Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 44. KEKESALAN BAYU


__ADS_3

"Tadi pagi Wahyu sempat bilang, dia akan menandatangani surat cerai kalian tapi dengan satu syarat... " Bu Winda menghentikan kalimatnya sejenak, kemudian mengalihkan tatapannya dari Naura pada Wahyu.


"Syarat apa Ma?" Tanya Naura. Dia menatap lekat Mama mertuanya itu.


"Wahyu bilang, dia akan menandatangani surat cerai kalian asalkan kamu nanti tidak akan menghindari dia setelah kalian bercerai. Maksudnya, kalian berdua harus tetap saling menyapa satu sama lainnya, jangan sampai kalian menjadi orang asing seperti sebelumnya,"


Mendengar penuturan Mama mertuanya, Naura mendekati wanita paruh baya itu kemudian merangkul nya dari samping.


"Kalau hanya itu yang Mas Wahyu minta, aku sama sekali gak keberatan kok, Ma. Asalkan Mas Wahyu bisa melepaskan aku dengan ikhlas. Aku juga minta satu hal dari Mama" Ucap Naura, dan Bu Winda menoleh menatap menantunya itu.


"Siapapun yang nantinya akan menjadi pilihan Mas Wahyu untuk menjadi istrinya, Mama harus memperlakukan dia sama seperti dengan Mama memperlakukan aku selama ini"


"Walaupun itu adalah wanita yang sudah membuat rumah tangga kalian hancur?" Tanya Bu Winda, menatap sayu menantunya.


Naura tersenyum, entah siapa yang pantas disebut perusak. Karena pada kenyataannya, suaminya itu telah memiliki hubungan dengan wanita lain jauh sebelum lamaran itu datang padanya.


"Ma, Mama jangan bicara seperti itu. Kita semua sudah tau sekarang, kalau sebenarnya Mas Wahyu sudah lama memiliki hubungan dengan dia jauh sebelum aku menjadi istrinya Mas Wahyu. Yah bisa dibilang, sebenarnya Akulah yang sudah merusak hubungan mereka. Ma, Mas Wahyu sangat mencintai dia, aku mendengarnya sendiri saat Mas Wahyu mengatakan itu"


Terdengar helaan nafas panjang setelah Naura mengatakan itu pada Mama mertuanya. Entah apa yang dirasakan Naura saat ini, intinya dia benar-benar ingin hubungannya dengan Wahyu benar-benar berakhir dan dia akan memulai kehidupannya yang baru begitu pula dengan Wahyu nantinya.


"Yang Mama sayangkan, kenapa waktu itu Wahyu menerima perjodohan kalian kalau waktu itu dia memang sudah memiliki seseorang yang dicintainya. Kenapa Wahyu tidak pernah mengatakan pada kami, kenapa dia malah menerima perjodohan itu yang mana pada akhirnya hanya menyakiti kamu. Naura, atas nama Wahyu, Mama minta maaf karena sudah menyia-nyiakan waktu kamu selama ini"


"Ma, Mama gak perlu minta maaf. Semuanya sudah terjadi, dan aku hanya ingin memulai kehidupanku yang baru tanpa harus mengungkit-ungkit lagi" Ucap Naura, kemudian memeluk paruh baya yang masih menjadi Mama mertuanya itu.


Tatapan Naura tertuju pada Lusi yang sudah terlihat gelisah di sofa, Naura pun mengurai pelukannya dari Bu Winda.

__ADS_1


"Ma, berhubung Mas Wahyu belum sadar, aku pamit pergi dulu ya Ma, aku ada urusan sebentar sama Lusi. Tapi aku janji, setelah urusan aku selesai, aku bakal balik lagi kesini buat jengukin Mas Wahyu" Ucap Naura, dan Bu Winda pun menganggukan kepalanya.


"Aku pamit ya Ma" Ucapnya, kemudian mencium punggung tangan Bu Winda.


Tasya yang duduk di samping Lusi, segera beranjak menghampiri Naura.


"Kak, janji ya nanti balik kesini lagi jengukin Kak Wahyu" Ucap Tasya dengan tatapan penuh harap.


Naura tersenyum dan menganggukan kepalanya, kemudian mengusap puncak kepala adik iparnya itu.


Setelah berpamitan, Lusi dan Naura pun keluar dari ruangan perawatan itu melangkah menuju dimana mobil Lusi terparkir.


Setelah berada didalam mobil, Lusi pun melajukan mobilnya menuju sebuah tempat dimana dia akan mempertemukan Naura dengan kakaknya.


"Lusi, sebenarnya kita mau kemana sih?" Tanya Naura, pasalnya temannya itu tidak memberitahu apapun padanya, sejak keluar dari ruangan perawatan suaminya, Lusi juga tidak mengatakan sepatah katapun padanya.


"Ya ampun Naura, sorry ya aku hampir aja bertindak tanpa persetujuan kamu" Ucap Lusi dengan mengusap wajahnya.


"Maksudnya?" Naura menautkan kedua alisnya.


"Iya, aku tuh mau ajak kamu ketemu sama kakak aku, nanti kamu bisa putusin sendiri mau nerima apa enggak job itu. Soalnya kakak aku butuh kepastiannya hari ini juga, karena minggu depan harus sudah ke Palembang" Ucap Lusi.


Mendengar penuturan Lusi, Naura menjadi sedikit bingung. Sebenarnya Naura sangat ingin menerima pekerjaan itu, karena itu adalah kesempatan pertamanya setelah Sarjana untuk mengembangkan bakatnya. Namun satu hal yang membuatnya bingung yaitu pernikahannya, suaminya belum menandatangani surat perceraiannya.


"Em, Lusi bisa tidak ya tolong bilangin ke kakak kamu kasih aku waktu dua hari lagi sampai Mas Wahyu menandatangani surat cerai nya" Ujar Naura, membuat Lusi melenguh.

__ADS_1


Melihat ekpresi Lusi, Naura tau kalau temannya itu pasti merasa kesal karena selalu tertunda.


"Aduh, gimana ya Lusi, sebenarnya aku tuh pengen banget nerima kerjaan itu. Kapan lagi coba? Aku dapat kesempatan kayak gitu, tapi aku juga gak bisa pergi dalam status aku yang seperti ini, kamu paham kan maksud aku Lusi?" Lusi menganggukkan kepalanya.


Yah, dia mengerti apa yang menjadi kendala temannya itu untuk pergi. Dan yang sedang dipikirkan Lusi saat ini adalah kakaknya. Kakaknya itu pasti akan memarahinya lagi karena belum bisa memberikan kepastian tentang Naura.


"Oke deh, Naura. Nanti aku coba bilang sama kakak aku, semoga aja dia mau ngerti" Ucap Lusi, berharap kali ini kakaknya mau mengerti dan memberi waktu lagi.


"Jadi gimana sekarang? Kamu mau pulang atau balik lagi kerumah sakit?" Tanya Lusi.


"Em, pulang aja deh, Mas Wahyu juga belum sadar. Nanti aku bisa kerumah sakit sendiri" Ujar Naura, dan Lusi pun menganggukkan kepalanya lalu mulai melajukan mobilnya menuju rumah Naura.


Setelah mengantarkan Naura pulang, Lusi juga langsung melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya dirumah, Lusi disambut oleh kakaknya yang sudah berdiri di depan pintu dengan berkacak


pinggang serta menatap tajam pada adiknya yang baru pulang itu.


"Em, gimana? Apa kata teman kamu itu?" Pertanyaan spontan di ajukan oleh Bayu saat adiknya itu sudah berdiri di hadapannya.


Sementara Lusi hanya bisa mendengus kesal dengan pertanyaan kakaknya itu.


Lusi pun menarik nafasnya terlebih dahulu dan menghembuskannya secara perlahan sebelum menjawab pertanyaan kakaknya itu.


"Kak Bayu, kata teman aku dia minta waktunya dua hari lagi" Ucap Lusi kemudian menundukkan kepalanya.


"What? Minta waktu dua hari lagi... Oh ya ampun, Lusi apa-apaan ini?" Bayu pun menjadi kesal.

__ADS_1


"Kau tau sendiri kan? Kalau kakak paling gak suka menunggu, tapi teman kamu itu... Oh ya ampun, kalau saja dia bukan teman kamu, pasti kakak akan sudah mencari orang lain untuk menggantikannya. Tapi ya sudahlah, awas saja nanti kalau kakak ketemu sama dia, kakak akan memberi perhitungan padanya karena sudah berani membuat kakak kesal!"


__ADS_2