
Sepeninggalan Bayu dan Naura yang kembali ke Palembang melanjutkan pekerjaan mereka di sana, Wahyu juga menjalani hari-harinya seperti biasa. Mencoba berdamai dengan hatinya dengan menyibukkan diri di perusahaan milik papa temannya itu.
Jika sudah tidak ada lagi yang perlu dikerjakannya, Wahyu menambah kegiatannya dengan membaca berbagai macam buku yang sudah dibelinya tempo hari. Jika sudah masuk waktu sholat, Wahyu pun tak ketinggalan melaksanakan kewajiban tersebut sebagaimana mestinya.
Mungkin semua masalah yang di dapatnya selama ini karena dirinya yang jauh dari TUHAN-nya. Setelah melaksanakan shalat Wahyu pun menyempatkan beberapa menit untuk membaca Al-Quran untuk menyejukkan hatinya yang terasa perih setiap kali mengingat kedekatan Naura dan Bayu.
Semua kesibukan yang dilakukannya itu berhasil mengalihkan ingatannya dari dua insan yang selalu mengganggu fikiran nya itu, hingga tak terasa waktu dua bulan pun kini telah berlalu dan Wahyu terlihat semakin membaik dari keterpurukan nya.
Jika Wahyu kini sudah baik-baik saja, berbeda dengan dua insan yang dikabarkan batal menikah dua bulan lalu.
Semenjak kejadian itu, Noval yang periang dan suka menyapa kini berubah menjadi sosok lelaki dingin tak tersentuh. Di kampus tempatnya mengajar, biasanya dia sering bercanda dengan beberapa temannya sesama dosen, bahkan semua mahasiswa mengidolakannya karena sikapnya yang ramah. Namun, kini semua sikap itu tak lagi ada pada dirinya. Datang ke kampus hanya sekedar mengajar tanpa ingin lagi bercanda atau meladeni sikap alay para mahasiswanya. Para temannya sesama dosen sangat menyayangkan perubahan Noval itu, terlebih para mahasiswa yang merasa kecewa karena sikap dingin sang idola.
Sementara Diandra sendiri sejak mengundurkan diri dari kampus tempatnya mengajar, kini berpindah mengajar di kampus lain. Di tempat yang baru tentunya tak mudah bagi Diandra mengakrabkan diri, belum lagi dikampus tempatnya mengajar kini setiap hari Diandra merasa kewalahan mengatasi para mahasiswa yang susah diajak bersosialisasi, berbeda dengan para mahasiswa di tempatnya mengajar dulu, disana para mahasiswa sangat teladan dan berdisiplin. Meski demikian tak membuat Diandra berkecil hati, karena ini adalah keputusannya sendiri, pindah mengajar ke kampus lain demi menghindari Noval yang tanpa sengaja telah dia sakiti.
...*******...
"Papa... Mama... Ayo buruan turun, ini udah jam delapan nanti telat lagi ke bandaranya." teriak Lusi dari ujung tangga.
Tak lama dua paruh baya yang dipanggil papa mama itupun turun dari lantai atas dengan membawa sebuah koper berukuran sedang.
"Ayo berangkat." ujar pak Jhohan pada putri bungsunya itu.
"Lama banget, kayak pengantin baru aja, udah tua juga." gerutu Lusi lalu menarik kopernya sendiri keluar dari rumah.
Pak Jhohan dan istrinya pun hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah putri bungsunya itu.
Hari ini, mereka bertiga akan berangkat ke kota Palembang untuk meresmikan cafe baru pak Jhohan di sana, yang baru selesai dibangun tiga hari lalu.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Lusi dan kedua orangtuanya kini telah sampai dikota Palembang. Ini adalah kali keduanya Lusi datang ke Kota ini, yang pertama adalah saat Naura dan Bayu mengalami kecelakaan. Lain halnya dengan pak Jhohan dan istrinya yang sudah sering datang ke kota tersebut dengan urusan pekerjaan.
Saat tiba di bandara, pak Jhohan langsung membawa istri dan putrinya itu menuju apartemen dimana Bayu dan juga Naura tinggal. Tentu saja pak Jhohan tahu dimana letak apartemen tersebut karena pak Jhohan sendiri lah yang sudah menyediakan apartemen itu.
"Papa beneran gak kasih tau Kak Bayu kalau kita datang hari ini?" tanya Lusi, saat ini mereka berada di dalam taksi yang akan membawa mereka ke apartemen.
"Hem, Papa bilang datangnya besok." jawab pak Jhohan kemudian terkekeh.
"Ish, Papa jahil banget deh." ujar Lusi.
"Iya nih si Papa, ngapain sih pake bohong segala." sahut istrinya pak Jhoha. (Sebut saja saja begitu, dah bingung mo kasih nama toko)
"Papa tuh mau mergokin mereka berdua, kira-kira hari ini mereka lagi ngapain ya?" ucap pak Jhohan sembari senyum-senyum sendiri.
"Pa, jangan berpikiran negatif ya sama anak sendiri. Mama yakin Bayu itu anak baik-baik." protes istrinya pak Jhohan, tak terima dengan ucapan suaminya itu yang seolah menuduh putranya melakukan hal yang dilarang.
"Bilang dari tadi dong, Pa. Bikin orang salah paham aja."
"Iya nih Papa kirain beneran mikirnya gitu." sahut Lusi.
Tak lama kemudian, taksi yang mereka tumpangi itu kini sudah berhenti di depan bangun berlantai.
Setelah membayar ongkos taksi, pak Jhohan langsung menggiring dua wanita berbeda usai itu menuju apartemen yang ditempati Bayu dan Naura yang terletak di lantai tiga.
Waktu menunjukkan sudah pukul sepuluh pagi, entah apa yang dilakukan dua penghuni apartemen itu. Sementara pekerjaan mereka sudah selesai dan hanya tinggal berdiam diri didalam apartemen.
Saat Lusi akan mengetuk pintu apartemen itu pak Jhohan segera menarik tangan putrinya itu mencegah agar tak mengetuk nya.
__ADS_1
"Ada apa sih?" kesal Lusi.
"Gak perlu ketuk, Papa punya kok kunci cadangannya kita langsung masuk aja." jawab pak Jhohan lalu merogoh saku jasnya mengeluarkan kunci cadangan pintu apartemen itu lalu membukanya.
"Sepi banget, pada kemana nih?" Lusi mengedarkan pandangannya didalam apartemen itu mencari dua sosok penghuni apartemen itu.
"Coba Mama cek kekamar Bayu, dan Lusi cek kamar Naura, mungkin saja mereka masih tidur." ucap pak Jhohan memerintah anak dan istrinya.
"Tapi yang mana kamar Naura yang mana kamarnya Bayu?" tanya istrinya pak Jhohan.
"Duh Papa juga gak tau sih, ya udah periksa ajalah Mama periksa kamar utama, Lusi periksa kamar yang didekat dapur itu." perintah pak Jhohan lagi.
Lusi dan mamanya pun segera melaksanakan perintah pak Jhohan dan tak lama terdengar suara teriakan dari arah kamar utama.
Lusi dan pak Jhohan yang terkejut mendengar teriakan itupun segera berlari menuju kamar utama.
"Mama ada apa?" tanya pak Jhohan dan Lusi serentak.
.
.
.
Mampir juga yuk ke novel teman othor 🙏
__ADS_1