
Pagi yang cerah di langit kota Palembang, jembatan Ampera yang membentang di atas sungai Musi sudah di penuhi berbagai macam kendaraan yang berlalu lalang. Meski demikian, beruntung pagi ini jalanan tidak mengalami kemacetan sehingga mobil yang membawa Naura dan Bayu bisa melaju dengan cepat menuju bandara.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Naura habiskan dengan terus menatap ke arah luar jendela memperhatikan semua yang di lalui mobil yang ditumpanginya itu.
Selama satu bulan dia dan Bayu tinggal di kota tersebut dan hari ini mereka akan kembali ke ibukota. Naura tidak tahu, entah dia akan kembali lagi ke kota ini atau tidak. Yang terpenting sekarang adalah tentang Noval, kakak sepupunya yang akan menikah dengan Diandra yang Naura ketahui adalah kekasih dari mantan suaminya.
Entah bagaimana nanti Naura akan mengatakan pada Noval tentang Diandra. Sejujurnya, Naura tidak tega mengatakannya pada Noval karena fakta itu pasti akan menyakiti hati kakak sepupunya itu. Namun, jika Naura membiarkan pernikahan itu terjadi tentu akan lebih menyakitkan bila Noval terlambat mengetahui nya.
Entahlah, ada banyak pertanyaan yang harus Naura ketahui jawabannya. Kenapa?
Kenapa Diandra akan menikah dengan Noval? Sementara yang Naura tahu Diandra adalah kekasih dari Wahyu, mantan suaminya.
Bukankah Diandra seharusnya menikah dengan Wahyu, dan kenapa malah akan menikah dengan Noval.
"Huh," Helaan nafasnya terhembus berbaur dengan angin yang menerpa. Perlahan Naura menutup kembali kaca mobil lalu menyandarkan kepalanya di jendela mobil tersebut.
"Ada apa?" Tanya Bayu melihat Naura yang tampak tak bersemangat, padahal gadis kecilnya itulah yang sangat antusias ingin kembali ke Jakarta.
"Gak apa-apa." Jawab Naura, melirik Bayu sebentar lalu memejamkan matanya.
"Ayo tidur disini," Bayu menepuk pahanya sembari menatap Naura yang sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
Naura membuka matanya, melihat Bayu yang menepuk pahanya seketika membuat Naura bergidik ngeri apalagi mengingat saat tadi malam dia melihat bulu-bulu halus di betis Bayu.
"Em, gak usah, Kak terima kasih." ucap Naura lalu kembali memejamkan matanya, kali ini dia sedikit memiringkan kepalanya ke arah jendela di sampingnya.
Bayu pun terdiam, entah keberanian dari mana dia meminta Naura untuk tidur di pahanya sebagai bantal. Namun, penolakan Naura membuatnya sedikit kecewa.
Perjalanan menuju bandara pun kembali hening, hanya sesekali terdengar suara klakson mobil yang meminta kendaraan di depannya agar memberinya jalan untuk melaju lebih dulu.
Dua jam berlalu, Naura dan Bayu pun kini telah sampai di bandara Jakarta. Di luar bandara, Naura dan Bayu duduk di kursi yang sudah tersedia menunggu mobil yang akan menjemput mereka.
"Naura, Aku beli minum sebentar ya." ujar Bayu lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Iya." jawab Naura sembari menganggukan kepalanya.
Namun, belum Naura menghubungi nomor Wahyu, orang yang ingin di teleponnya itu kini sudah berdiri di hadapannya membuat Naura sedikit terkejut dan seketika berdiri.
"Ya ampun, Mas. Baru aja Aku mau telepon, tapi Mas udah disini." ujar Naura sembari menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas kemudian berdiri, Naura sedikit mendongakkan kepalanya menatap Wahyu karena tingginya badannya hanya sebatas lengan mantan suaminya itu.
"Ekhem, kenapa mau telepon Mas? Kan Mas udah bilang bakal jemput Kamu. Oh, atau jangan-jangan Kamu kangen ya sama Mas," Wahyu tersenyum sembari menaik turunkan alisnya, dan di detik berikutnya Wahyu meraih tubuh Naura masuk kedalam pelukannya.
"Mas lepas, jangan seperti ini. Malu dilihatin orang-orang," ujar Naura memperingati, Naura berusaha melepaskan diri namun Wahyu semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Jangan berontak Naura, sebentar saja, Mas kangen banget sama Kamu." dan kini Wahyu menghujani kecupan di puncak kepala Naura.
"Mas, Aku bilang lepas!" Naura berusaha mendorong tubuh Wahyu, namun tenaganya tak cukup kuat untuk memisahkan tubuhnya dari Wahyu.
Naura terus berusaha mendorong tubuh Wahyu, namun laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya sehingga Naura jadi kesulitan bergerak bahkan sampai terbatuk karena merasa sesak.
"Brengsek! Lepaskan dia!"
Bugh...
.
.
.
Hai kakak readers semuanya๐ค othor ada bawa novel teman nih silakan mampir jika berkenan sambil menunggu up selanjutnya. Di jamin ceritanya gak kalah seru loh ๐๐๐
Kisah pahit harus dialami gadis berusia 20 tahun yang tak lain gadis itu bernama Putri Varelina. Gadis malang yang lebih memilih persahabatan ketimbang cinta yang nantinya akan menghancurkan ketiga sahabat itu.
__ADS_1
Hinga akhirnya hidupnya hancur lebur setelah ia dinodai oleh mantan kekasihnya yang kini berstatus Suami dari sepupunya sendiri. Mampukah ia bertahan mempertahankan janin yang kini menjadi calon anak dari Suami sepupunya sendiri. Dan mampukah ia berjuang bertahan dari hinaan dan siksaan batin yang dilakukan laki-laki itu yang dengan teganya tidak Sudi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut.