Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 84. MENJADI TAHANAN


__ADS_3

Mama Winda dan Tasya tergesa-gesa berangkat ke kantor polisi setelah dikabarkan bahwa putranya saat ini sedang ditahan oleh polisi.


Sepanjang jalan Mama Winda bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa yang terjadi pada putranya itu, padahal baru tadi pagi putranya itu berpamitan pergi ke luar kota karena ada urusan pekerjaan, namun kenapa saat ini bisa berada di kantor polisi.


Sesampainya di kantor polisi, Mama Winda tercengang melihat disana juga ada Naura dan kakak sepupunya, serta satu laki-laki yang seumuran putranya namun mama Winda tidak mengenalnya.


"Wahyu, apa yang terjadi, Nak?" tanya Mama Winda, masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Mata Mama Winda sudah berkaca-kaca melihat putranya yang diapit oleh dua orang polisi serta wajahnya yang sudah babak belur.


"Saudara Wahyu melakukan penculikan terhadap saudari Naura, dan mencoba menikahinya secara paksa dan secara ilegal." tutur salah satu polisi yang mengapit Wahyu itu.


Mama Winda sampai menutup mulutnya sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh polisi, begitupun dengan Tasya yang langsung memeluk mamanya, khawatir mamanya akan kehilangan keseimbangan.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian mama Winda terkulai lemas didalam pelukan putri bungsunya itu.


"Ma, Mama... " Tasya menahan mamanya agar tak tersungkur ke lantai.


"Mama...


Wahyu yang melihat keadaan mamanya itu berusaha melepaskan diri dari apitan polisi, namun polisi tak membiarkannya dan meminta pada Bayu dan Noval untuk membantu mama Winda duduk di kursi.


Naura yang melihat keadaan mantan mama mertuanya itu merasa prihatin, namun Naura tak bisa berbuat apa-apa, apa yang terjadi saat ini disebabkan oleh putranya sendiri.


Tak lama kemudian datang seorang wanita polisi membawakan segelas air putih untuk mama Winda. Dan setelah keadaan menjadi lebih tenang, dua polisi yang mengapit Wahyu itu mendudukkan nya di kursi yang bersebelahan dengan mama Winda.


"Saudara Wahyu, apa sebenarnya motif Anda melakukan penculikan terhadap saudari Naura dan berusaha menikahinya secara paksa?" tanya polisi penyidik.


"Saya mencintainya, Pak." jawab Wahyu tanpa ragu.


Polisi yang bertugas melakukan penyidikan itu menatap Wahyu sejenak, lalu kembali menanyakan beberapa hal yang jawabannya sama, hanya mencintai.


Noval yang mendengar jawaban Wahyu seperti itu ingin sekali rasanya mencabik cabik mulut lelaki itu, lelaki yang sudah berani menculik adik satu-satunya. Seandainya ini bukan di kantor polisi dan polisi juga sudah memperingatinya untuk tidak bertindak gegabah, pasti saat ini juga Noval akan menghajar laki-laki brengsekk itu.


Sementara Naura hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar semua jawaban mantan suaminya itu, benarkah yang dilakukannya ini karena mencintai dirinya? Ah, apakah itu bisa dikatakan cinta, sementara mantan suaminya itu selalu bertindak sesuai keinginannya sendiri, meski sudah berulang kali Naura memberinya peringatan.

__ADS_1


Lain halnya dengan Bayu, dia tak kalah kesalnya seperti Noval. Laki-laki yang menjadi tersangka ini adalah temannya, namun Bayu tak membenarkan apa yang dilakukan oleh temannya itu. Bayu benar-benar tak menyangka jika Wahyu bisa melakukan hal demikian.


Begitupun dengan mama Winda yang tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh putranya itu. Mama Winda memang sering membujuk putranya untuk mencari cara agar mengembalikan Naura sebagai menantunya, namun bukan cara seperti ini yang mama Winda inginkan. Tapi semuanya sudah terjadi, semuanya tidak bisa dikembalikan seperti semula, putranya kini telah menjadi seorang narapidana dengan tuduhan penculikan mantan istrinya sendiri, serta percobaan menikahi secara paksa dan secara ilegal tanpa izin tersurat negara.


Beberapa saat kemudian setelah penyidikan selesai, Wahyu pun dibawa ke ruangan lain yang akan menjadi tempat tinggalnya selama berada dalam masa tahanan.


Dan mama Winda hanya bisa menatap nanar langkah putranya yang kini dibawa pergi oleh dua orang polisi tanpa sanggup untuk menahan atau sekedar memanggil nama putranya itu, sementara Tasya kini sudah terisak didalam Naura.


"Kak Naura, maafin Kak Wahyu ya." lirih nya, namun bisa didengar oleh Noval yang berdiri disamping Naura.


"Kakak mu memang pantas mendapat hukuman ini, bahkan kurasa ini masih belum cukup!" tukas Noval dan membuat Naura menatapnya dengan tajam.


"Kak Noval," namun Noval tak memperdulikan teguran adik sepupunya itu.


"Naura, ayo kita pulang." ajak Noval kemudian.


Naura menatap kakaknya itu lalu beralih menatap Tasya yang kini masih memeluknya, Noval yang mengerti maksud adiknya itu lalu berbalik hendak keluar dari ruangan itu.


Setelah kepergian Noval dan Bayu, mama Winda beranjak dari tempat duduknya lalu ikut bergabung memeluk Naura.


"Maafin Wahyu ya, Naura. Mama gak nyangka kalau Wahyu akan melakukan hal seperti ini, Mama memang ingin kamu kembali menjadi menantu Mama tapi Mama sama sekali tidak membenarkan apa yang dilakukan Wahyu ini."


Naura tak merespon ucapan mantan mertuanya itu, melainkan hanya membalas pelukan wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri. Selama menjadi istrinya Wahyu, Mama Winda memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan mama Winda sering membuat Tasya cemburu padanya.


"Ma, ada sesuatu yang ingin Aku katakan pada Mama. Sebenarnya sudah sejak satu bulan lalu Aku ingin mengatakannya, namun Aku tidak berani, Aku takut Mama akan marah. Bahkan Aku juga belum memberitahunya pada Mas Wahyu" ucap Naura dengan pelan, dan Mama Winda serta Tasya pun segera melepas pelukannya dari tubuh Naura lalu menatap Naura dengan lekat.


"Apa yang ingin kau katakan, Nak?" tanya mama Winda, wanita paruh baya itu menatap sendu mantan menantunya yang kini menundukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian Naura pun mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap mantan mama mertuanya itu.


"Ma, saat Aku dan Mas Wahyu bercerai, ternyata saat itu Aku sedang hamil, namun Aku sama sekali tidak mengetahui kehamilan ku itu, dan sampai pada akhirnya Aku mengalami kecelakaan saat berada di palembang dan Aku keguguran, saat itulah Aku baru tau kalau ternyata Aku sedang hamil." ucap Naura dengan lirih, namun kalimatnya itu seolah seperti suara ratusan toa yang menghujam gendang telinga mama Winda.


"A-pa...?" mama Winda mencoba memastikan apa yang didengarnya, dan seketika kembali terkulai lemas saat Naura menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ma, maafin Aku yang tidak bisa menjaga cucu Mama. Maafkan Aku, Ma." ucap Naura dengan lirih.


Setelah merasa lebih baik, mama Winda pun kembali mendekati Naura lalu menariknya kedalam pelukannya.


"Gak perlu minta maaf, itu bukan salahmu. Putra Mama yang salah, seandainya tidak pernah ada wanita lain diantara kalian, mungkin saat ini Mama akan bisa melihat pertumbuhan calon cucu Mama. Tapi... " Mama Winda menghentikan kalimatnya lalu mengusap air matanya yang tiba-tiba saja lolos.


"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Wahyu akan sangat menyesalinya jika dia tau tentang ini." mama Winda pun tersenyum pada Naura.


"Pulanglah, Nak, kakakmu pasti sudah menunggu di luar. Mama masih ingin disini menemui Wahyu sebentar." Naura pun mengangguk patuh, lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


.


.


.


Sambil nunggu up selanjutnya mampir yuk ke novel teman Othor 🙏



Kaina, mendapatkan kenyataan yang mengejutkan. Anak kembarnya ternyata merupakan kembar beda ayah atau bisa disebut superfekudensi.


Candra dan Hugo. Mereka adalah ayah bilogis dari si kembar. Bedanya Candra adalah sang kekasih yang sudah di putuskan akibat ketahuan selingkuh. Sedangkan Hugo hanya pria kenalan yang di ajaknya bermalam demi membalaskan penghianatan sang kekasih.


Karena kedua anaknya mengalami gagal ginjal, Kaina meminta pada dua laki-laki itu untuk memberikan ginjal mereka.


Apakah si kembar akan mendapatkan donor ginjal dari ayah bilogis mereka?


Apakah kehidupan Kaina setelah itu bahagia atau malah babak baru akan di mulai?


Sanggupkah Kaina melewati semua cobaan hidupnya seorang diri?


Apakah langit yang kelam akan diterang oleh Purnama?

__ADS_1


__ADS_2