
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Naura dan Bayu beriringan keluar kamar menuju ruang makan. Di sana Mama Winda, Tasya dan Lusi sudah menunggu mereka sejak satu jam yang lalu, namun mereka bertiga belum ada yang memulai makan karena menunggu sang pemilik rumah keluar dari kamarnya.
Bayu menghentikan langkahnya saat ponselnya berdering.
"Siapa yang telepon?" tanya Naura, dan Bayu pun memperlihatkan ponselnya pada Naura.
"Oh, ya sudah angkat dulu." kata Naura, dan Bayu pun menganggukkan kepalanya.
Bayu membalikkan badannya kemudian melangkah ke ruang kerjanya, sementara Naura pergi ke kamar Rayan untuk membangunkan putranya itu makan malam.
Saat sampai di ruang kerjanya, barulah Bayu mengangkat panggilan itu sembari mendudukkan tubuhnya di kursi putar.
"Bagaimana, apa Rania sudah bisa memaafkan aku?" tanya seseorang di ujung telepon.
"Belum," jawab Bayu sembari menggelengkan kepalanya seolah lawan bicaranya di sana melihat gelengan kepalanya.
Terdengar helaan nafas panjang dari seberang sana. Ini sudah lima tahun namun dirinya masih belum juga mendapatkan maaf itu.
"Rania sangat marah padamu, katanya kepergian Andi itu gara-gara kamu, andai saja waktu itu kamu tidak meminta Andi datang, mungkin saat ini Andi masih ada dan aku... " Bayu menghentikan kalimatnya, sembari mengusap dadanya.
"Aku mengizinkan jantung suamiku di donorkan pada Pak Bayu, anggap saja sebagai penyempurna kesetiaan suamiku pada Pak Bayu. Itu juga yang diucapkan Mas Andi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ingin mendonorkan jantungnya pada Pak Bayu jika nyawanya tidak bisa diselamatkan."
Ucapan Rania yang diabadikan Naura dalam rekaman suara di ponselnya hampir setiap hari Bayu dengarkan untuk mengenang pengorbanan sekertaris nya itu yang begitu besar sejak masih hidup bahkan hingga tiada pun.
"Terima kasih Andi, untuk membalas pengorbanan mu aku akan membiayai semua kebutuhan Melani dan menyekolahkan nya hingga ke pendidikan tinggi, meskipun suatu hari nanti Rania mendapatkan sosok ayah pengganti untuk Melani." ucap Bayu dalam hati.
"Kamu tenang saja, aku akan berusaha membantumu untuk mendapatkan maaf itu," ucap Bayu pada seseorang di ujung telepon.
"Besok aku, Naura dan Rayan akan pergi menjenguk Rania dan Melani, do'akan saja agar hati Rania luluh." ucapnya lagi.
"Dan kau fokus saja pada pekerjaan mu disana, anggap saja ini sebagai hukuman untukmu karena telah menyebabkan sekertaris ku tiada."
__ADS_1
"Iya, salam untuk Rayan, hanya melihat fotonya saja aku langsung jatuh cinta, dia sangat tampan seperti mu."
"Tentu, aku akan sampaikan salam mu pada Rayan yang terpenting salam itu bukan untuk Mamanya Rayan." ucap Bayu terkekeh, dan membuat lawan bicaranya disana juga terkekeh.
"Jangan khawatir, aku tidak akan berani melakukan itu."
"Baguslah kalau kau sadar diri." ucap Bayu masih dengan terkekeh.
"Oh ya, bagaimana dengan Diandra, apa dia sudah mau bicara?"
"Bahkan Mama Winda hampir setiap hari mendatanginya, namun Diandra masih menutup mulutnya dengan rapat." jawab Bayu.
"Hem, aku sendiri juga tidak tau kenapa Diandra bisa berbuat seperti itu."
"Kalau tebakan ku tidak salah , mungkin itu karena sakit hati." kata Bayu. "Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan, yang terpenting sekarang adalah kau mendapat maaf dari Rania baru aku akan memulangkan mu. Aku tutup teleponnya dulu, keluargaku sudah menunggu di ruang makan." ucap Bayu terkekeh.
Yah, Bayu sudah menganggap bu Winda dan Tasya seperti keluarganya sendiri.
"Titip mereka."
Saat sampai di ruang makan Bayu menyunggingkan senyum melihat pemandangan yang selalu membuatnya bangga pada Rayan. Dimana jagoan kecilnya itu selalu berhasil membuat seisi rumah takluk kepadanya.
Lihat saja tingkah Rayan saat ini yang meminta semua orang berdiri di sampingnya untuk menyuapi nya secara bergilir terkecuali Naura yang diminta hanya duduk manis menemaninya.
"Jagoan Papa ini sudah seperti raja saja ya," ucap Bayu lalu mendudukkan tubuhnya di samping putranya itu.
"Iya, dan kami seperti dayang-dayang nya." celetuk Lusi, dengan menatap bu Winda dan Tasya yang hanya tersenyum.
"Tante Lusi sendiri ya yang bilang, Rayan gak pernah bilang begitu," sahut Rayan dengan mulut penuh sembari mengunyah makanannya.
"Ayo, sekarang giliran Tante Lusi yang suapin Rayan." ucap Rayan.
__ADS_1
"Aduh Rayan, tante juga lapar tau," Lusi memasang wajah memelas nya.
"Tunggu Rayan selesai makan dulu, baru Tante Lusi boleh makan juga." ucap Rayan dan membuat tawa Bayu meledak melihat tampang menyedihkan adiknya.
"Hahaha, anak Papa ini ada-ada saja." Bayu menggeleng gelengkan kepalanya.
"Dasar emang, anak sama bapak sama-sama nyebelinnya!" gerutu Lusi, namun tetap menyuapi keponakan kesayangannya itu, begitupun dengan Tasya dan bu Winda.
Bu Winda sangat menyayangi Rayan dan sudah menganggap Rayan seperti cucunya sendiri, setiap kali melihat Rayan, bu Winda selalu teringat saat Naura mengatakan dirinya keguguran dan saat itu yang dikandung Naura adalah anak Wahyu.
"Andai saja waktu itu Naura tidak keguguran, mungkin Wahyu juga sudah punya anak yang lucu seperti Rayan. Dan aku juga sudah memiliki cucu yang menggemaskan seperti Rayan." bu Winda tersenyum kecut membayangkan hal itu.
"Rayan, sudah ya Nak, biar Mama yang suapin. Kasihan Oma Winda, Tante Lusi dan Tante Tasya juga pasti lapar, kalau mereka sakit karena kelaparan memangnya Rayan bisa ngurusin Oma Winda, Tante Lusi dan Tante Tasya kalau sakit." Naura membujuk putranya itu untuk menghentikan kelakuan konyolnya.
"Kan tinggal dibawa ke rumah sakit, diobati sama Dokter." jawab Rayan tak mau kalah.
"Ya udah gak apa-apa, biar Oma saja yang suapin Rayan, Tante Lusi dan Tante Tasya biarkan mereka makan ya." bu Winda menatap Rayan dengan tersenyum, berharap bocah menggemaskan itu mau mendengarnya.
"Gak boleh begitu, Oma kan yang lebih tua, jadi Oma duluan deh yang makan, Tante Lusi dan Tante Tasya makannya nanti kalau makanan Rayan sudah habis." ucap Rayan, dan membuat Lusi dan Tasya menghela nafas berat sembari mengusap perut mereka yang sudah keroncongan.
"Oh ya Rayan, ada salam untuk Rayan." ucap Bayu berusaha mengalihkan perhatian putranya itu.
"Pasti dari Om itu lagi ya, Pa?" Bayu menganggukkan kepalanya.
"Kapan Om itu kesini bertemu Rayan, kenapa hanya terus mengirim salam?"
"Nanti, saat waktunya sudah tepat." jawab Bayu sembari tersenyum.
"Apa Rayan boleh lihat foto Om itu, Pa?"
"Iya nanti Papa kasih lihat. " Tapi, sekarang Rayan harus belajar makan sendiri, jangan menyusahkan Oma dan Tante terus."
__ADS_1
"Tapi janji ya, Pa, nanti kasih Rayan lihat foto Om itu." Bayu menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, sekarang Oma, Tante Lusi dan Tante Tasya boleh makan, Rayan akan makan sendiri." ucap Rayan lalu mengambil sendoknya dari tangan Lusi.