamu itu daun muda ya." ujar Renita menatap Bayu, lalu menatap Naura dengan tersenyum.
"Kenalkan, nama Aku Renita, Aku temennya Bayu," ucap Renita mengulurkan tangannya pada Naura.
"Naura." ucap Naura juga memperkenalkan namanya.
"Oh ya, tujuan kita kesini itu mau jemput kamu untuk ke butik, Aku mau memodifikasi baju pengantin kalian agar terlihat semakin oke saat kalian pakai nanti." ucap Renita tanpa basa basi menjelaskan maksud kedatangannya.
Singkat cerita, mereka berempat pun kini telah berada di perjalanan menuju butik nya Renita.
Sepanjang perjalanan, Bayu terus tersenyum dan sesekali melirik Naura di sampingnya, betapa senangnya hari ini dia bisa bertemu dengan sang pujaan hati setelah tiga hari tidak bertemu.
Namun, tiba-tiba senyumnya itu memudar kala merasakan sakit dibagian dadanya yang tidak. Lama kelamaan rasa sakitnya semakin menjadi, Bayu pun menepikan mobilnya karena sakit didadanya semakin tak tertahankan.
"Kak, loh kok berhenti di sini sih?" tanya Naura, namun wajahnya seketika berubah panik melihat Bayu yang terengah-engah kesakitan sembari memegangi dadanya.
"Kak, Kak Bayu, kakak kenapa?" Naura mengguncang tubuh Bayu, namun calon suaminya itu tak merespon ucapannya.
__ADS_1
"Sa-kit... " hanya itu yang mampu di ucapkan Bayu sebelum semuanya menjadi gelap, Bayu pun kehilangan kesadarannya.
Lusi dan Renita pun ikut panik melihat Bayu yang tiba-tiba pingsan.