
Dirumah sakit, Wahyu telah sadar dari tidur panjangnya setelah dokter menyuntikkan obat penenang agar dia tak terus mengigau dan bisa beristirahat dengan tenang.
Dan lagi lagi kalimat pertama yang dia ucapkan adalah nama istrinya, Naura.
Mendengar rintihan putranya, Bu Winda yang duduk di sofa sedang menikmati makanan yang dibelikan oleh Tasya. Segera menyudahi makannya kemudian beranjak menghampiri putranya.
"Wahyu, syukurlah kamu sudah sadar, Nak" Bu Winda sangat senang melihat putranya sudah siuman, begitupun dengan Tasya yang langsung memeluk kakaknya itu.
"Kak jangan kayak gini lagi ya, aku takut banget tadi malam lihat kakak kejang-kejang gitu"
Wahyu tersenyum, dia merasa senang karena masih ada adik dan Mama nya yang menguatkan dia.
Sebelah tangan wahyu pun terangkat mengelus puncak kepala adiknya itu.
"Iya, kakak janji gak akan buat kamu dan Mama khwatir lagi" Ucap Wahyu, dan Tasya pun mengurai pelukannya kemudian menatap lekat kakaknya itu.
"Kamu gak panggilin Naura kesini?" Tanya Wahyu kemudian.
"Tadi Kak Naura datang saat Kak Wahyu masih belum sadar, tapi dia pergi sama Kak Lusi katanya ada urusan sebentar. Tapi Kak Naura janji bakal balik kesini lagi jengukin Kak Wahyu kalau urusannya dengan Kak Lusi sudah selesai" Ujar Tasya dan membuat Wahyu menghembuskan nafas lega, bersyukur karena istrinya itu masih mau untuk menjenguknya.
__ADS_1
"Wahyu, kamu harus ingat perkataan kamu tadi pagi" Kata Bu Winda, mengingatkan putranya itu akan ucapannya yang berjanji akan menandatangani surat cerai nya dengan Naura.
"Iya, Ma. Aku bakal tepati ucapanku asalkan Naura juga mau menerima syarat ku"
"Kamu tenang saja, Mama sudah memberitahu Naura tadi, dan dia tidak keberatan dengan syarat kamu itu" Ujar Bu Winda sinis. Sebenarnya Bu Winda tidak suka putranya itu meminta syarat seperti itu, namun harus bagaimana lagi? Daripada putranya itu terus mengulur waktu dan menggantung status Naura, sementara Naura sendiri sudah tidak ingin mempertahankan rumah tangganya lagi.
"Terima kasih, Ma" Ucap Wahyu, namun Bu Winda membuang muka masih merasa kesal dengan apa yang sudah diperbuat oleh putranya itu sehingga dia harus kehilangan menantu kesayangannya.
*****
Setelah mendapat telepon dari Tasya yang memberitahu bahwa suaminya telah siuman. Naura pun bergegas ke rumah sakit, yah bukan bergegas karena merindukan laki-laki itu, namun bergegas untuk memperjelas statusnya.
"Naura kamu datang, terima kasih" Ucap Wahyu, merentangkan kedua tangannya agar istrinya itu mendekat, sementara Bu Winda merasa muak dengan tingkah putranya itu.
"Naura, kamu tunggu disini dulu ya, Mama mau urus biaya administrasi, nanti sore Wahyu sudah bisa pulang" Ucap Bu Winda, menepuk pundak Naura kemudian keluar dari ruangan itu dan disusul oleh Tasya agar memberi ruang untuk kedua kakaknya itu bisa berdua.
"Naura, maafin Mas" Ucap Wahyu sendu, namun senyum terukir diwajah pucat nya. Sebenarnya dia masih berharap Naura mau membatalkan gugatannya. Wahyu baru menyadari sekarang kalau dia tidak bisa jauhi dari istrinya itu, lihatlah akibatnya karena ditinggalkan oleh Naura, sekarang dia berada dirumah sakit karena hal yang terdengar sepele. Tidak bisa tidur tanpa istrinya dan pada akhirnya harus mengkonsumsi obat tidur agar bisa tidur dengan nyenyak.
"Mas, kenapa Mas melakukan ini? Mas mau membuat aku merasa bersalah, huh? Karena sudah menggugat Mas. Mas jangan pernah berpikir aku akan kasihan melihat Mas seperti ini!" Entah kenapa, Naura tiba-tiba emosional dan berpikir suaminya itu sengaja berbuat seperti itu untuk menarik simpatinya agar mau membatalkan gugatannya.
__ADS_1
Senyum yang sedari tadi merekah, perlahan memudar mendengar ucapan istrinya yang terlihat marah.
"Naura, Mas tidak bermaksud seperti itu. Baiklah, Mas akan menuruti permintaan itu, Mas akan menandatangani surat cerai itu asalkan kamu mau memenuhi keinginan terakhir Mas"
"Mama sudah bilang syarat apa yang Mas inginkan, menurutku itu tidak masalah selagi Mas tidak melewati batas" Ucap Naura ketus.
"Bukan itu Naura...
"Lalu apalagi Mas? Mas jangan banyak bertingkah ya!"
"Naura, besok pagi Mas akan menandatangani surat cerai itu...
"Kenapa harus besok Mas? Kenapa tidak sekarang saja?"
"Mas ada satu permintaan lagi, Naura. Tolong kabulkan, Mas janji ini yang terakhir dan besok pagi Mas akan menandatangani surat cerai itu" Ujar Wahyu, menatap istrinya dengan tatapan memohon.
Sejenak Naura memalingkan wajahnya, menghela nafasnya kemudian menatap suaminya lagi.
"Katakan, apa permintaan Mas itu?" Tanya Naura.
__ADS_1
"Malam ini, kamu nginap dirumah Mas ya, Naura Mas mohon kali ini saja. Mas kangen, Naura"