Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 97. TAPI, KAMU PERNAH MENGANDUNG ANAKKU


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Wahyu sembari mengetuk pintu rumah kedua orangtua Naura.


Bu Lastri yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu menemani suaminya segera beranjak membuka pintu, dan seketika terkejut melihat siapa yang datang bertamu.


Meski bu Lastri menampilkan raut wajah tak suka padanya, tapi Wahyu tetap menyapa mantan ibu mertuanya itu dengan senyuman hangat.


"Siapa, Bu...?" teriak pak Agung yang masih berada di ruang tamu.


Namun, bu Lastri tak menjawab suaminya melainkan melangkah keluar dari rumah lalu menarik tangan Wahyu agak menjauh dari pintu.


"Nak Wahyu, mau ngapain lagi kesini?" tanya bu Lastri sembari terus melirik ke arah pintu, takut suaminya itu tiba-tiba keluar dan pastinya akan terjadi keributan lagi bila melihat kedatangan Wahyu.


"Bu, Aku ingin bertemu Naura, sebentar saja, Bu." Wahyu menatap bu Lastri dengan penuh permohonan.


"Tapi Naura nya gak ada, dan sekarang sebaiknya Nak Wahyu pulang aja, takut dilihat bapak dan nanti kalian akan ribut lagi." ucap bu Lastri dengan nada khawatir.


"Emangnya Naura pergi kemana, Bu?" tanya Wahyu, dia tidak perduli dengan kekhawatiran mantan ibu mertuanya itu, bahkan jika pak Agung datang mengajarnya lagi Wahyu tak akan mempermasalahkannya, yang terpenting dia bisa bertemu Naura hari ini juga.


"Ibu gak tau, Naura gak bilang mau pergi kemana, cuma bilang mau ketemu orang dan Ibu juga gak nanya siapa." bu Lastri terus menoleh ke arah pintu.


"Ya udah, kalau gitu biar Aku tunggu Naura disini aja, Bu." ujar Wahyu lalu merendahkan tubuhnya duduk di pekarangan rumah.


"Aduh, Nak Wahyu mendingan pulang aja dulu ya, takutnya Bapak lihat kamu disini pasti nanti akan ribut lagi." bu Lastri memperingati mantan menantunya itu, namun Wahyu tetap kekeuh dengan keputusannya untuk menunggu Naura.


"Bu, udah jangan khawatir gitu, biarin aja Bapak tau Aku disini. Wajar kalau Bapak mau mengajar Aku, Aku ini bukan laki-laki yang baik, Bu." bu Lastri menatap sendu mantan menantunya itu yang juga menatapnya dengan sendu, sebagai seorang ibu, tentu bu Lastri tau kalau sebenarnya Wahyu adalah anak yang baik melihat dari matanya. Namun bu Lastri juga sama kecewanya seperti pak Agung saat mengetahui putrinya telah disakiti oleh laki-laki yang sudah mereka percayakan bisa menjaga putri mereka.


Tak lama, datang sebuah taksi yang singgah di samping mobil Wahyu.


Melihat siapa yang turun dari taksi itu, Wahyu pun dengan cepat berdiri lalu menghampiri Naura yang kini berjalan kearahnya.


"Mas...


"Naura, akhirnya kamu pulang juga," Wahyu tersenyum sumringah, akhirnya yang ditunggu nya datang juga.


"Naura, sebaiknya kamu ikut sama Nak Wahyu dulu ya, dia mau bicara sama kamu. Nak Wahyu kalian bicaranya di tempat lain aja ya, jangan disini." bu Lastri masih terus melirik ke arah pintu rumahnya.


"Naura ayo cepat bawa Nak Wahyu pergi dari sini, cepetan nanti Bapak kamu keluar." Naura pun mengangguk lalu menarik tangan Wahyu menuju mobil mantan suaminya itu.


"Mas, sebaiknya kita ke taman aja," ujar Naura, Wahyu pun mengangguk lalu membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Naura untuk masuk.


"Kamu gak takut?" tanya Wahyu, kini mobilnya sudah melaju ke sebuah taman.


"Enggak." jawab Naura dengan tenang, ia tau maksud pertanyaan mantan suaminya itu.


"Kalau Mas berbuat nekat lagi, kali ini Mas bakalan mati konyol." ucap Naura terkekeh.

__ADS_1


"Ada apa Mas Mau ketemu Aku, emangnya Mas gak takut sama Kak Noval?" tanyanya kemudian tanpa menoleh pada orang yang ditanyai.


"Mas udah izin," jawab Wahyu, tatapannya fokus pada jalanan didepannya.


"Terus, diizinkan sama Kak Noval?"


"Ya iyalah, kalau enggak ya gak mungkin sekarang Mas kerumah kamu."


"Hem, emangnya ada perlu apa Mas mau ketemu Aku?"


"Nanti aja Mas kasih tau, sekarang kita ke cafe biasa dulu,"


"Loh, bukannya tadi mau ke taman ya?"


"Gak, kita ke cafe aja, Mas lapar."


Naura pun diam, sembari menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, mobil Wahyu pun sudah terparkir rapi di pelataran cafe yang sering dia datangi bersama Naura dulu.


"Masih ingat sama cafe ini kan?"


"Hem," Naura menjawab dengan deheman sembari membuka seat belt nya.


"Loh, emangnya kamu gak mau makan?" Naura menggelengkan kepalanya.


"Aku udah kenyang, Mas."


"Ya udah kalau gitu, kamu temenin Mas makan ya sambil ada yang Mas mau omongan sama Kamu." Naura pun mengangguk lalu turun dari mobil kemudian disusul dengan Wahyu yang juga turun dari mobilnya.


Didalam cafe, Wahyu terus menatap Naura sembari menunggu pesanan makanannya datang, namun tak ada ekpresi apapun pada tatapan Wahyu itu, tatapan Wahyu seolah terlihat kosong namun ia sedang menatap mantan istrinya.


"Mas, kenapa lihatin Aku terus kayak gitu?" Naura merasa risih terus ditatap oleh Wahyu meski tak ada tampang kejahilan pada tatapan itu, seperti dulu.


"Maafin, Mas ya," ucap Wahyu dengan lirih.


"Udah di maafin." jawab Naura acuh.


Tak lama pesanan makanan Wahyu pun datang. Karena memang merasa sangat lapar Wahyu makan dengan sangat lahap dan sejenak mengabaikan Naura yang duduk di hadapannya.


Setelah selesai makan, Wahyu memanggil pelayanan lalu membayar makanannya, dan setelah itu dia mengajak Naura pergi dari sana.


"Ayo kita pergi, ngobrolnya di tempat lain aja." ujar Wahyu lalu beranjak dari tempat duduknya.


Meski merasa kesal Naura pun menurut dan mengikuti Wahyu kembali masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Dan tak lama kemudian mobil Wahyu berhenti di depan sebuah rumah yang sudah dibelinya beberapa saat yang lalu.


"Ini rumah siapa, Mas?" tanya Naura mengalihkan tatapan dari rumah itu pada Wahyu.


"Rumah kamu," jawab Wahyu dan membuat Naura membulatkan matanya.


"Rumah Aku, maksud Mas apa? Jangan bercanda ya, Mas." Naura mulai menujukan reaksi tak sukanya.


"Jangan salah paham dulu, ini yang dari tadi Mas mau omongin. Ayo turun, kamu lihat langsung rumahnya, atau kalau ada yang gak kamu suka tinggal bilang aja, nanti Mas bakal suruh orang buat renovasi.''


"Mas, jelaskan dulu ini apa maksudnya? Kenapa ini bisa rumah Aku, sementara Aku gak ngerasa pernah beli rumah." suara Naura mulai meninnggi.


"Mas yang belikan buat kamu, anggap saja sebagai harta gono gini."


Naura terdiam sembari menghela nafasnya, sekali lagi dia menatap rumah itu lalu beralih menatap Wahyu.


"Yang gugat cerai Mas itu Aku sendiri, dan Aku juga gak pernah menuntut apapun dari Mas, jadi Mas gak perlu repot-repot kasih Aku rumah." Naura menatap lekat Wahyu yang juga menatapnya.


"Lagipula, pernikahan kita hanya satu tahun dan itu tidak berarti apa-apa buat Aku." sambungnya lalu memutus kontak matanya dari Wahyu.


"Tapi, kamu pernah mengandung anakku, yah walaupun kita sama-sama tidak tahu," ucap Wahyu dengan lirih.


"Naura, Mas mohon tolong terima rumah ini." ucap Wahyu dengan tatapan memohon.


"Mas akan semakin merasa bersalah jika kamu menolaknya." ucapnya lagi.


"Aku udah nyaman tinggal sama Ibu dan Bapak," ucap Naura dengan pelan.


"Kalau kamu tidak ingin menempatinya, setidaknya kamu terima rumah ini dan itu sudah cukup buat Mas senang." Wahyu tersenyum namun dibalas dengan lirikan tak suka.


"Terima rumah ini ya, terserah kamu mau apakan, mau kamu sewakan juga gak apa-apa yang penting kamu mau terima rumah ini." sekali lagi Wahyu memohon.


"Rasanya percuma jika Aku terus menolak, lebih baik sekarang Mas antarkan Aku pulang." ucap Naura dan Wahyu pun mulai melajukan mobilnya.


Setelah sampai didepan rumah orangtuanya Naura, Wahyu dengan cepat menyodorkan map yang berisi sertifikat rumah, saat Naura hendak turun dari mobilnya.


"Terima kasih ya, sudah mau menerima rumah itu." Naura hanya mengangguk.


"Mas," panggil Naura, saat Wahyu hendak menutup pintu mobilnya.


"Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga anak kita, seandainya Aku tau kalau Aku sedang hamil, mungkin dia masih ada." ucap Naura merasa bersalah sembari mengusap perutnya.


"Udah gak usah terlalu difikirkan, itu bukan salah kamu. Mungkin jodoh kita hanya ditakdirkan sebatas satu tahun itu, dan lihatlah bahkan anak pun seolah tidak diizinkan hadir di antara kita." ucap Wahyu sedikit bergurau.


"Mas pamit ya, takut keburu dilihat sama Bapak. Mas gak siap kalau dibikin babak belur lagi, bekas dihajar sama Noval aja masih sedikit sakit." ucapnya terkekeh, dan Naura pun tanpa sadar ikut tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2