Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 115. MENUNDA PERNIKAHAN


__ADS_3

"Kak, Kak Bayu, kakak kenapa?" Naura mengguncang tubuh Bayu, namun calon suaminya itu tak merespon ucapannya.


"Sa-kit... " hanya itu yang mampu di ucapkan Bayu sebelum semuanya menjadi gelap, Bayu pun kehilangan kesadarannya.


Tidak ada pilihan lain selain memindahkan Bayu ke kursi penumpang di belakang bersama Naura, sementara Lusi dan Renita pindah ke bangku depan dengan Lusi yang mengemudikan mobilnya.


Kini tujuan mereka bukanlah lagi ke butik, melainkan membawa Bayu yang tak sadarkan diri itu, ke rumah sakit.


Panik, khawatir, takut, itulah yang dirasakan Naura saat ini.


Naura terus menggosok gossokkan telapak tangan Bayu dengan tangannya berharap Bayu akan sadar, namun sebagai mana usahanya Bayu masi tetap memejamkan matanya bahkan tak merespon sedikitpun apa yang dilakukan oleh Naura.


"Kak, Aku mohon bangun, jangan membuatku takut seperti ini." tak terasa cairan bening itu lolos begitu saja dari sudut matanya.


Mata yang selalu menatapnya dengan hangat kini tertutup rapat, wajah yang selalu tersenyum padanya kini terdiam kaku dengan tenang.


"Naura, kamu jangan panik gitu, Kak Bayu pasti gak apa-apa kok." Lusi berusaha menenangkan Naura yang sudah menangis, namun dalam hati dia sama khawatirnya melihat sang kakak yang tiba-tiba pingsan seperti itu.


"Iya Naura, kamu jangan menangis, Bayu tidak akan kenapa-kenapa, mungkin dia hanya kelelahan saja." ucap Renita menimpali.


Namun, ucapan dia wanita yang duduk di kursi depan itu tak mampu membuat tangisan Naura mereda, belum lagi wajah Bayu yang menjadi pucat menambah kekhawatiran nya.


"Lusi, lebih cepat lagi bawa mobilnya, Kak Bayu harus segera di kasih pertolongan!" Naura mulai berteriak melihat bibir Bayu yang juga mulai memucat.


Lusi pun menambah kecepatan laju mobilnya, namun tetap berhati-hati agar tidak terjadi hal tidak diinginkan.


Beberapa saat kemudian, mobil itu sudah terparkir di pelataran rumah sakit, Lusi segera turun memanggil perawat, dan tak lama datang dua orang perawat laki-laki dengan membawa brankar.


Bayu segera di bawah menuju ruang Instalasi Gawat Darurat, sementara Naura kini tangisannya semakin menjadi.


Merasa tak tega, Renita pun segera memeluk calon istri dari temannya itu sembari mengusap usap punggungnya untuk menenangkannya. Sementara Lusi, masih berada di pelataran rumah sakit menghubungi orangtuanya.


Tak hentinya Naura merapalkan do'a dalam hati untuk calon suaminya itu, meski belum tau apa yang menyebabkan Bayu pingsan namun Naura sangat khawatir. Air matanya masih saja terus mengalir dengan terus menatap ke pintu ruangan dimana didalam sana Bayu masih ditangani oleh dokter.

__ADS_1


"Naura, udah dong jangan nangis lagi, percaya deh Bayu itu pasti gak kenapa-kenapa kok. Pasti dia cuma kecapekan aja." ujar Renita.


Namun, Naura seakan tak mempercainya, karena yang Naura tau sudah tiga hari ini mereka berada di rumah tidak pergi bekerja. Lalu apa yang membuat Bayu kelelahan.


...*******...


"Dok, sebenarnya apa yang menyebabkan kakak saya pingsan?" tanya Lusi, saat ini mereka semua berada di ruangan dokter.


Dokter itu tidak langsung menjawab, dia menatap satu persatu orang-orang yang di hadapannya sembari menggeleng pelan.


Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami hal seperti ini?" tanya dokter itu.


Pak Jhohan dan istrinya saling pandang, begitupun dengan Naura yang langsung menatap Lusi dengan maksud bertanya hal serupa dengan yang ditanyakan dokter.


"Selama beberapa bulan ini, tidak pernah Dok," jawab pak Jhohan. "Tapi kami tidak tau kalau sebelum itu Bayu pernah mengalami hal ini, karena baru beberapa bulan ini Bayu kembali dari luar Negeri." sambung pak Jhohan.


"Begini Pak, pasien ternyata mengidap riwayat penyakit jantung dan ini sudah parah," ucap dokter itu, dan seketika membuat semua yang ada di ruangan itu syok mendengarnya.


"Bayu... " mamanya histeris, hampir saja tersungkur ke lantai jika pak Jhohan tak segera memapahnya.


Sementara Naura kini tangisannya semakin menjadi didalam pelukan Renita. Dan Lusi dia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Dokter, apakah penyakit anak saya bisa disembuhkan?" tanya pak Jhohan.


"Bisa, Pak, dengan cara transplantasi jantung." ucap dokter itu dan membuat semuanya semkin syok.


"Dokter, apakah tidak ada cara lain, mencari donor jantung itu tidak mudah." ucap pak Jhohan dengan nada gemetar.


"Saya mengerti, Pak, hanya dengan begitu Bayu benar-benar bisa sembuh, untuk penanganan medis hanya akan mengurangi gejalanya saja."


Pak Jhohan pun terdiam, namun tatapannya tertuju pada Naura yang kini semakin terisak didalam pelukan Renita.


"Malang sekali nasibmu, Nak."

__ADS_1


...*******...


Setelah dari ruangan dokter, kini semua keluarga berkumpul di ruang rawat Bayu. Semuanya diam sembari menatap Bayu yang belum juga sadarkan diri.


Pak Jhohan yang duduk di sofa bersama yang lainnya, beranjak menghampiri Naura yang terus berdiri di samping ranjang Bayu dengan terus menggenggam tangan calon suaminya itu.


"Naura," Naura menoleh pada pak Jhohan yang kini juga berdiri di sampingnya.


"Kamu yang sabar ya." ujar pak Jhohan, dan Naura hanya menganggukkan kepalanya tanpa bisa menjawab dengan kata-kata.


"Kalau misalnya pernikahan kalian di tunda dulu, gak apa-apa kan?" tanya pak Jhohan lirih.


"Gak apa-apa, Om, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Kak Bayu." jawab Naura kembali terisak.


"Sudah, jangan menangis Bayu pasti akan baik-baik saja." pak Jhohan meraih tubuh calon menantunya itu kedalam pelukannya.


Naura kembali menumpahkan semua air matanya didalam pelukan pak Jhohan.


Dan semua orang yang ada diruangan itu tak kuasa melihat pemandangan itu. Pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari kini harus ditunda karena Bayu yang tiba-tiba saja sakit.


Di saat semuanya hening, mereka semua serentak menoleh pada pintu ruang rawat itu terbuka.


Pak Agung sontak langsung berdiri melihat siapa yang datang, dan dengan langkah cepat menghampiri kemudian mendorongnya.


"Mau apa kamu kesini, huh!"


Wahyu yang hampir saja terhuyung ke lantai, hanya bisa tersenyum kecut mendapat serangan tiba-tiba dari mantan ayah mertuanya itu.


"Pak, Pak Agung sudah Pak biarkan saja dia masuk, Wahyu itu temannya Bayu, dan karyawan di perusahaan saya." ucap pak Jhohan, dan pak Agung pun kembali ke tempat duduknya dengan sebelumnya menatap tajam pada Wahyu.


Sementara Renita, terkejut melihat kedatangan laki-laki menyebalkan yang bertemu dengannya kemarin di cafe.


"Oh, ternyata dia itu temannya Bayu dan karyawan di perusahaan Om Jhohan. Tapi, kenapa ayahnya Naura sampai semarah itu padanya, ada apa sebenarnya?" Renita bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


Setelah pak Agung kembali ke tempat duduknya, Wahyu pun melangkah ke ranjang dimana temannya itu terbaring lemah tak berdaya, sementara pak Jhohan membawa Naura ikut duduk bergabung dengan yang lainnya di sofa.


__ADS_2