
Setelah Bayu melajukan mobilnya meninggalkan taman, Naura melangkah menuju bangku panjang yang sudah tersedia lalu duduk di sana. Beberapa saat menunggu, namun orang yang mengajaknya bertemu belum juga datang, Naura pun memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar taman.
Beberapa saat berkeliling taman, tiba-tiba Naura ingin sekali memakan ice cream. Beruntung di pinggir taman sana terlihat ada penjual ice cream, Naura pun segera menghampiri penjual ice cream itu.
"Pak, mau ice cream nya dong," ucap Naura pada penjual ice cream itu.
"Mau rasa apa, Neng?" Tanya penjual ice cream.
"Em, emangnya ada rasa apa aja, Pak?" Tanya Naura balik.
"Ada rasa strawberry, melon, nanas, coklat sama vanilla. Neng mau yang rasa apa?" Tanya penjual ice cream itu lagi.
"Em, Aku mau semua deh, Pak" jawab Naura, membuat penjual ice cream itu melongo mendengarnya.
"Serius Neng, mau semua? Emangnya Neng bisa habiskan sendirian" Ucap penjual ice cream sambil memasukkan ice cream yang diminta Naura, kedalam plastik.
"Heheh, enggak kok Pak. Nanti bakalan ada temen Aku yang datang" kata Naura, dan penjual ice cream itu memanggut manggutkan kepalanya.
"Oh, kirain Neng mau habisin sendirian, udah kayak orang ngidam aja" kekeh penjual ice cream itu. "Ini Neng ice cream nya" menyodorkan pada Naura plastik yang berisi lima rasa ice cream.
"Ini uangnya, Pak. Ambil aja kembaliannya." Naura memberikan selembar uang berwarna merah pada penjual ice cream itu.
"Wah ini sih banyak banget kembaliannya, Neng serius kasih ke saya?" tanyanya dengan terus memperhatikan lembaran uang itu.
"Serius lah, Pak. Ya udah Aku pergi dulu ya Pak, siapa tau teman Aku sudah datang." Ujar Naura kemudian membalikkan badannya hendak melangkah kembali ke bangku taman.
"Terima kasih ya, Neng."
__ADS_1
"Sama-sama, Pak" ujar Naura berbaik sebentar pada penjual ice cream itu, kemudian melanjutkan langkahnya.
Saat kembali ke bangku taman, ternyata Wahyu sudah berada di sana, duduk di bangku taman itu.
"Naura, baru aja Mas mau telepon Kamu. Tapi, ternyata Kamu sudah disini." Kata Wahyu, lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
"Iya, Mas. Aku udah dari tadi di sini." ucap Naura, kemudian duduk di samping Wahyu. Namun kali ini Naura memberi jarak antara dia dan Wahyu. Tidak seperti sebelum bercerai, Naura selalu menempel pada Wahyu setiap kali duduk di sampingnya.
Melihat Naura yang duduk memberi jarak, membuat hati Wahyu terasa pilu. Menurutnya, ini adalah hal tak biasa yang dilakukan oleh Naura. Wahyu seakan lupa, kalau semalam dia sudah menanda tangani surat gugatan cerai yang di ajukan Naura. Yang mana, saat ini mereka bukanlah sepasang suami-istri lagi.
"Maaf ya, Mas udah buat Kamu nunggu lama." ucap Wahyu sedikit merasa bersalah.
"Gak apa-apa. Santai aja, Mas." jawab Naura, kemudian membuka sebungkus ice cream rasa coklat yang sudah dibelinya tadi.
"Ini Mas, ice cream tadi Aku beli banyak." Naura meletakkan plastik yang berisi ice cream itu disamping Wahyu, kemudian menikmati ice cream rasa coklat yang sudah di bukanya.
"Kok beli ice cream nya banyak? Apa kamu kesini sama teman Kamu?" Tanya Wahyu.
"Oh gitu." Wahyu memanggut manggutkan kepalanya.
"Naura, Mas kangen," Ucap Wahyu, membuat Naura menghentikan kegiatannya memakan ice cream, kemudian menoleh menatapnya.
"Jadi, Mas ngajak Aku ketemu cuma mau ngomong itu aja?" Tanya Naura, mengerutkan keningnya menatap mantan suaminya itu.
"Memangnya kenapa? Apa salah kalau Mas kangen sama Kamu?" kata Wahyu, menatap sendu Naura yang seolah tak memiliki beban dilihat dari raut wajahnya yang terlihat tenang.
"Yah enggak sih, itu terserah Mas" ujar Naura, kemudian memakan ice cream nya lagi. Tingkah Naura saat menunjukkan kalau dia benar-benar sudah tak perduli pada laki-laki yang baru saja mengatakan rindu padanya.
__ADS_1
Sementara Wahyu, dia terlihat kecewa melihat ekpresi Naura yang terlihat biasa saja. Tak bisa dipungkiri, Wahyu merindukan Naura yang selalu dekat dan perhatian padanya, padahal baru saja semalam mereka resmi menjadi mantan suami-istri.
"Apa Kamu gak kangen sama Mas?" tanya Wahyu, entah kenapa dia merasa kesal dengan ekpresi Naura yang terkesan cuek saat ini.
"Kangen? Hahaha, Mas lupa ya kalau baru tadi malam kita pisah." Kekeh Naura membuat Wah hanya bisa menundukkan kepalanya. Dan sekarang Naura membuka bungkus ice cream kedua yang rasa strawberry.
"Oh ya, terus gimana, Mas? Kapan Mas akan menikahi Bu Diandra?" tanya Naura dengan santai seolah tak ada beban. Ice rasa strawberry yang dimakannya sekarang seolah menjadi obat penenang yang membuat Naura terlepas dari semua bebannya.
Sementara Wahyu yang mendapat pernyataan seperti itu, merasa kesal karena Naura malah membahas hal lain yang mana Wahyu hanya ingin meluapkan rasa rindunya pada mantan istrinya itu.
"Bisa gak, jangan bahas soal lain saat ini." kesal Wahyu. Entah kenapa Wahyu merasa kesal dengan pertanyaan itu. Bukankah seharusnya Wahyu senang, saat ini dia sudah bercerai dengan Naura, dan dia akan leluasa kembali lagi pada kekasihnya, Diandra. Wahyu pun hanya diam tak menjawab pertanyaan mantan istrinya itu.
"Kalau gak ada lagi yang mau di omongin, Aku pamit pulang ya, Mas. Tadi Aku cuma izin sebentar sama Bapak"
"Mas anterin pullman ya" Tawar Wahyu.
"Gak usah, Mas. Kalau nanti Mas dipukulin sama Bapak, Aku gak tanggung jawab loh ya" ujar Naura, menatap Wahyu sebentar kemudian membuka bungkus es cream lagi yang rasa vanilla.
"Memangnya, Bapak marah ya sama Mas?' tanya Wahyu.
"Hem," Naura menjawabnya hanya dengan deheman.
"Gak masalah. Kalau Bapak nanti memang sampai mukulin Mas, itu memang pantas Mas dapatkan karena itu semua memang salah Mas yang sudah menyakiti putrinya." ujar Wahyu sembari menundukkan kepalanya.
"Udahlah Mas, gak perlu ngomong gitu semuanya udah terjadi. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menata hidup yang lebih baik lagi kedepannya dan lupakan semua tentang masa lalu." Ucap Naura, dan itu malah membuat Wahyu bersedih hati mendengarnya. Naura seolah sedang mengucapkan kata-kata perpisahan padanya.
"Apa Kamu juga melupakan semua kenangan tentang Kita, Naura? Apakah tidak ada lagi kesempatan untuk Mas?" Wahyu berkaca-kaca menatap Naura yang terlihat biasa saja. Mantan istrinya itu seolah sudah melupakan semua tentang mereka melihat dari sikapnya saat ini.
__ADS_1
"Aku meminta Mas untuk menceraikan Aku, tapi Mas tidak mau. Dan pada akhirnya Aku sendirilah yang menggugat cerai, Mas. Dan itu artinya, Aku benar-benar memang ingin mengakhiri semuanya, Mas" kata Naura, lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Aku permisi, Mas." ucapnya kemudian melangkah meninggalkan Wahyu di bangku taman, sementara Wahyu hanya bisa menatap nanar langkah Naura yang mulai menjauh.