
Di luar kantor polisi, Naura menatap dua laki-laki yang kini tengah bersandar pada mobil, yang juga sedang menatapnya.
"Kak Noval, apa sebaiknya Kakak cabut saja tuntutan kakak pada Mas Wahyu." ujar Naura tanpa basa basi.
"Apa, apa kakak gak salah dengar, Naura? Kamu mau memaafkan laki-laki brengsekk itu begitu saja setelah apa yang dia lakukan padamu, huh! Jangan bilang karena kau juga mencintainya, bulshit! Persetan dengan yang namanya cinta, Naura!" Noval kembali emosi, entah karena Naura yang memintanya mencabut tuntutannya pada Wahyu, atau karena hal lainnya, yang jelas Noval tidak setuju dengan permintaan adiknya itu.
"Iya Naura, Wahyu itu adalah temanku, tapi Aku tidak membenarkan apa yang sudah dilakukannya. Seandainya Lusi yang ada di posisimu, pasti Aku akan melakukan hal yang lebih dari Noval." geram Bayu.
Sejenak Naura menatap Noval dan Bayu bergantian.
"Bagaimana kalau kalian yang berada di posisi Mas Wahyu sekarang? Mendekam dibalik jeruji besi, sementara ada ibu dan adik yang harus kalian tanggung hidupnya. Mas Wahyu itu bukan orang hebat seperti kalian, yang tanpa harus bekerja keras kebutuhan keluarganya bisa terpenuhi. Ini bukan masalah Aku masih mencintainya atau tidak. Tapi coba tolong Kak Noval dan Kak Bayu pikiran lagi. Bagaimana nasib mama Winda dan Tasya jika Mas Wahyu berada di dalam penjara dalam waktu yang lama, siapa yang akan menanggung hidup mereka?"
Noval dan Bayu seketika terpanah mendengar kalimat panjang lebar yang diucapkan oleh Naura, apa yang dikatakan Naura ada benarnya. Namun, apakah harus membebaskan orang yang sudah jelas-jelas bertindak kriminal seperti Wahyu.
"Dan untuk Kak Bayu, tolong jangan pecat Mas Wahyu dari pekerjaannya. Di luar sana akan sulit mendapatkan pekerjaan apalagi saat ini Mas Wahyu sudah menyandang status narapidana." Naura menatap Bayu dengan penuh permohonan. Namun, Bayu segera memutus kontak matanya dari Naura, entah kenapa Bayu merasa tak suka melihat Naura yang memohon seperti itu untuk laki-laki yang sudah jelas-jelas telah menyakiti gadis kecilnya itu.
"Tolong jangan tanyakan apakah Aku masih mencintainya atau tidak, yang Aku lakukan ini tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu. Aku melakukan hal ini semata-mata hanya merasa iba pada Mama Winda dan juga Tasya sebagai sesama wanita." sekali lagi, Naura menatap Noval dan Bayu bergantian. Namun kedua laki-laki itu masih tak bergeming bahkan tak bersuara sedikitpun.
"Kak Noval, Kak Bayu." panggil Naura, namun dua laki-laki itu masih betah dengan posisinya, bersandar di mobil tanpa menghiraukan Naura.
"Kak, ini bukan soal cinta. Tapi karena perikemanusiaan, Aku hanya kasihan pada Mama Winda dan juga Tasya. Seandainya masih ada Papa Setyo, Aku tidak akan repot-repot memohon seperti ini pada kalian berdua."
Tak mendapatkan respon Naura pun diam lalu menunduk lesu, sepertinya percuma saja terus membujuk dua laki-laki yang keras kepala itu.
Beberapa saat terdiam mencerna semua ucapan Naura, Noval pun menegakkan badannya lalu menghela nafasnya sejenak kemudian meraih sebelah tangan Naura kedalam genggamannya.
"Baiklah, kakak akan mencabut tuntutan kakak pada Wahyu, tapi dengan catatan kau tidak boleh bertemu dengannya maupun keluarganya!" ucap Noval menekankan.
Sejenak Naura terdiam, tidak bertemu dengan Wahyu akan dengan senang hati dia melakukannya karena Naura juga sedang berusaha melupakan laki-laki yang pernah terpatri di hatinya. Namun, jika tidak bertemu dengan Mama Winda dan Tasya, dengan alasan apa Naura akan menolaknya jika mereka ingin bertemu dengannya sementara Naura sendiri sudah pernah berjanji akan tetap menganggap Mama Winda seperti ibunya sendiri serta Tasya seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa, apa kau keberatan?" tanya Noval, dia tersenyum miring melihat ekpresi Naura yang sepertinya tak rela.
"Aku tidak masalah jika tidak bertemu dengan Mas Wahyu, tanpa kak Noval suruh pun Aku akan dengan senang hati melakukannya karena selama ini Aku juga berusaha untuk menghindarinya. Tapi, untuk Mama Winda dan Tasya, maaf Kak, Aku tidak bisa menolak mereka."
"Hem, baiklah akan Kakak pikirkan lagi, dan sekarang sebaiknya kita pulang saja." ajak Noval.
"Tapi, bukankah kakak akan mencabut tuntutan kakak?"
"Iya, tapi tidak hari ini. Biarkan Wahyu merasakan sebentar bagaimana dinginnya dibalik jeruji besi agar dia kapok dan berpikir seribu kali jika ingin melakukan hal gila lagi padamu."
Naura pun menunduk patuh lalu ikut masuk kedalam mobil bersama kakaknya dan juga Bayu. Meski mantan suaminya itu belum dibebaskan hari ini, tapi setidaknya Naura merasa lega karena kakaknya sudah berjanji akan mencabut tuntutan nya.
Dan sekali lagi Naura tekankan, yang dilakukannya ini bukanlah karena perduli apalagi karena masih mencintai, namun karena hanya merasa iba pada Mama Winda dan juga Tasya. Bagaimana nasib mereka jika tidak ada Wahyu, siapa yang akan menanggung biaya hidupnya jika Wahyu mendekam didalam penjara dalam waktu yang lama.
"Kak Noval, tolong jangan beritahu pada Ibu dan Bapak soal ini ya." ucap Naura setelah beberapa saat mobil yang ditumpanginya itu berbaur dengan kendaraan lain dijalan.
"Kenapa, apa kau takut Paman akan menghajar mantan suamimu itu, huh?"
"Ya ya ya, semua ucapanmu memang selalu benar, Naura. Dan apalagi yang bisa kakak lakukan selain mengangguk dan mengiyakannya."
"Kak, bukan seperti itu maksudku, Aku...
" Sudahlah Naura, tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Minggu depan kakak akan mencabut tuntutan kakak pada Wahyu, walaupun sebenarnya kakak tidak ingin tapi setidaknya waktu seminggu itu sudah sangat cukup dipergunakan Wahyu untuk berpikir dan merenungi semua kesalahannya. Setelah itu dia bisa kembali bekerja seperti biasanya dan hidup damai bersama Ibu dan adiknya tanpa harus mengganggu mu lagi." ujar Noval.
"Dan Aku juga akan membiarkan Wahyu tetap bekerja di perusahaan Papa ku, tapi kau juga harus ikut bergabung dengan di perusahaan itu. Sepertinya sedikit menyiksa Wahyu akan lebih seru." sahut Bayu sembari menatap Naura.
"Apa maksud, Kak Bayu?" tanya Naura memicingkan matanya.
"Apa Kau tidak ingin membalas Wahyu dengan menunjukkan kemesraan kita sebagai kekasih pura-pura?" tawar Bayu.
__ADS_1
"Aku rasa itu tidak perlu." jawab Naura lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.
"Tapi, Aku rasa itu bagus. Lelaki seperti Wahyu harus sedikit diberi pelajaran agar dia bisa lebih memahami dan menghargai sebuah hubungan."
Mendengar usulan seperti itu, Naura pun hanya bisa menghela nafasnya. Dua laki-laki yang bersamanya saat ini sama seperti orang-orang yang tak berperasaan.
.
.
.
Sambil nunggu up selanjutnya mampir yuk ke novel teman Othor🙏
BAGAIMANA RASANYA TERJEBAK MENJADI ORANG KETIGA DI DALAM RUMAH TANGGA ORANG LAIN?
Sharron Alexandria, 25 tahun, terjebak dalam belenggu cinta pria beristri hanya karena kesalahan satu malam. Dia adalah Darrell Wesley, 35 tahun. Demi mendapatkan seorang anak, dia rela menjalani hubungan dengan seseorang yang ditemuinya di dalam aplikasi kencan buta.
Seiring perjalanan waktu, Darrell tidak berniat membuat Sharron, wanita simpanannya itu untuk hamil. Dia terlalu mencintainya sehingga membuat Darrell melepaskan tujuan utamanya.
Sementara Callie Mavis, 28 tahun, istrinya itu sudah didesak oleh keluarganya untuk segera mendapatkan anak. Dia berusaha menanyakan perihal rencana suaminya itu untuk mendapatkan rahim pengganti. Nyatanya malah Darrell mengatakan belum mendapatkannya.
Mungkinkah Darrell dan Sharron bisa bersatu? Apakah istri Darrell mau melepaskan begitu saja ketika tahu suaminya mencintai wanita idaman lain? Bagaimana perjuangan Sharron menyembunyikan diri sebagai wanita simpanan? Mampukah mereka menjalani kehidupan yang tidak biasa ini?BAGAIMANA RASANYA TERJEBAK MENJADI ORANG KETIGA DI DALAM RUMAH TANGGA ORANG LAIN?
Sharron Alexandria, 25 tahun, terjebak dalam belenggu cinta pria beristri hanya karena kesalahan satu malam. Dia adalah Darrell Wesley, 35 tahun. Demi mendapatkan seorang anak, dia rela menjalani hubungan dengan seseorang yang ditemuinya di dalam aplikasi kencan buta.
Seiring perjalanan waktu, Darrell tidak berniat membuat Sharron, wanita simpanannya itu untuk hamil. Dia terlalu mencintainya sehingga membuat Darrell melepaskan tujuan utamanya.
__ADS_1
Sementara Callie Mavis, 28 tahun, istrinya itu sudah didesak oleh keluarganya untuk segera mendapatkan anak. Dia berusaha menanyakan perihal rencana suaminya itu untuk mendapatkan rahim pengganti. Nyatanya malah Darrell mengatakan belum mendapatkannya.
Mungkinkah Darrell dan Sharron bisa bersatu? Apakah istri Darrell mau melepaskan begitu saja ketika tahu suaminya mencintai wanita idaman lain? Bagaimana perjuangan Sharron menyembunyikan diri sebagai wanita simpanan? Mampukah mereka menjalani kehidupan yang tidak biasa ini?