
Diandra yang saat ini berada di sebuah taman selepas pertemuannya dengan Wahyu. Duduk di bangku panjang yang tersedia di sana, serta tatapannya terus menatap ke arah segerombolan anak-anak yang sedang menonton aksi dua badut sulap.
Kedua sudut bibir Diandra tertarik membentuk sebuah senyuman menatap anak-anak yang terlihat senang bahkan ada yang melompat-lompat menyaksikan setiap atraksi yang dimainkan oleh dua badut itu.
Hingga sentuhan di bahunya, mengagetkan Diandra dan seketika menoleh ke belakang.
"Kamu...
"Hai" Sapa seorang laki-laki yang Diandra kenal. "Aku pikir tadi aku salah orang, ternyata ini beneran kamu" ucap laki-laki itu, lalu duduk disamping Diandra.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Diandra pada laki-laki yang baru saja duduk disampingnya.
"Aku kesini lagi cari jodoh, hahahaha. Bosan melajang terus, gak ada yang perhatiin. Adik sepupu aku aja udah nikah setahun yang lalu, tapi aku belum juga nikah" Laki-laki itupun terkekeh.
"Kamu sendiri, disini ngapain?" Tanyanya kemudian.
"Kalo aku lagi nyari udara segar aja sih" jawab Diandra. "Kamu kalau udah bosan melajang, cepetan cari jodoh terus nikah, dan jangan lupa undang aku" sambung Diandra juga terkekeh.
"Emangnya gak ada gitu, perempuan yang kamu suka?" Tanya Diandra kemudian.
"Ada sih perempuan yang aku suka, tapi sayangnya dia udah punya pacar" jawab laki-laki itu, yang tak lain adalah Noval, dosen sekaligus kakak sepupu nya Naura.
"Kalau kamu mau, rebut aja dia dari pacarnya kalau kamu emang beneran suka, sebelum janur kuning melengkung tak apalah ditikung, hahaha" Diandra terkekeh.
Noval pun tersenyum menanggapi ucapan Diandra barusan. Dia menggelengkan kepalanya kala terlintas untuk melakukan seperti yang dikatakan oleh Diandra.
'Rebut aja dia dari pacarnya' Ah itu bukan kriteria Noval untuk merebut milik orang lain. Namun, sebisa mungkin dia akan menujukan rasa ketertarikannya pada wanita itu. Yah, begitu lebih baik menurut Noval.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan ucapan aku barusan, aku cuma bercanda kok" kata Diandra, dia jadi khawatir kalau Noval akan melakukan seperti yang dikatakannya. Kalau sudah begitu, dialah yang menjadi penyebabnya karena secara tidak sengaja menghasut Noval untuk merebut wanita yang disukai dari pacarnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong, kalau boleh tau siapa sih perempuan yang kamu sukai itu?" sambung Diandra, bertanya.
"Em, kasih tau gak ya" ucap Noval, melirik sekilas kearah Diandra, lalu mengalihkan tatapannya ke arah dimana dua badut itu sedang melakukan pertunjukan sulap.
"Ya udah kalau gak mau kasih tau, gak maksa kok" ujar Diandra, namun ekpresi wajahnya terlihat kesal, dan Noval pun tersenyum melihat Diandra seperti itu.
"Dia itu seorang dosen juga" jawab Noval pada akhirnya setelah beberapa saat hening.
"Dosen?" tanya Diandra, dan Noval menganggukkan kepalanya.
"Dosen di Universitas mana? atau jangan-jangan dia juga dosen di tempat kita mengajar?"
"Hu'um" Noval menganggukkan kepalanya lagi.
*******
"Kapan Mas akan menceraikan aku?" tanya Naura. Saat ini dia duduk disamping suaminya yang duduk di sisi ranjang, setelah keluar dari kamar mandi memakai pakaiannya.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari istrinya membuat Wahyu geram, dia memejamkan matanya sembari menundukkan kepala. Giginya dia rapatkan hingga terdengar suara gemeletuk, serta kedua tangannya yang terkepal erat.
"Kenapa kamu terus meminta cerai, Naura? Mas sudah bilang gak akan pernah menceraikan kamu!" kata Wahyu. Nada suaranya pelan namun terdengar penuh penekanan.
"Tapi aku mau cerai, Mas!" ucap Naura, matanya menatap tajam suaminya. Namun percayalah, ucapannya tak sejalan dengan hatinya. Bibirnya dengan lugas mengatakan untuk meminta cerai, tetapi hatinya begitu perih saat mengatakan itu, meminta cerai dari laki-laki yang dicintainya. Bahkan Wahyu adalah cinta pertamanya.
Wahyu juga menatap istrinya, pandangan mata mereka pun bertemu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Entah apa yang ada dipikirkan Naura dan Wahyu saat ini, namun dari sorot matanya sangat ketara ada kepedihan disana.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Wahyu pun menggelengkan kepalanya. "Mas gak akan pernah menceraikan kamu, Naura. Kamu ingat itu baik-baik!" ucap Wahyu sekali lagi penuh penekanan.
"Tapi kenapa Mas? Bukankah Mas sendiri yang bilang pada Bu Diandra, kalau Mas akan menceraikan aku setelah aku Sarjana. Sekarang aku sudah Sarjana, terus Mas mau menunggu apa lagi? Ceraikan aku sekarang juga, Mas!"
"Mas gak sunguh-sungguh mengatakan itu, Naura. Mas hanya berusaha untuk menenangkan Diandra saat itu, Mas gak bersungguh-sungguh untuk untuk menceraikan kamu, Mas gak pernah lakukan itu. Mas...
" Tapi bagaimana dengan Bu Diandra? Bukankah Mas mencintai dia, dia kekasih Mas bahkan hingga saat ini!" Naura akhirnya berdiri, dia tidak tau harus mengatakan apalagi pada suami pendusta nya itu.
"Naura, kau mau kemana...?" Melihat istrinya hendak keluar dari kamar, membuat Wahyu panik, pikirannya terus tertuju saat Naura mengatakan akan pergi.
Naura tak menjawab, dia terus melanjutkan langkahnya hingga keluar dari kamar. Wahyu pun segera menyusul istrinya, di telinganya terus terngiang-ngiang saat Naura mengatakan akan pergi dari rumahnya.
Namu, ternyata Naura hanya pergi ke dapur, lagi-lagi dia merasa lapar, entah kenapa akhir-akhir ini dia sering merasa lapar. Padahal sebelumnya Naura sudah makan saat setelah sehabis mandi, bahkan dia makan dengan masih mengenakan bathrobe karena saking laparnya.
Wahyu yang mengikuti istrinya yang ternyata hanya pergi ke dapur, mengerutkan keningnya melihat Naura yang makan dengan sangat lahap nya, Wahyu ingat betul, belum ada satu jam istrinya itu makan dan sekarang makan lagi.
"Mas perhatikan akhir-akhir ini kamu kamu jadi sering banget makan, padahal sebelumnya gak gitu loh" Saat ini Wahyu berdiri disamping Naura yang duduk di ruang makan menyantap makanannya.
"Kenapa? Udah gak sanggup kasih aku makan, iya? Jangan khawatir, bentar lagi aku mau cari kerja kok, atau kalau perlu ceraikan aku sekarang biar Mas gak terbebani lagi!" ketus Naura, dia menjadi emosi mendengar ucapan suaminya yang seolah memprotes dirinya yang akhir-akhir ini jadi keseringan makan.
Sementara Wahyu, dia menghela nafasnya yang terasa tercekat. Istrinya itu berpikir dia tidak sanggup memberinya makan. Pemikiran macam apa itu? Bodoh!
"Naura, Mas kan cuma ngomong, kok kamu malah nyambungnya kesana sih? Terus apa yang kamu bilang tadi? Kamu mau kerja? Enggak, pokoknya kamu nggak boleh kerja, titik!" ucap Wahyu menekankan.
"Untuk apa aku kuliah sampai Sarjana, kalau ujung-ujungnya aku cuma jadi pengangguran!"
"Kamu sudah punya Mas, Naura. Biar Mas yang kerja, kamu cukup dirumah aja dan ngurusin Mas"
__ADS_1
"Seandainya aku tidak pernah tau tentang hubungan Mas dengan Bu Diandra, mungkin aku akan menuruti perkataan Mas saat ini. Tapi maaf Mas, aku akan tetap bekerja!"