Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 51. KERESAHAN BAYU


__ADS_3

Hidup ini tidak seperti novel, yang kita bisa mengulang halaman pertama kapanpun kita mau. Dalam kehidupan nyata, saat sebuah kisah tidak lagi asyik, mulai menyakitkan, kita tidak bisa mengulanginya dari halaman pertama lagi. Tapi tidak mengapa, karena kita selalu bisa membuat bab baru, halaman baru.


Ketika raga tak dapat menyembunyikan keadaan, maka tersenyum adalah salah satu cara menyembunyikan luka di hati dan mencoba bertahan untuk kuat.


📩'Naura, maafkan Mas. Mas harap Kamu tidak akan marah pada Mas atas kejadian tadi malam. Semalam Mas keluar mencarimu, tapi Mas tidak menemukan Kamu. Dan akhirnya Mas memutuskan untuk mendatangi rumah orangtuamu, tapi Mas tidak berani masuk. Mas hanya menunggu didalam mobil hingga pagi. Mas lega, ternyata Kamu pulang kesana, Mas sudah berpikir yang tidak tidak semalam karena tidak bisa menemukan Kamu dijalan. Naura, Mas menyesal, Mas terlambat menyadari kalau ternyata Mas telah jatuh cinta padamu'


Yah, Naura tersenyum membaca pesan dari laki-laki yang baru semalam resmi menjadi mantan suaminya. Namun, bukan tersenyum karena kalimat yang ditulis mantan suaminya itu didalam sebuah pesan. Tetapi, karena tidak ingin menunjukkan kesedihannya pada dua orang yang saat ini tengah bersamanya.


'Yah, Kamu memang sudah terlambat Mas, sangat terlambat. Aku memang sudah memafkan Mas, tapi maaf pintu hatiku sudah tertutup rapat. Cinta yang sudah terlanjur tumbuh untuk Mas, perlahan akan menghilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Aku yakin akan bisa melupakan semua kenangan diantara kita'


Setelah membaca pesan itu, Naura memasukkan kembali ponselnya kedalam tas tanpa membalas pesan itu.


'Dia tersenyum membaca pesan itu, apakah benar itu pesan dari kekasihnya?' Bayu bertanya-tanya dalam hati.


Di bawah meja, Bayu mengepalkan kedua tangannya. Entah kenapa merasa aneh melihat senyum diwajah gadis kecil yang sudah memporak porandakan hatinya. Senyum yang ditujukan untuk orang lain, bukan dirinya.


'Itu pasti pesan dari si Wahyu, emang dasar modus aja bisanya." Gerutu Lusi dalam hati.


..............


Wahyu yang baru saja keluar dari ruangan meeting, terus menatap ponselnya sembari berjalan menuju ruangannya.


Pesan yang dikirimkannya pada Naura sudah tercentang dua berwarna biru yang artinya sudah terbaca, namun hingga selesai meeting belum juga ada balasannya, padahal Wahyu mengirim pesan itu sebelum dia memulai meeting nya.


Karena terus menatap layar ponselnya, Wahyu tidak memperhatikan keadaan didepannya sehingga dia menabrak cleaning service yang membawa peralatan bersih-bersih yang berupa ember, sapu dan juga pengepel.


Bruk...


Lantai seketika menjadi basah karena tumpahan air dari ember yang dibawa oleh cleaning service itu, dan sepatu Wahyu pun menjadi basah karena tumpahan air itu.


"Ma-af, Pak." Ucapnya terbata, takut akan dimarahi oleh Wahyu.


"Ah tidak, Saya yang salah tidak lihat-lihat jalan," Ucap Wahyu, lalu berjongkok mengusap sepatunya.

__ADS_1


"Tapi Pak, sepatu Bapak jadi basah,"


"Tidak masalah, nanti akan saya keringkan sendiri di ruangan Saya." ucap Wahyu, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


Sekertaris Bayu yang bernama Andi, yang melihat kejadian itu segera menyusul Wahyu ke ruangan Wahyu.


"Kamu kenapa sih? Aku perhatikan Kamu itu banyak melamun nya hari ini, saat meeting berlangsung saja Kamu terlihat seperti tidak fokus. Beruntung meeting berjalan lancar, kalau tidak Bayu akan menghajar Kamu" Ucap Andi, kemudian terkekeh.


"Lagi berantem sama Istri Kamu?" Tanya Andi, kemudian menarik kursi dan duduk di hadapan Wahyu.


"Udar cerai." Jawab Wahyu, dan seketika membuat Andi membelalakkan matanya.


"What?" pekik Andi, terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Wahyu. "Serius? Kok bisa? Kenapa? Ah jangan-jangan Kamu nih yang bandel, Kamu selingkuh ya? Atau jangan-jangan Istri Kamu lagi yang selingkuh, iya?" Pertanyaan beruntun yang di ajukan oleh Andi, membuat Wahyu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.


"Eh jawab dong!" Andi menepuk meja Wahyu karena tak satupun pernyataannya yang dijawab oleh Wahyu.


"Apa sih, gak usah kepo!" Ujar Wahyu menatap tajam Andi. "Sana keluar dari ruangan Aku, bikin tambah pusing aja." Gerutunya.


..............


"Ayo Aku antar pulang," Ucap Bayu, setelah menyepakati kerja samanya dengan Naura yang akan berangkat ke Palembang dalam waktu tiga hari lagi.


"Sok mau nganterin, emangnya Kakak tau rumahnya Naura dimana, huh?" celetuk Lusi.


"Ya tau lah. Kakak kan udah bilang kalau tadi malam Kakak hampir nabrak Naura dan Kakak yang anterin Naura pulang."


Singkat cerita. Akhirnya Bayu pun mengantarkan Naura pulang walaupun tadi sempat berdebat dengan adiknya yang juga ingin mengantarkan Naura pulang.


Sepanjang perjalanan, Naura terus menatap ke arah luar jendela. Naura menyunggingkan senyum kala melihat sepasang kekasih yang begitu romantis sedang makan di pinggir jalan dengan saling suap menyuapi. Naura pun teringat saat dia masih bersama Wahyu, dulu dia dan Wahyu juga selalu romantis. Wahyu selalu memperlakukannya dengan baik, sebelum Naura mengetahui kalau itu semua hanyalah kepalsuan.


Naura yang sedang asyik menikmati pemandangan sepanjang jalan yang dilaluinya, dikagetkan dengan suara dering ponselnya.


Naura pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, tertera nama mantan suaminya di layar ponselnya. Tanpa berpikir panjang, Naura pun menjawab panggilan itu.

__ADS_1


"Ya halo Mas, ada apa?" Tanya Naura.


Sementara Bayu, seketika menoleh mendengar ucapan Naura saat menjawab teleponnya


Mas? Siapa yang disebut Mas oleh gadis kecilnya itu, apakah itu adalah orang yang mengirim pesan tadi, yang membuat Naura tersenyum saat membacanya.


Tak berapa lama, Naura pun menutup panggilan teleponnya setelah mengatakan sesuatu yang membuat Bayu semakin merasa resah.


"Baik Mas, kita ketemu di taman, kebetulan Aku juga sedang berada di luar"


Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, Naura menoleh menatap Bayu yang sedari diam fokus dengan kemudi nya.


"Kak Bayu, Aku turun di sini saja," Ucap Naura.


"Loh kenapa? Rumah Kamu kan masih jauh." Ujar Bayu, bertanya ingin mengorek sedikit informasi barangkali Naura akan mengatakan dengan siapa dia akan bertemu.


"Aku ingin bertemu seseorang, jadi biar Aku turun di sini saja" Ucap Naura lagi.


"Kamu mau ketemu orang itu di taman kan? Ya udah, biar sekalian Aku antarin langsung ke taman aja" kata Bayu, lalu memutar kemudi nya menuju taman.


"Gak usah repot-repot Kak, biar Aku turun di sini saja. Kakak mau nganterin Aku pulang aja itu udah terima kasih banget loh,"


"Udah gak apa-apa. Kalau Aku turunin Kamu dijalan, terus ada apa-apa sama Kamu. Bisa-bisa Aku di hajar habis-habisan sama Lusi." kekeh Bayu.


Terus menolak pun rasanya percuma, akhirnya Naura pun menurut saja dia antarkan oleh Bayu ke taman. Toh, benar juga yang dikatakan Bayu. Bagaimana kalau ada apa-apa degannya dijalan. Sudah dua kali dia hampir tertabrak, walaupun orang yang hampir menabraknya adalah pemilik mobil yang di tumpanginya sekarang. Tetapi, tetap saja dia yang ceroboh karena tak memperhatikan jalan.


Tak berapa lama, mobil Bayu pun sudah terparkir di pinggir taman.


Bayu ingin menemani Naura bertemu dengan orang itu sekaligus ingin melihat siapa orang yang akan ditemui gadis kecilnya itu. namun, sayang Naura tak mengizinkannya dan menyuruhnya untuk pulang saja.


Bukan tanpa alasan Naura menyuruh Bayu pulang, karena tak mungkin membiarkan Bayu mendengarkan pembicaranya nanti dengan Wahyu, yang memungkinkan mantan suaminya itu akan membahas tentang hubungan mereka saat ini. Dan Naura, tak mungkin membiarkan orang asing mengetahui masalah pribadinya.


Akhirnya, Bayu pun pulang dengan perasaan kecewa. Resah, jika benar gadis kecilnya itu ternyata memang sudah memiliki kekasih, dan itu adalah orang yang akan ditemui Naura saat ini.

__ADS_1


__ADS_2