
"Om, beneran ya Om Tama temen Papanya Melani?" tanya Melani mencairkan keheningan didalam mobil yang sedang melaju itu.
Wahyu yang menatap keluar jendela, menolehkan kepalanya pada Melani lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya sembari mengusap lembut pucuk kepala Melani.
"Iya, Om sama Papanya Melani itu temenan." jawab Wahyu.
"Kalau gitu berarti Om tahu dong kenapa dan kemana Papanya Melani pergi?" tanya Melani dengan mata berbinar, berharap ia mendapat jawaban dari orang yang mengaku teman papanya itu.
Sementara Wahyu hanya bisa menatap Melani dengan mata berkaca-kaca, lidahnya keluh, suaranya tercekat, tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan Melani.
"Setiap kali Melani tanya sama Mama, Mama gak pernah jawab tapi selalu nangis. Jadinya Melani gak pernah lagi tanyain Papa karena Melani gak mau Mama nangis lagi, tapi Melani masih penasaran sebenarnya Papanya Melani itu kemana, dan kenapa Papa pergi tinggalin aku sama Mama." ucap Melani lagi, dan membuat semua yang ada di mobil itu terenyuh, terlebih Wahyu yang sudah mengedip-ngedipkan matanya agar air matanya tak jatuh.
"Jadi hingga saat ini Melani tidak tahu kalau Papanya sebenarnya sudah meninggal. Ya Allah ampuni aku, gara-gara aku gadis kecil ini kehilangan sosok Papanya." ucap Wahyu dalam hati.
Sementara Bayu dan Naura hanya bisa menghela nafas mendengar pertanyaan dan ucapan Melani. Bayu dan Naura sudah tahu kalau Melani memang belum mengetahui tentang Papanya yang sebenarnya, karena saat Andi akan dipulangkan dari rumah sakit, Rania meminta temannya untuk mengajak Melani pergi ke taman bermain. Dan setelah Andi selesai dimakamkan barulah teman Rania itu membawa Melani pulang.
"Om, Om Tama pasti tahu kan kemana Papanya Melani pergi, kan Om temannya Papa?" tanya Melani lagi, menatap Wahyu dengan penuh harap, namun Wahyu malah membuang muka dan membuat Melani tertunduk lesu.
"Kenapa sih, semua orang gak ada yang mau kasih tau Melani kemana Papanya Melani pergi." ucap Melani lirih, dan itu membuat Wahyu semakin merasa bersalah.
Suasana didalam mobil itupun kembali hening. Hingga beberapa saat kemudian mobil itu sudah terpakir didepan sebuah rumah yang sederhana, namun sangat elok di pandang karena aneka tanamam bunga-bunga yang menghiasi pekerangan rumah itu.
"Mama... " ucap Melani sedikit berteriak hingga mengagetkan Wahyu dari lamunannya.
__ADS_1
Melani turun dari mobil dan langsung berlari menghampiri mamanya yang sedang memotong rumput. Melani memeluk mamanya dengan sangat erat seolah mereka lama tak bertemu.
Dari dalam mobil, Wahyu menyaksikannya dengan tatapan haru. Seandainya masih ada Andi, keluarga kecil itu akan terlihat sempurna. Namun, kesempurnaan keluarga kecil itu terenggut oleh dirinya yang saat itu membutuhkan pertolongan Andi.
"Ma, didalam mobil Om Bayu ada Om Tama." ujar Melani menatap mamanya dengan mata berbinar, dan tangannya menunjuk ke arah mobil Bayu.
"Om Tama?" Rania mengerutkan keningnya, ia sama sekali belum pernah mendengar nama itu.
"Iya Ma, Om Tama." jawab Melani dengan sumringah. "Om Tama itu temennya Papa." sambung Melani.
Rania pun terdiam, ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan putrinya itu, dan nama yang di sebutkan putrinya itu sangat asing ditelinganya. Namun, melihat Melani yang sepertinya sangat senang bertemu dengan orang yang di sebutkan Om Tama oleh Melani, membuat Rania juda penasaran dengan sosok Om Tama itu, apalagi mengaku sebagai teman almarhum suaminya.
"Tama itu klienku, dan dulu Andi sering meeting bersamanya." ucap Bayu yang kini sudah berdiri dihadapan Melani dan Rania sembari menggendong Rayan.
"Wah, aku juga jadi ingin menanam bunga." ucap Naura yang kini sudah ikut bergabung.
"Kalau mau, nanti aku bisa kasih bibitnya." ujar Rania lalu menguraikan pelukan Melani.
"Sana masuk ganti baju dulu." ucap Rania pada putrinya.
Melani pun mengangguk patuh kemudian berlari masuk kedalam rumah.
"Ayo masuk dulu," ajak Rania pada Bayu dan Naura.
__ADS_1
"Ajak juga kliennya Pak Bayu yang di mobil, siapa tadi namanya?" tanya Rania sembari mengingat-ingat nama yang di sebutkan oleh Melani.
"Tama." jawab Bayu.
"Oh iya, Tama. Ajak dia juga masuk dulu."
"Gak usah, lagian kita juga udah mau pulang, maaf gak bisa masuk seperti biasanya." ucap Bayu tersenyum, kemudian menoleh menatap Naura disampingnya.
"Iya Kak, maaf ya kita buru-buru soalnya." sahut Naura yang mengerti tatapan suaminya.
Rania pun memanggut-manggutkan kepalanya. "Oh begitu, iya gak apa-apa, dan terima kasih ya sudah mengantar Melani pulang." ucap Rania menatap Bayu dan Naura bergantian.
"Iya sama-sama, Kak. Yang kami lakukan ini hanyalah hal kecil." jawab Naura.
Rania menanggapinya dengan tersenyum sembari mengangguk pelan, ia tahu maksud ucapan Naura. Karena itulah mereka, semenjak Bayu mendapat donor jantung dari suaminya. Bayu dan Naura tak membiarkan ia dan Melani kekurangan apapun.
Bahkan Bayu ingin membelikan rumah, namun ia menolak dengan alasan rumah yang ditempatinya itu menyimpan banyak kenangan Andi, almarhum suaminya.
Dan rumah itu di bangun dengan hasil kerja keras Andi sebelum menjadi sekertaris Bayu.
Setelah mobil Bayu sudah melaju meninggalkan pelataran rumahnya, Rania pun masuk kedalam rumahnya.
Sementara didalam mobil Bayu yang kini tengah melaju berbaur dengan kendaraan lain, masih dalam keadaan hening. Hingga terdengar suara Wahyu terdengar meminta untuk diantarkan ke kantor polisi.
__ADS_1