Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 109. DASAR BUCIN!


__ADS_3

Bukan kebetulan bahwa orang yang paling bahagia adalah mereka yang melakukan upaya sadar untuk menjalani kehidupan yang bermanfaat. Kebahagiaan mereka, tentu saja, bukanlah kegembiraan yang dangkal di mana hidup adalah satu pesta yang terus-menerus memabukkan. Sebaliknya, kebahagiaan mereka adalah rasa kedamaian batin yang mendalam yang datang ketika mereka percaya bahwa hidup mereka memiliki makna dan bahwa mereka membuat perbedaan untuk kebaikan di dunia.


Perbaiki apa yang salah dan teruslah melangkah tanpa harus bertanya pada diri sendiri apakah sudah siap atau tidak.


Karena sejatinya kegagalan bukanlah sebuah hukuman, tetapi kegagalan adalah teguran agar lebih berhati-hati untuk melangkah.


...*******...


Tak terasa waktu terus bergulir, langit malam yang dihiasi bintang kini telah disambut oleh fajar yang mulai menyingsing. Dan disaat itu semua makhluk hidup akan terbangun dari lelapnya malam untuk memulai aktivitas masing-masing.


Namun, tidak bagi dua insan yang bergelar calon pengantin, masih setia bergelut di balik selimut setelah sebelumnya telah menunaikan kewajiban masing-masing sebagai kaum Muslim.


Menurutnya tidak ada alasan untuk bangun pagi, toh hari ini mereka juga hanya akan berdiam diri dirumah walau akan menjadi sesuatu yang membosankan.


"Astaghfirullah, Naura masih belum bangun juga!" pekik bu Lastri saat masuk kedalam kamar Naura dan mendapati putrinya itu masih bergelut di balik selimut.


"Bangun gak, ini sudah jam 8. Jangan-jangan kamu juga gak shalat subuh ya?" cecar bu Lastri lalu menarik selimut putrinya itu.


"Aduh Ibu, biarin Aku tidur lagi Bu, lagian hari ini jaaye juga gak pergi kerja." ucap Naura dengan suara beratnya, kemudian menarik kembali selimutnya.


"Ya ampun Naura, ini sudah jam 8 tapi masih mau tidur? Gak bisa, pokoknya harus bangun! Gak pergi kerja bukan berarti bisa dijadikan alasan untuk tidak bangun pagi."


"Iya Bu bentar lagi, satu jam lagi ya Bu, aduh masih ngantuk banget."


"Oke, tapi awas kalau satu jam lagi Ibu kesini tapi kamu masih belum bangun juga, awas ya. Ibu siram air se ember!"


Sama halnya dirumah mewah milik pak Jhohan, putra rumah itu juga masih terlelap di bali selimutnya.


Namun, berbeda dengan Naura yang sempat terbangun karena ibunya. Bayu sama sekali tidak terganggu dengan gedoran dan teriakkan adiknya di balik pintu, karena sebelumnya Bayu sudah mengunci pintu kamarnya serta menutup telinganya dengan headset. Benar-benar sudah direncanakan.


"Kak Bayu ayo bangun, mau ikut gak? Kita mau kerumah Naura." teriak Lusi pada akhirnya.

__ADS_1


Bagai sebuah magnet pada loudspeaker, Bayu seketika bangkit dari tempat tidurnya mendengar nama calon istrinya di sebut, bahkan headset yang masih menempel di telinganya seakan tak berfungsi menutup indra pendengarannya. Kemudian berlari ke arah pintu kamar lalu membukanya.


"Beneran mau ke rumah Naura?" Lusi mengangguk malas.


"Tunggu sebentar, kakak mandi dulu." tanpa menunggu jawaban adiknya, Bayu langsung menutup kembali pintu kamarnya dengan keras, sehingga membuat Lusi semakin mendengus kesal.


"Dasar bucin!" geram Lusi, kemudian pergi dari hadapan kamar kakaknya.


Di dalam kamar, Bayu bersenandung ria sembari membuka satu persatu pakaiannya, kemudian mengambil handuk dari dalam lemari lalu menutupi sebagian tubuhnya yang sudah polos.


Senyum manis terus menghiasi wajahnya hingga sosok laki-laki tampan itu hilang di balik pintu kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Bayu membuka lemari pakaiannya kemudian memilih pakaian terbaiknya agar hari ini dia terlihat tampan dan berkharisma di hadapan calon istrinya.


Kemeja putih lengan panjang berbalut dengan jas berwarna biru dongker terlihat pas ditubuh kekarnya. Dan jangan lupakan parfume aroma aquatic yang fresh dan maskulin, aroma yang disukai oleh wanita.


Dan tidak lupa jam tangan branded yang melingkar dengan gagahnya di pergelangan tangan membuatnya semakin terlihat berkharisma.


Sepanjang langkah menuruni anak tangga, senyumnya semakin merekah hingga kini dia sudah berada di ruang keluarga berkumpul bersama papa, mama dan juga adiknya.


"Ayo berangkat," ajak Bayu, namun yang diajak hanya tersenyum sambil saling melirik satu sama lainnya.


"Mau kemana? Mulai hari ini kan Kamu udah gak ngantor lagi." ujar pak Jhohan.


"Lah, emang gak ke kantor kok." jawab Bayu.


"Terus kamu mau kemana rapi begini? Mana wangi banget lagi." tanya mamanya.


"Loh, bukannya hari kita mau ke rumah Naura kan?" Bayu menatap satu persatu yang ada di ruangan itu.


"Enggak ah, emangnya siapa yang bilang kita mau ke rumah Naura?" tanya pak Jhohan.

__ADS_1


"Lusi tadi yang bilang," Bayu menoleh pada adiknya itu, namun Lusi segera memalingkan wajahnya dari tatapan Bayu.


"Wah, kamu ngerjain kakak ya?"


"Lagian, siapa suruh di bangun gak bangun-bangun. Giliran Aku bilang mau ke rumah Naura, beh langsung bangun." pak Jhohan dan istrinya terkekeh mendengar ucapan Lusi.


"Jadi hari ini kita gak ke rumah Naura?" tanya Bayu lagi memastikan.


"Engga!" jawab mereka serentak.


Seketika Bayu pun terlihat lesu, kemudian beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju kamarnya kembali.


Dalam hati Bayu mengumpati adiknya itu karena sudah berani mengerjai dan mengganggu tidurnya.


"Dasar bucin!" seru Lusi namun tak dihiraukan oleh kakaknya itu.


Setelah sampai di kamarnya, Bayu melepaskan jas dan juga sepatunya lalu melemparnya ke sembarang tempat. Lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurep.


Tidur kembali mungkin lebih baik untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kacau.


Mungkin benar kata Lusi, dirinya sudah menjadi bucin, dan hanya dirinya sendiri, sementara Naura terlihat biasa saja.


Bayu pun akhirnya tertidur kembali, sementara Naura kini telah bangun setelah mendapat guyuran air se ember dari ibunya.


"Ibu, tega banget sih. Jadi basah kan kasur Aku." ucap Naura dengan cemberut.


"Biarin, soalnya kalau gak di gituin kamu gak bakal bangun sementara ini sudah jam 10, padahal tadi kamu bilang hanya tidur 1 jam dan ini sudah lewat 2 jam. Ya udah Ibu siram aja pakai air se ember sekalian kamu mandi juga!" celoteh bu Lastri sembari berkacak pinggang.


"Udah jangan cemberut gitu, cepetan mandi terus jemur itu kasur kamu, mumpung panas." ujar bu Lastri lalu membalikkan badannya melangkah keluar dari kamar putri semata wayangnya itu.


"Ah, gara-gara Kak Bayu ini, telpon sampai ke tengah malam, kan jadinya ngantuk gini susah bangun." gerutu Naura lalu beranjak turun dari atas tempat tidurnya.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Naura pun membawa kasurnya yang basah itu ke teras rumah untuk di jemur, namun sayangnya saat langit tiba-tiba menjadi mendung, membuat Naura merana karena malam ini dia akan tidur tanpa kasur.


__ADS_2