Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 61. DUA TEMPAT BERBEDA


__ADS_3

Setelah selesai makan, Naura membawa piring bekasnya dan juga Bayu ke dapur, sementara Bayu membereskan sisa lauk pauk dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin.


Saat Bayu akan menghampiri Naura yang sedang mencuci piring dan perabotan yang dipakainya memasak, ponsel Bayu berdering. Bayu pun mengangkat panggilan itu lalu kembali duduk di meja makan.


"Halo Bro," ucapnya setelah menjawab panggilan dari temannya yang tak lain adalah Wahyu.


"Bro, gimana keadaan Kamu? Katanya, mobil yang Kamu tumpangi itu mengalami kecelakaan." disana, suara Wahyu terdengar khawatir.


"Gak apa-apa. Cuma kecelakaan ringan aja kok, gak sampai buat Aku koma," canda Bayu, dan terdengar helaan nafas lega diseberang sana.


"Syukurlah kalau Kamu gak apa-apa, Aku lega banget dengarnya." kata Wahyu, saat ini dia tengah berada di cafe menunggu Diandra yang lagi-lagi mengajaknya bertemu.


"Jaga perusahaan ya Bro. Papa sedang menurun kesehatannya, jadi untuk sementara waktu Kamu dan Andi yang Aku percayakan mengurus perusahaan sampai Aku kembali." kata Bayu, dia benar-benar berharap pada kedua temannya itu untuk mengelola perusahaan Papa nya selama dia berada di Palembang.


"Kamu tentang saja, Bayu. Aku dan Andi akan berusaha semaksimal mungkin mengurus perusahaan. Pokoknya, Kamu fokus saja sama pekerjaan Kamu di sana. Oh ya, ngomong-ngomong gimana keadaan gadis itu, apa dia juga baik-baik saja?" tanya Wahyu, jujur dia merasa penasaran dengan gadis yang saat ini bersama Bayu.


"Em, iya Dia baik-baik aja kok. Udah sehat malah, tuh lagi cuci piring padahal baru keluar dari rumah sakit." ujar Bayu, menunjuk ke arah Naura seolah Wahyu melihatnya.


"Oh, syukurlah kalau gitu. Eh, Aku video call ya, Aku jadi penasaran mau lihat gadis itu," di sana Wahyu mengedipkan sebelah matanya seolah Bayu ada di hadapannya.


"Ok, eh tapi awas ya jangan sampai naksir! Dia cantik banget loh," ujar Bayu, lalu mengalihkan panggilan suara itu ke panggilan video.

__ADS_1


"Wow, ceria banget tuh muka kelihatannya ya. Jangan-jangan udah jatuh cinta nih?" setelah panggilan video tersambung, Wahyu jadi heboh sendiri melihat wajah Bayu yang terlihat sangat ceria, menambah kesan ketampanan temannya itu.


"Eh, mana orangnya? Arahin kameranya ke Dia," pinta Wahyu tak sabaran. Namun, saat Bayu mengarahkan kameranya pada Naura yang masih mencuci piring, tiba-tiba panggilan video itu berakhir.


"Ah, gimana sih? Katanya mau lihat, tapi malah di matiin. Payah!" ujar Bayu, menatap kesal layar ponselnya.


Bayu pun menghampiri Naura yang masih mencuci piring. Tadi, Bayu berniat ingin membantu Naura, namun tak jadi karena temannya menelpon. Dan sekarang Bayu akan melanjutkan niatnya untuk membantu Naura.


Namun, saat Bayu sudah berdiri di samping Naura, ternyata Naura sudah selesai mencuci piring. Bayu pun hanya bisa menyengir serta menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa, Kak?" tanya Naura, merasa aneh melihat tingkah Bayu.


"Ah, gak apa-apa." jawab Bayu, kemudian membalikkan badannya lalu melangkah ke arah kamarnya.


Di dalam kamar, Bayu bersandar pada pintu yang baru saja dia tutup. Bayu memegangi dadanya yang detaknya tiba-tiba menjadi tak beraturan setelah tadi bertatap muka dengan Naura.


"Ya Tuhan, kenapa Aku bisa sampai segininya. Apa benar yang dikatakan Wahyu, kalau Aku memang sudah jatuh cinta" gumam Bayu, sembari memejamkan matanya. Sebelah tangan masih bertengger di dadanya yang terasa sudah mulai beraturan detaknya. Bayu pun mengembangkan senyum dengan masih memejamkan mata, kala terlintas wajah Naura di indra penglihatannya.


...........


Di lain tempat, tepatnya di sebuah cafe di ibukota. Sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan hingga tujuh tahun lamanya, kini duduk berhadapan. Namun, tatapan mereka tak saling bertemu.

__ADS_1


Wahyu masih menatap layar ponselnya, yang sebelumnya tersambung panggilan video bersama Bayu. Namun, harus dia akhiri karena kedatangan Diandra.


"Apakah sekarang menatap layar handphone sudah menjadi hobi mu?"


Kalimat tanya yang meluncur dari bibir Diandra membuat laki-laki yang bersatu seorang duda itu terkesiap, lalu dengan cepat mengangkat pandangannya menatap kekasihnya itu.


"Ah, ini tadi Aku habis menelpon Bayu. Kau masih ingat kan dengan Bayu? Sekarang Dia sudah kembali dari luar Negeri." ucap Wahyu, mencoba memecahkan kecanggungan diantarnya dan Diandra dengan sedikit berbasa-basi.


"Wahyu, Aku mengajakmu bertemu di sini bukan untuk membahas hal lain, tapi Aku ingin meminta kepastian mu soal hubungan kita. Kau sudah bercerai dari Naura, lalu apalagi yang membuatmu terus menggantung hubungan kita?" nada bicara Diandra terdengar sedikit kesal.


"Aku sudah bilang kan sebelumnya, Diandra. Tolong beri Aku waktu untuk memikirkannya, tidak semudah itu lagi pula Aku juga baru saja bercerai dengan Naura, tidak mungkin Aku langsung menikahimu." ucap Wahyu, dengan nada yang terdengar sama kesalnya seperti Diandra.


"Omong kosong apa ini, Wahyu?! Kau seolah mempermainkan Aku. Kalau merasa tidak yakin dengan hubungan kita, kenapa tidak Kau akhiri saja. Aku capek terus Kau gantung seperti ini, Aku juga butuh kepastian bukan terus menunggu alasanmu yang tak jelas itu!" sarkas Diandra. Sebelumnya dia mengajak Wahyu bertemu kembali dengan harapan Wahyu sudah akan memberikan kepastian tentang hubungan mereka. Namun, lagi-lagi Diandra harus merasa kecewa dengan jawaban yang dia dapatkan dari kekasihnya itu.


"Sudahlah Wahyu, rasanya percuma saja terus berharap padamu. Aku capek!" sarkas Diandra, kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah meninggalkan Wahyu.


"Diandra, apa maksudmu?!'' teriak Wahyu yang baru tersadar akan ucapan Diandra barusan. Namun, Diandra sudah melangkah semakin jauh tak memperdulikan teriakan Wahyu padahal dia mendengarnya.


" Wahyu pun berlari keluar menyusul Diandra. Namun, sayangnya dia terlambat, Diandra sudah masuk kedalam sebuah taksi dan taksir itu sudah melaju dengan kencang meninggalkan pelataran cafe.


"Ah sial!!!" kesal Wahyu, menghempaskan sebelah tangannya di udara.

__ADS_1


Setelah kehilangan istrinya, apakah dia juga akan kehilangan kekasihnya? Sungguh, Wahyu akan benar-benar sendiri jika itu benar terjadi.


__ADS_2