Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 93. OBROLAN KAKAK ADIK


__ADS_3

Naura menatap nanar pada pintu kamarnya yang baru saja tertutup. Naura mengingat tadi saat mamanya Lusi menyuapi nya bubur, tatapan wanita paruh baya itu menaruh harapan yang besar padanya sembari terus menyuapi nya.


Naura tidak tau harus menjawab apa nanti jika ditanyakan lagi hal yang belum sempat dia jawab.


Namun, kebingungan melanda nya saat ini, belum lagi saat pak Jhohan mengatakan sudah meminta sekertaris nya Bayu untuk menyiapkan parcel lamaran di Jakarta.


Bingung harus berbuat apa, Naura pun mengambil ponselnya di atas meja kemudian mencoba menghubungi kakaknya, barangkali bercerita tentang kejadian hari ini Noval bisa memberinya solusi.


Beberapa saat kemudian sambungan teleponnya pun terhubung, diseberang sana Noval menjawab panggilan adiknya itu dengan semangat. Meski semenjak dua bulan ini Noval bersikap dingin pada orang-orang disekitarnya, namun tidak kepada Naura. Adiknya adalah satu-satunya orang selalu menyemangatinya begitupun sebaliknya, Noval selalu memberi semangat untuk Naura.


"Ya halo Naura ada apa, kamu baik-baik aja kan?" tanya Noval dengan nada khawatir.


"Aku gak apa-apa, Kak, cuma lagi demam aja, tapi udah mendingan kok." jawab Naura lalu mengubah posisi duduknya dengan duduk bersila di atas ranjang.


"Ya ampun kamu demam, mana Bayu? Kakak mau bicara sama dia, kenapa Bayu gak bawa kamu berobat?"


"Aku udah gak apa-apa, Kak. Di sini juga ada Lusi dan orangtuanya, mereka baru dari tadi pagi. Lusi dan mamanya mengurus Akun dengan sangat baik." jawab Naura dengan sendu.

__ADS_1


"Naura ada apa, kenapa kamu kedengerannya lagi ada masalah gitu?" tanya Noval, walaupun tidak melihat tapi dia bisa merasakan dari suara adiknya itu.


"Kak Noval, sebenernya ada yang mau Aku omongin sama Kakak. Aku bingung, Kak, barangkali kakak bisa kasih Aku solusi."


"Sekarang katakan apa yang mau kamu bicarakan sama kakak, kakak akan mendengarkan semua keluh kesah kamu."


Naura pun menceritakan kejadian pagi ini, tentang dirinya yang sebelumnya demam tinggi, lalu kedatangan adik dan juga orangtuanya Bayu dengan tiba-tiba. Serta ucapan pak Jhohan yang ingin melamarnya untuk Bayu.


Di sana Noval terdiam mencerna apa yang baru saja diceritakan oleh adiknya, hingga kembali terdengar suara Naura yang membuyarkan lamunannya.


"Kak Noval, Aku harus gimana, Kak?"


"Kamu ikuti saja apa kata hatimu, jangan menerima karena terpaksa dan jangan juga menolak dan membuat mereka kecewa. Kalau kamu memang tidak menginginkannya, bicarakan baik-baik pada pak Jhohan buat mereka mengerti dan usahakan agar mereka tak kecewa padamu. Tapi, kakak juga berharap kamu bisa membuka hati kamu untuk orang lain, kakak tau kamu masih mencintai Wahyu, dan kakak yakin kamu bisa melupakan dia dengan cara membuka lembaran baru bersama orang lain. Yah, tapi semuanya kembali sama apa kata hati kamu, kakak hanya bisa menyarankan tanpa bisa mencampuri nya."


"Kak, terima kasih atas sarannya. Tapi, Aku masih bingung, Kak. Apalagi pak Jhohan sudah meminta sekertaris nya Kak Bayu buat menyiapkan parcel lamaran di Jakarta."


"Hem, kakak juga bingung, Naura. Apalagi pak Jhohan sudah sampai menyiapkan parcel lamaran dan itu artinya dia benar-benar serius ingin melamar kamu untuk Bayu. Tapi bagaimana dengan Bayu, apa dia juga hanya menuruti kemauan Papanya?"

__ADS_1


"Aku rasa tidak, Kak. Karena sebelumnya kak Bayu memang pernah mengungkapkan perasaannya padaku, tapi Aku tidak menanggapinya." kata Naura.


"Tapi, untuk lamaran ini Aku rasa itu hanya rencana pak Jhohan sendiri, karena Aku juga melihat keterkejutan di wajah kak Bayu saat mengatakan akan melamar ku."


Noval kembali terdiam, dan saat ini dia sudah berada di balkon kamarnya sembari menatap langit yang terlihat mendung.


Meski dirinya juga sedang dirundung kesakitan akan kegagalan hubungan yang baru dia jalin, namun Noval tak ingin menunjukkan keterpurukan nya itu pada Naura. Mungkin dengan bersikap dingin dan tak perduli pada keadaan sekitarnya bisa mengalihkan kesakitan nya itu, namun nyatanya semakin dirinya menjauh dari sikap humoris nya semakin menyiksa dirinya sendiri.


"Kak, kakak masih dengar Aku kan?"


Noval terkesiap, lalu mengusap wajahnya.


"Iya, kakak denger kok. Kakak hanya sedang memandang langit yang sedang mendung, tapi kakak yakin tidak akan turun hujan." Noval tersenyum seolah Naura melihatnya.


"Kenapa kakak begitu yakin?" Naura pun turun dari ranjang lalu membuka tirai yang tak jauh dari ranjangny kemudian ia menatap ke arah langit seperti yang dilakukan Noval, namun dikota tempat Naura saat ini langit terlihat sangat cerah.


"Di sini langitnya sangat cerah, Kak." lanjut Naura.

__ADS_1


"Langit yang mendung tak selalu menandakan akan turun hujan, begitu pun dengan langit yang cerah. Siapa sangka akan turun hujan setelah teriknya matahari." ujar Noval, dan Naura mengangguk anggukan kepalanya membenarkan ucapan kakaknya itu.


__ADS_2