Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 31. TEMAN RASA SAUDARA


__ADS_3

"Ah sial...!!!" umpat Wahyu kesal, karena tak berhasil mengejar mobil Lusi. Dia kehilangan jejak mobil Lusi yang membawa istrinya.


Wahyu menepikan mobilnya, kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku celananya kemudian menghubungi nomor Naura.


Tersambung tapi tidak diangkat. "Ayo Naura angkat telpon Mas"


Sudah belasan kali Wahyu menelpon istrinya, namun yang ditelpon tak juga menjawab panggilannya.


"Naura ayo dong angkat telepon Mas" tak kehabisan akal, Wahyu pun mengirim pesan pada istrinya melalui aplikasi Chatsapp.


Pesan terkirim, bahkan sudah tertera centang dua berwarna biru tapi pesan Wahyu belum juga mendapat balasan.


"Kamu bahkan hanya membaca pesan Mas tanpa membalasnya, Naura" Wahyu menatap kecewa pada layar ponselnya.


Akhirnya Wahyu pun memutuskan untuk pulang dan menunggu istrinya dirumah. Dinyalakan mesin mobilnya, kemudian kembali melajukan mobilnya menuju rumah.


*****


"Jahat banget, HP dari tadi berdendang tapi gak diangkat angkat, entar kualat kamu jadi istri mengabaikan telepon dari suami" ucap Lusi, saat ini mobil mewah milik Lusi sudah memasuki pagar besi yang menjulang tinggi di kediaman Lusi.


"Idih, sejak kapan kamu pintar menceramahi aku. Abis aku tuh kesel banget, Lusi. Sakitnya tuh disini" Naura menunjuk dadanya. "Aku tuh merasa tertipu tau gak sih!" mendadak Naura menjadi emosional.


"Iya iya aku tau, ya udah yuk turun, lanjutin nya didalam aja. Kamu mau nangis, mau teriak terserah kamu, kebetulan Papa dan Mama aku juga lagi gak ada dirumah" Lusi pun turun terlebih dulu untuk membukakan pintu mobil disamping Naura.


"Ayo turun" Lusi mengulurkan tangannya pada Naura, dan Naura pun menyambut uluran tangan Lusi.


Naura menatap kagum pada bangunan didepannya. Dulu dia sering datang kerumah Lusi, tapi kali rumah itu terlihat jauh lebih megah dan mewah dari pada setahun lalu saat terakhir kali Naura menginjakkan kakinya di rumah Lusi. Bahkan rumah Lusi, lebih pantas disebut dengan istana karena kemegahan nya.


"Habis renovasi, Lus?" tanyanya, namun tatapannya tak lepas menatap bangun megah berlantai dua itu.


"Hu'um" jawab Lusi. "Yaudah yuk masuk, jangan sungkan, kayak kamu gak pernah kesini aja" Lusi pun menarik tangan Naura masuk kedalam rumahnya.


Dan disinilah sekarang mereka berada, didalam kamar Lusi yang dua kali lipat lebih luas dari kamarnya saat ini bersama Wahyu. Apa kabar dengan kamarnya semasa gadis?

__ADS_1


"Naura, jangan gitu ya, aku aku gak suka loh lihat kamu kayak orang asing gitu dirumah ini. Biasa aja napa sih" tegur Lusi kesal. Pasalnya, Naura tak berhenti mengelilingi pandangannya disetiap sudut ruangan hingga ke dalam kamar Lusi.


"Eh iya, maaf Lusi bukan gitu maksud aku, aku cuma kagum aja" jawab Naura tersenyum canggung.


"Kagum sih kagum, tapi jangan kayak gitu juga kali ngeliatinnya, kayak orang asing aja, kita ini udah lama banget temenan bahkan aku tuh udah ngerasa kayak saudaraan sama kamu" ujar Lusi, dia meraih tubuh Naura kemudian memeluknya. "Jangan kayak gitu lagi ya, pokoknya setiap kali kamu kesini, anggap aja ini rumah kamu sendiri" sambungnya, memeluk erat temannya itu.


"Hem, iya" tak bisa dipungkiri, sejak awal berteman dengan Lusi, Naura merasa minder karena perbedaan statusnya dengan Lusi yang sangat jauh berbeda bagai langit dan bumi. Lusi anak pengusaha terkenal, semua kebutuhannya terpenuhi, sementara Naura hanya seorang anak dari kalangan biasa yang hanya pengusaha kecil pengrajin batik. Namun Naura bersyukur, selama berteman dengan Lusi, Lusi tak pernah memandang statusnya bahkan memperlakukan nya dengan sangat baik, bukan seperti teman tapi seperti seorang saudara.


"Lusi, terima kasih ya" ucap Naura.


Mendengar kata terima kasih, Lusi pun mengurai pelukannya dari tubuh Naura.


"Terima kasih? untuk apa?" Lusi menautkan kedua alisnya.


"Terima kasih atas pertemanan kita selama ini. Aku beruntung banget punya teman sebaik kamu" jawab Naura, matanya berkaca-kaca menatap Lusi.


"Justru aku yang beruntung bisa berteman sama kamu, Naura. Kamu itu berbeda dari yang lainnya, sebelum kenal kamu aku tuh merasa gak punya teman karena mereka semua dekat dengan aku hanya memanfaatkan keadaan aku ini untuk bisa memenuhi keinginan mereka. Tapi kamu, pokoknya kamu berbeda dari mereka yang hanya memanfaatkan aku" mata Lusi pun sama berkaca-kaca nya seperti Naura. Sungguh, dia sangat menyayangi temannya ini.


"Eh suara apa tuh?"


"Hehehe, sorry itu suara perut aku" jawab Naura cengengesan.


"Kamu lapar?" Naura mengangguk.


"Ya ampun ya udah yuk makan" Lusi menarik tangan Naura keluar kamar menuju ruang makan, namun baru sampai di ambang pintu langkah Lusi terhenti.


"Eh tunggu dulu. Mama sama Papa pagi-pagi sekali udah pergi, terus bibik juga hari ini gak masuk, yah berarti gak ada makanan dong" ucap Lusi, terlihat lesu.


"Tapi, ada bahan masakan kan?" tanya Naura.


"Kalo bahan masakan mah banyak di kulkas. Kamu mau masak?"


Naura mengangguk lagi "Kalo boleh sih, jujur aku laper banget. Gak tau kenapa akhir-akhir ini aku jadi doyan makan, mudah laper" ucap Naura.

__ADS_1


"Awas loh ntar jadi babon lagi, hahaha. Ya udah yuk ke dapur, sekalian kamu ajarin aku masak, aku gak bisa masak loh"


"Ah Lusi, seriusan kamu gak bisa masak?"


"Beneran Naura, aku seriusan gak bisa masak"


"Ya ampun Lusi, mau dikasih makan apa nanti suami kamu, hahaha" Lusi dan Naura pun melangkah menuju dapur sambil terus bercanda. Mereka berdua benar-benar terlihat seperti saudara bukannya teman.


"Ya elah, belum kepikiran juga kali aku mau nikah. Kalaupun nanti orangtua aku tiba-tiba jodohin aku. Aku harus selidiki dulu bibit bebet bobot nya, biar gak ketipu, hahaha"


"Em iya, kamu bener Lusi. Seharusnya aku juga dulu menyelidiki laki-laki yang akan dijodohkan dengan aku" mendadak wajah Naura menjadi murung.


"Ya ampun Naura maaf ya, aku gak bermaksud nyinggung kamu" Lusi pun merasa bersalah karena ucapannya tadi.


"Ck. Kamu itu, kenapa minta maaf sih? Ya udah yuk keluarin bahan masakannya, sumpah aku udah laper banget" Naura mengelus elus perutnya yang sudah sangat lapar. Suara keroncongan pun kembali terdengar dari perut Naura, membuat mereka berdua tertawa.


Akhirnya mereka berdua pun memasak dan sesekali bercanda. Benar-benar terlihat seperti saudara. Naura mengajari Lusi memasak dengan memberitahu bumbu apa saja yang diperlukan serta cara mengolahnya.


Karena masakannya belum matang, dengan terpaksa Naura makan nasi yang dicampur dengan kecap manis serta telor ceplok karena saking laparnya.


Dan pada akhirnya, Lusi lah yang memasak dengan petunjuk dari Naura, sementara Naura sendiri asyik menikmati kenalur nya, alias kecap nasi telur.


Sekitar dua puluh menit kemudian, masakannya pun matang. Naura kembali mengulang makan karena aroma masakan yang dibuat Lusi membuat perutnya keroncongan lagi. Dan berakhir lah Naura yang ketiduran akibat terlalu kekenyangan.


Lusi terus menatap Naura yang saat ini sedang tertidur di kamarnya. Dalam hati, Lusi mendoakan yang terbaik untuk temannya itu.


"Apapun keputusan kamu tentang pernikahan kamu, aku selalu mendoakan semoga kamu bahagia, Naura" gumamnya dengan terus menatap Naura yang terlelap.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2