
Setelah semua pekerjaannya selesai, Wahyu pun merapikan berkas-berkas yang tercecer di atas meja kerjanya, kemudian bersiap-siap untuk pulang.
Sekali lagi, Wahyu memeriksa ponselnya berharap Naura sudah membalas pesannya. Namun, lagi-lagi Wahyu merasa kecewa karena belum juga ada balasan dari mantan istrinya itu.
"Naura, apa sekarang Kamu benar-benar menghindari Mas. Tapi kenapa? Apa salah Mas? Bukankah Kamu sudah berjanji tidak akan menghindari Mas." lirih nya, menatap sendu layar ponselnya.
Baru saja Wahyu akan memasukkan ponselnya kedalam saku celananya, ponselnya berdering dan Wahyu pun tersenyum mengira itu adalah telepon dari Naura.
Namun, senyum itu perlahan memudar kala melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Diandra...
"Ya halo Diandra, ada apa?" Tanyanya dengan ekpresi yang seperti orang tak bersemangat.
"Aku ingin bertemu" ucap Diandra, sementara Wahyu tak bergeming mendengar kalimat ajakan itu.
"Wahyu, apa Kau mendengar Aku?" tanya Diandra, karena Wahyu tak merespon ucapannya.
"Ah, iya Aku dengar, kita bertemu di taman kebetulan Aku juga baru akan pulang Kantor." setelah mengatakan itu, Wahyu pun menutup panggilan teleponnya.
Beberapa saat kemudian, Wahyu dan Diandra pun kini sudah berada di sebuah taman. Taman yang sama dengan taman yang tiga hari lalu tempat Wahyu dan Naura bertemu.
Sudah beberapa menit mereka berada di taman itu, namun Wahyu tak juga membuka suara, dia terus menatap layar ponselnya berharap akan ada balasan dari Naura. Begitupun dengan Diandra, dia menutup mulutnya rapat-rapat dengan terus memperhatikan Wahyu yang terus menatap layar ponselnya, berharap Wahyu akan memulai pembicaraan mengenai hubungan mereka berdua.
Merasa kesal dengan sikap Wahyu saat ini, Diandra pun merebut ponsel Wahyu yang menjadi penyebab dia diacuhkan oleh kekasihnya itu.
"Diandra, apa-apaan Kamu!" Bentak Wahyu, tak terima dengan Diandra yang tiba-tiba merebut ponselnya.
"Kenapa, huh?" Diandra mengacungkan dagunya, ponsel Wahyu yang dia rebut disembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Diandra, kembalikan handphone ku," pinta Wahyu, mengulurkan tangannya pada Diandra.
__ADS_1
"Enggak! Aku penasaran, sebenarnya ada apa didalam handphone mu ini, sehingga Kamu sangat betah terus menatapnya" Ucap Diandra, dia memundurkan langkahnya untuk menghindari Wahyu.
"Gak ada apa-apa. Diandra, ayo cepat kembalikan handphone ku."
"Enggak, Wahyu! Pokoknya Aku mau lihat apa yang ada didalam handphone mu ini, sehingga Kamu mengacuhkan Aku. Oh, atau jangan-jangan Kamu sedang menunggu pesan atau telepon dari Istri Kamu iya, Wahyu?"
"Diandra, Aku dan Naura sudah bercerai!" Teriak Wahyu, dia benar-benar kesal dengan Diandra yang merebut ponselnya. Padahal, dulu mereka tidak pernah mempermasalahkan saling bertukar pinjam ponsel.
"Apa? Wahyu, Kamu serius? Kamu dan Naura sudah bercerai?" Diandra sangat senang mendengarkannya, kekasihnya itu sudah bercerai dengan istrinya. Dan itu artinya dia dan Wahyu akan bersatu lagi tanpa ada lagi penghalang diantara hubungan mereka.
Di saat Diandra lengah karena begitu senang karena fakta yang baru saja dia dengarkan. Wahyu pun dengan cepat maju merebut kembali ponselnya dari tangan Diandra. Diandra sedikit tersentak kaget saat Wahyu merebut kembali ponselnya.
"Wahyu, itu artinya Kita akan bersatu lagi kan? Kamu akan segera menikahi Aku kan?" Wajah Diandra berseri-seri membayangkan hal itu.
"Aku dan Naura memang sudah bercerai, tapi maaf Diandra. Aku belum bisa membahas apapun tentang hubungan kita. Aku mohon, tolong berikan Aku waktu untuk memikirkan itu semua." setelah mengatakan itu, Wahyu pun segera pergi dari taman itu. Tak memperdulikan Diandra yang meneriaki nya.
"Wahyu, Aku belum selesai bicara!" Teriak Diandra. Namun, Wahyu sudah memasuki mobilnya dan meninggalkan taman itu.
Wahyu benar-benar bimbang dengan perasaannya saat ini.
"Kau ini kenapa, Wahyu!" ucapnya merasa kesal pada dirinya sendiri.
...*******...
Di dalam kamar yang berada di sebuah hotel, wanita muda yang baru semalam menggelar status janda, menggeliat di atas tempat tidurnya kala terdengar suara dering ponselnya.
Awalnya dia membiarkan saja ponselnya berdering, dia pikir pasti itu adalah telepon dari mantan suaminya. Namun, dering ponselnya yang bertalu-talu membuatnya merasa risih dan mau tak mau Naura pun akhirnya bangkit dari ranjang, kemudian mengambil ponselnya yang sedang dia charger di atas nakas.
Setelah melihat siapa yang menelponnya Naura pun tersenyum. Ternyata yang menelponnya bukanlah mantan suaminya, melainkan adalah kakak sepupunya yang dulunya juga adalah dosennya.
"Jahat banget! Ke Palembang gak bilang-bilang sama Kakak. Seharusnya kita buat perpisahan dulu sebelum Kamu pergi." gerutu laki-laki tampan yang bergelar dosen itu.
__ADS_1
"Apa sih, Kak Noval. Aku tuh bukan mau pindah tinggal di sini, nanti Aku juga bakalan pulang kalau kerjaan Aku udah selesai."
"Iya, tapi kan Kamu pasti bakalan lama di sana,"
"Yah pokoknya sampai kerjaan Aku beres lah. Lagian, Kak Noval tau dari mana sih Kalau Aku ke Palembang?"
"Tadi Kakak ke rumah kamu, mau ajak Kamu dan suami Kamu untuk makan malam bareng. Tapi, Paman dan Bibi bilang Kamu ke Palembang, plus Kakak mengetahui fakta mengejutkan dari Paman dan Bibi soal Kamu."
Di sana, Naura terkekeh. Yah, Naura tahu fakta mengejutkan apa yang dimaksud oleh kakak sepupunya itu.
"Emang bener? Kalau Wahyu itu ternyata masih menjalin hubungan dengan kekasihnya di belakang Kamu,"
"Yah gitu deh, Kak." jawab Naura dengan lesu, sebenarnya dia sudah enggan untuk membahas masalahnya lagi dengan Wahyu.
"Yah syukurlah Kamu cepat mengetahui hubungan Suami Kamu dengan kekasihnya itu."
"Cepat apanya, satu tahun loh Aku di tipu" ucap Naura kesal, lagi-lagi diingatkan dengan masa lalunya dengan mantan suaminya itu.
"Ya udah lah, udah terjadi juga. Btw, selamat ya, sekarang Kamu sudah menyandang dua gelar dalam satu tahun ini. Sarjana dan janda, hahaha" gelak tawa Noval malah membuat Naura semakin kesal.
"Gak lucu tau, Kak."
"Oh ya, Kamu tau, siapa kekasihnya Wahyu itu?" tanya Noval lagi.
"Hem," Jawab Naura dengan deheman.
"Siapa?" tanya Noval, penasaran.
'Mendingan Aku gak usah kasih tau deh sama Kak Noval kalau kekasihnya Mas Wahyu itu adalah Bu Diandra, biar nanti Kak Noval tau sendiri.' ucap Naura dalam hati.
"Ada deh, nanti Kak Noval bakalan tau sendiri. Aku tutup teleponnya dulu ya, Kak. Aku laper mau makan, bye Kak Noval." Naura pun menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
Setelah panggilan teleponnya dengan Noval berakhir. Ponselnya Naura kembali berdering, dan tertera di layar ponselnya nama laki-laki yang kini bersebelahan kamar dengannya.