
Naura yang telah selesai dengan hajatnya, buang air kecil. Menatap dirinya dari pantulan cermin yang berada didalam toilet. Dalam hati dia menertawai dirinya sendiri, karena begitu bodohnya sudah terlalu percaya pada suaminya dan pada akhirnya dia harus tersakiti karena satu fakta yang baru beberapa saat yang lalu dia ketahui.
Fakta, bahwa selama ini ternyata suaminya sudah sejak lama memiliki kekasih dan hanya terpaksa menerima perjodohan nya. Dan bodohnya, Naura dengan mudah nya jatuh cinta hanya karena perhatian yang suaminya berikan.
Seharusnya Naura bertanya dari awal, apakah calon suaminya itu sudah memiliki kekasih atau belum? namun ah, semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur dan Naura sudah terlanjur mencintai suaminya.
Namun, jika sudah seperti ini, Naura telah mengetahui semuanya. Apakah cinta itu akan tetap ada untuk suaminya? apakah dia akan tetap bertahan dengan pernikahannya? Entahlah, jawabannya hanya Naura sendiri yang tahu, othor mah tempe 🥱🥱🥱
Sementara di luar toilet, Lusi dan Wahyu saling berhadapan dengan Lusi yang menatap Wahyu dengan tatapan tak suka.
Yah, sedari tadi Lusi mencegah Wahyu untuk menggeledah setiap toilet untuk mencari Naura, Lusi ingin memberi ketenangan pada temannya tanpa gangguan suami lucknut nya itu.
"Kamu itu laki-laki paling bodoh karena sudah menyakiti wanita seperti Naura" ucap Lusi pada akhirnya dan menunjuk tepat diwajah Wahyu, serta matanya menatap tajam pada Wahyu
"Kamu tidak tau apa-apa, jadi tolong jangan ikut campur masalah rumah tangga kami"
"Naura adalah temanku, dan aku sudah menganggapnya seperti saudara ku sendiri. Jadi siapapun yang menyakiti Naura, dia juga akan berhadapan denganku" kata Lusi, tak ingin kalah.
"Terserah, mau kamu itu temannya ataupun memang saudaranya tapi kamu tetap tidak berhak mencampuri urusan kami, apalagi ini adalah masalah rumah tangga kami, dan siapapun tidak boleh mencampuri nya, hanya aku dan Naura yang akan menyelesaikan masalah kami sendiri"
"Dasa laki-laki pecundang, bisanya mempermainkan hati perempuan, laki-laki seperti kamu itu tidak pantas dicinta oleh siapapun termasuk Naura!" kali ini Lusi meninggikan suaranya, dia benar-benar kesal dengan Wahyu karena telah menyakiti teman terbaiknya.
"Kamu... " Dan kali ini Wahyu emosi dengan perkataan Lusi yang mengatainya pecundang. Wahyu mengangkat sebelah tangannya hendak menampar Lusi, namun tangannya tertahan di udara seiring dengan pintu kamar mandi yang terbuka.
"Mas... " Naura berteriak, melihat suaminya ingin menampar temannya.
Dengan langkah cepat Naura menghampiri Lusi dan suaminya.
"Mas apa yang kau lakukan?" Naura mendorong tubuh suaminya menjauh dari Lusi.
"Mas ingin menampar temanku, huh!?" dan Naura pun menjadi emosi melihat apa yang akan dilakukan oleh suaminya tadi.
__ADS_1
"Naura kau salah paham, ini tidak seperti yang kau lihat" Wahyu berusaha membela diri.
"Mas memang ingin menampar nya karena dia...
"Karena apa, Mas? huh! ternyata selama satu tahun ini aku belum cukup mengenal suamiku dengan baik. Ternyata seperti ini kelakuan Mas, mudah menyakiti perempuan"
"Lusi ayo kita pergi dari sini" Naura menarik lengan temannya itu pergi dari sana, meninggalkan Wahyu sendiri yang mematung menatap kepergian istrinya.
Tak tinggal diam, Wahyu pun bergegas menyusul istrinya. Ada banyak hal yang harus dia jelaskan pada istrinya saat ini, termasuk pertemuannya dengan Diandra serta dia yang hendak menampar Lusi.
Namun sialnya, saat Wahyu sudah berada diluar cafe, Naura sudah masuk kedalam mobilnya Lusi dan mobil itupun melaju dengan kencang meninggalkan pelataran cafe.
Tak kehabisan akal, Wahyu bergegas menuju mobilnya, menyusul mobil Lusi yang membawa istrinya.
"Lusi, atas nama Mas Wahyu aku minta maaf ya, tadi Mas Wahyu mau nampar kamu" ucap Naura merasa bersalah.
Namun Lusi bukannya marah, tapi dia malah terkekeh.
"Maksdunya...?" Naura mengerutkan keningnya.
"Iya, tadi itu emang salah aku juga yang udah ngatain suami kamu pecundang, dan aku bilang kalau dia itu gak pantas dicintai oleh siapapun termasuk kamu" jawab Lusi, dia menggigit bibir bawahnya setelah mengatakan itu. Takut Naura akan marah, dia mengatai suaminya.
"Naura, aku minta maaf ya udah ngatain suami kamu kayak gitu, abisnya aku tuh kesel banget sama dia, ini sudah yang kedua kalinya aku lihat dia sama Bu Dian dra... upsss... "Lusi menutup mulutnya sendiri karena kelepasan bicara.
'Ya ampun, kenapa ember banget sih nih mulut'
"Apa? Lusi, jadi kamu sudah tau sebelumnya tapi gak ngasih tau aku. Lusi, sejak kapan kamu tau!" mendadak Naura menjadi emosi mendengarnya, temannya sudah tau akan hubungan suaminya bersama dosennya tapi temannya itu tidak memberitahu nya.
"Naura aku minta maaf, aku bukannya gak mau kasih tau kamu, waktu itu aku cuma belum yakin aja, aku pikir waktu itu mereka cuma temenan aja makanya aku gak ngasih tau kamu. Aku takutnya kalau aku kasih tau kamu waktu itu, kamu malah akan bertengkar sama suami kamu"
Terdengar Naura menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nya perlahan.
__ADS_1
"Lusi, coba kamu kasih tau aku, kapan pertama kalinya kamu tau soal ini?" kali ini Naura berusaha untuk tenang, walaupun bagaimanapun juga Lusi adalah temannya, dan Lusi tidak pantas untuk disalahkan walaupun temannya itu terlambat memberitahu nya.
"Aku pernah lihat Bu Diandra dan suami kamu waktu di Mall satu tahun lalu, tepatnya sehari setelah pernikahan kalian. Kamu masih ingat kan? waktu kamu lebih dulu sampai di kampus terus kamu telpon aku dan aku bilang aku lagi di Mall mau beli sesuatu" Naura mengangguk.
Yah, Naura masih ingat betul. Satu tahun lalu, tepatnya sehari setelah pernikahannya dengan Wahyu. Suaminya itu mengatakan akan pergi ke kantor karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggal. Namun ternyata, Lusi melihat suaminya itu bersama dosennya berada di sebuah Mall, dan itu artinya waktu itu Naura dia telah dibohongi oleh suaminya sendiri.
Mendengar penuturan Lusi, Naura tak lepas menatap temannya itu. Seandainya sejak waktu itu Lusi memberitahu nya, pasti sampai saat ini dia masih memiliki sesuatu yang berharga dalam dirinya.
'Lusi, seandainya waktu itu kamu memberitahu aku, mungkin saat ini aku akan tetap menjadi diriku sendiri tanpa harus kehilangan sesuatu yang berharga dalam diriku walaupun aku harus menjadi janda' batin Naura.
Yah, waktu itu, Naura belum memberikan mahkotanya pada suaminya karena waktu itu dia sedang mengalami PMS.
Coba saja dari dulu, seandainya sejak waktu itu dia mengetahui dari awal. Tapi ah, semuanya sudah terlanjur, yang perlu dia lakukan saat ini adalah menata hati untuk kedepannya.
"Naura, kamu baik-baik saja kan, Naura aku minta maaf aku gak bermaksud untuk menyembunyikan itu dari kamu"
"Iya Lusi gak apa-apa, kamu gak perlu minta maaf, ini bukan salah kamu"
Mendengar jawaban Naura, Lusi menjadi lega karena ternyata temannya itu tidak marah padanya.
Dan bebebnya saat kemudian, tatapan Lusi tertuju pada kaca spion disampingnya.
'Aku perhatiin, dari tadi mobil itu kayak ikutin mobil aku, apa cuma perasaan aku aja ya' batin Lusi.
"Lusi, kamu kenapa sih?" tegur Naura, yang melihat temannya itu sedikit gelisah terus melihat ke arah samping.
"Eh itu, kayaknya mobil di belakang kita itu dari tadi ikutin kita terus, apa cuma perasaan aku aja ya"
Naura pun menoleh ke belakang melihat mobil yang dimaksud oleh Lusi.
"Lus, Lusi kamu ngebut aja, itu mobilnya Mas Wahyu, kita kerumah kamu aja dulu ya, aku males ketemu dia"
__ADS_1
Dan Lusi pun menambah kecepatan laju mobilnya menuju rumahnya.