Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 94. KEMBALI KE JAKARTA


__ADS_3

"Kenapa juga sih harus pindah mengajar?" tanya mamanya Diandra saat putrinya itu baru saja pulang, Diandra yang hendak ke kamarnya menghentikan langkahnya.


"Lihat, kamu jadi kesusahan sendiri karena kampus tempat kamu mengajar sekarang itu lokasinya sangat jauh, gak kayak kampus tempat kamu mengajar yang dulu itu hanya beberapa menit saja sudah sampai." sambung nya, kemudian melangkah mendekati putrinya itu.


Diandra hanya terdiam menatap mamanya tanpa berniat untuk meresponnya.


"Kenapa, apa karena kamu ingin menghindar dari Noval, iya?" tukasnya menatap tak suka pada putrinya itu.


"Makanya sebelum berbuat sesuatu itu dipikirkan dulu konsekuensi nya, kamu itu dosen, Diandra. Seharusnya kamu bisa berpikir jernih saat itu." hardik nya.


"Ma, harus berapa kali sih Aku harus jelasin sama Mama. Aku gak sepenuhnya salah. Aku dan Wahyu itu sudah lama menjalin hubungan jauh sebelum dia menikah dengan Naura!" seru Diandra tak ingin terus-terusan disalahkan.


"Kamu itu wanita berpendidikan tinggi, Diandra. Seharusnya kamu tau mana yang salah dan mana yang benar. Walaupun kamu dan Wahyu itu sudah lama menjalin hubungan seharusnya kamu itu berpikir saat dia sudah memiliki istri, dan itu artinya kamu harus memutuskan hubungan kamu dengan Wahyu. Tapi apa yang kamu lakukan, kamu dan Wahyu tetap berhubungan dibelakang Naura, itu sama saja berselingkuh namanya!" ucap mamanya Diandra dengan ketus.


"Sudahlah, Ma, Aku capek Aku mau istirahat." Diandra pun meninggalkan mamanya begitu saja. Tubuhnya lelah, fikiran nya pun lelah hampir setiap hari memperdebatkan masalah yang sama.


Bukan hanya Noval yang kini membencinya, mama dan papanya pun seolah ikut memusuhinya. Belum lagi tingkah menjengkelkan para mahasiswa dikampus tempatnya mengajar yang baru, membuat kepala Diandra serasa mau pecah. Lelah dengan keadaan yang seakan tak ingin mereda seolah terus menyudutkan nya meski waktu dua bulan kini telah berlalu.

__ADS_1


...*******...


Dua hari telah berlalu semenjak kedatangan Lusi, pak Jhohan dan istrinya di kota yang terkenal dengan jajanan khasnya yang bernama pempek. Malam pun menyapa kota tersebut, dan malam ini adalah malam peresmian pembukaan cafe baru pak Jhohan di kota itu.


Pak Jhohan mengedarkan pandangnya di luar bangunan cafe nya itu sebelum dia menggunting pita yang terbentang dihadapannya. Tatapan kagum terpancar jelas di matanya, bangunan cafe nya ini jauh lebih indah dari bayangannya. Tak sia-sia waktu itu dia menerima usulan Lusi untuk menerima Naura sebagai desain interiornya.


"Pa, ayo gunting pitanya, orang-orang sudah menunggu." tepukan istrinya di pundaknya menyadarkan pak Jhohan dari tatapan kagumnya.


Pak Jhohan menoleh menatap istrinya sembari mengembangkan senyum, lalu mengalihkan tatapannya pada Naura dan Bayu yang berdiri di antara orang-orang yang ikut menyaksikan peresmian itu.


"Yang harus gunting pita ini adalah kalian berdua, karena kalian berdua lah yang berjasa atas kelancaran pembangunan cafe ini. Dan untuk kamu Naura, Om sangat bangga padamu, hasil desain mu sangat luar biasa." puji pak Jhohan.


"Jangan berlebihan seperti itu, Om, Aku hanya melakukan yang terbaik sebatas kemampuan ku saja." ucap Naura. "Alhamdulillah jika Om suka dengan hasilnya, Aku turut senang." sambungnya.


"Dan untuk menggunting pita, Aku rasa Aku tidak pantas, Om. Biar Kak Bayu dan Lusi saja." ucapnya lagi.


"Naura, kamu ajalah sama Kak Bayu, Aku gak mau. Anggap saja sebagai penghargaan atas kerja keras kamu." ujar Lusi, menolak saran temannya itu untuk menggunting pita.

__ADS_1


"Iya, Naura, benar apa yang dikatakan Lusi itu benar. Kalau bukan karena kamu, bangunan cafe ini tidak akan semenakjubkan ini." sahut pak Jhohan.


"Ayo, jangan menunda waktunya lagi, sekarang gunting pitanya, ayo mendekat Bayu." Naura dan Bayu pun akhirnya mengangguk patuh kemudian mengambil gunting dan serentak menggunting pita itu.


Riuh tepukan tangan serta sorak sorai para pengunjung menggema dihadapan cafe baru itu, cafe baru pak Jhohan pun telah resmi di buka.


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali penghuni apartemen itu semua telah bersiap-siap untuk kembali ke ibukota.


Namun, pikiran Naura semakin tak karuan, memikirkan perkataan pak Jhohan yang katanya sudah menyiapkan parcel lamaran di Jakarta, dan hari ini mereka semua akan kembali ke Jakarta.


Apakah pak Jhohan akan benar-benar melakukan apa yang telah diucapkannya itu? Atau itu semua hanyalah candaan semata?


Tak ingin membuat kepalanya pusing karena terus memikirkan hal itu, Naura pun memutar musik di ponselnya lalu menyambungkan headset. Saat ini mereka sudah berada di perjalanan menuju bandara.


Dan hanya butuh waktu kurang dari dua jam, mereka semua kini telah sampai di ibukota.

__ADS_1


__ADS_2