Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 46. MENANDATANGANI SURAT CERAI


__ADS_3

"Mas, aku mohon jangan seperti ini" Ucap Naura, merasa risih dengan sikap suaminya yang terus saja menempel seperti anak bayi yang ingin menyusu.


Yah, setelah Wahyu memohon dengan sangat agar istrinya untuk menginap dirumahnya malam ini sebelum besok pagi dia menandatangani surat cerai, akhirnya Naura pun menyetujui permintaan suaminya itu, toh besok mereka juga akan sudah resmi bercerai, pikir Naura.


Namun, yang didapati Naura malam ini hanyalah kekesalan karena sikap suaminya yang sangat berlebihan menurutnya. Bagaimana tidak, setelah usai makan malam dan kembali masuk ke kamar, Wahyu terus menempel pada istrinya itu. Padahal Naura sudah memperingati sebelumnya.


"Naura, Mas mohon jangan menolak Mas malam ini, Mas kangen. Besok kita sudah bukan suami istri lagi, jadi Mas mohon agar malam ini kita membuat kenangan" Ucap Wahyu memohon, dan membuat Naura begitu jengah mendengarnya.


Kenangan apa yang ingin dibuat suaminya ini?


Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, dengan cepat Wahyu meletakkan kepalanya di pengakun Naura, lalu memeluk tubuh itu dengan kencang agar tak terlepas walau Naura memberontak.


Naura ingin berdiri dan menggeser kepala suaminya itu, namun Wahyu mengencangkan pelukannya sehingga Naura tidak bisa bergerak.


"Mas, apa-apaan ini? Mas tidurlah dan selesaikan urusan kita besok pagi, setelah itu terserah Mas mau melakukan apa, aku tidak akan pernah perduli lagi. Kalau perlu Mas nikahi Bu Diandra setelah menceraikan aku!" Ujar Naura dengan nada yang tinggi.


Namun Wahyu, bukannya menuruti apa yang dikatakan istrinya, dia malah berkata sesuatu yang membuat Naura sedikit tersentak kaget.


"Naura, asal kamu tau. Selama ini Mas berharap disini akan tumbuh benih cinta kita" Ucap Wahyu sembari mengusap perut istrinya.


Mendengar penuturan suaminya itu Naura malam terkekeh. Bukan karena senang, namun karena menertawai kebodohan suaminya itu.


"Benih cinta apa yang Mas maksud, huh? Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi. Bagaimana benih cinta itu akan hadir, sementara Mas sendiri tidak pernah mencintai aku, selama ini semuanya hanya kepalsuan belaka!" Sarkas Naura, membuat Wahyu yang memeluk istrinya itu hampir saja menitihkan air matanya. Yah, Wahyu merutuki kebodohannya itu.


"Naura, apa kamu akan percaya? Jika Mas mengatakan, kalau Mas telah jatuh cinta padamu, yah Mas baru menyadari ternyata Mas mulai mencintaimu" Ucap Wahyu sembari mengencangkan pelukannya.


"Mas aku mohon lepas! Tidak usah berlebihan seperti ini, dan aku tidak akan mempercayai ucapan Mas. Bagaimana Mas bisa mengatakan mencintai aku, sementara aku sendiri mendengar dengan jelas waktu itu Mas mengatakan sangat mencintai Bu Diandra. Tidak ada cinta yang diucapkan sana sini, Mas. Itu namanya bukan cinta tapi hanya obsesi, yah Mas hanya terobsesi pada tubuhku, iya kan Mas?" Perlahan, Naura memelankan suaranya. Rasanya sudah terlalu lelah bahkan hanya sekedar untuk berbicara pada suaminya ini, lelaki itu seperti tak akan ada habisnya membuatnya kesal.

__ADS_1


"Maafkan Mas Naura" Hanya kata itu yang mampu Wahyu ucapkan, dia pun rasanya begitu malu mengatakan cinta pada istrinya itu. Sementara dia sendiri telah mencintai wanita lain sejak dulu. Yah, mungkin benar yang dikatakan oleh istrinya itu, itu bukan cinta tapi itu hanya obsesi.


Wahyu tak bisa menyangkal selama satu tahun ini dia sangat menikmati hari-harinya bersama Naura walaupun sebenarnya dia tidak mencintai istrinya itu, dia hanya mencintai Diandra kekasihnya sejak masa SMA.


Yah, walau dengan begitu wahyu benar-benar menikmati pernikahan yang tanpa didasari cinta didalamnya. Bagaimana dia yang seakan tidak pernah puas menikmati tubuh istrinya yang mana membuat Naura merasakan itu adalah bentuk cinta suaminya.


"Mas, tidurlah dan bangunlah esok pagi untuk menyudahi hubungan kita. Aku lelah, aku tidak ingin hubungan yang seperti ini" Ucap Naura sendu, dia benar-benar merasa lelah, hatinya sangat lelah memikirkan waktu yang terbuang percuma selama satu tahun ini.


"Naura, apakah setelah esok kita masih akan saling mengenal? Naura, Mas mohon jangan pernah menghindari Mas walaupun nanti kita bukan suami istri lagi"


"Tidakkah aku terlalu jahat jika melakukan itu. Setelah esok aku bukanlah siapa-siapa Mas lagi, jadi tidak ada larangan bila Mas datang menawarkan pertemanan denganku, tapi aku mohon jangan pernah mengungkit apapun lagi tentang hubungan kita. Anggap saja kita baru mengenal dan tidak memiliki hubungan apapun sebelumnya"


"Terima kasih, Naura. Mas memang laki-laki yang bodoh karena telah menyia-nyiakan istri sebaik kamu" Sesal Wahyu. Yah dia menyesali atas apa yang sudah dia perbuat nya pada istrinya itu.


"Sudahlah Mas, lebih baik Mas sekarang tidur, aku akan membiarkan Mas tidur dipangkuan ku malam ini asalkan Mas tidak meminta lebih" Ucap Naura, perlahan dia juga memejamkan matanya, rasanya dia juga sudah sangat mengantuk.


"Dulu aku sangat menikmati setiap apa yang kita lakukan, karena aku berpikir kita sama-sama sudah saling mencintai. Dan jika malam ini aku menyerahkan tubuhku pada Mas, aku sama saja seperti wanita penghibur yang melayani laki-laki hidung belang. Wanita penghibur akan dengan suka rela melayani laki-laki yang tidak mencintainya"


Mendengar ucapan istrinya itu, Wahyu pun segara bangkit dan mengangkat kepalanya dari pangkuan Naura. Entah kenapa dia merasa tak suka istrinya itu menyamakan dirinya dengan wanita penghibur.


Apakah segitunya istrinya itu membenci pernikahannya? Yah, Wahyu akui dia memang salah karena sudah menipu istrinya dengan cinta palsu, tapi bukankah mereka itu adalah pasangan suami istri yang sah. Jadi apa salahnya melakukan hubungan suami istri walaupun tidak didasari dengan cinta didalamnya.


"Naura, apa yang kau katakan? Kenapa kau berbicara seperti itu?"


"Kenapa Mas? Ucapan ku tidak salah kan? Wanita penghibur akan dengan suka rela melayani laki-laki yang tidak mencintainya" Ujar Naura, mengulang ucapannya sehingga membuat Wahyu menggeram marah.


"Tapi kau tidak perlu menyamakan dirimu dengan mereka, Naura. Kau itu istriku, bukan wanita penghibur!" Ucap Wahyu dengan meninggikan suaranya, benar-benar tidak menerima dengan apa yang diucapkan oleh istrinya itu.

__ADS_1


Jika Naura menganggap dirinya seperti wanita penghibur karena sudah melayaninya yang tidak mencintainya, lalu sebutan apa untuk Wahyu yang sudah meniduri istri yang tidak dicintainya?


Ah, itu sama sekali tidak bisa diterima oleh akal sehat Wahyu. Wahyu berpikir Naura sudah gila, bisa-bisanya istrinya mengatakan hal seperti itu.


Naura terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Naura sendiri bingung kenapa bisa mengatakan hal demikian.


"Baiklah kalau kau mengatakan dirimu seperti wanita penghibur... " Wahyu pun beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkah menuju nakas yang berada disamping ranjang lalu mengeluarkan map coklat yang berisikan surat gugatan cerai dari istrinya, dari dalam laci.


"Kau menyamakan dirimu dengan wanita penghibur kan, huh? Baiklah, Mas akan tunjukkan apa itu wanita penghibur" Wahyu pun membuka map coklat itu dan mengeluarkan selembar surat gugatan cerai dari Naura beberapa hari yang lalu.


Kilatan kemarahan terlihat jelas dimata Wahyu, entah apa yang membuatnya begitu marah? Apa hanya karena ucapan istrinya beberapa saat lalu yang mengatakan dirinya sendiri seperti wanita penghibur, entahlah?


"Seorang wanita penghibur akan diusir dengan tidak terhormat setelah selesai digunakan jasa nya" Ucap Wahyu sembari menorehkan tanda tangannya di atas surat cerai itu.


"ini, Mas sudah menandatangani nya dan sekarang kau bisa pergi, Mas sudah selesai menggunakan jasamu. Terima kasih atas satu tahun ini, kau memang selalu bisa memuaskan Mas di atas ranjang!" Wahyu pun melemparkan surat cerai yang sudah ditandatangani nya itu ke atas pangkuan Naura, kemudian memalingkan wajahnya serta mengusapnya dengan kasar.


Sementara Naura hanya bisa tercengang dengan apa yang baru saja terjadi, menatap kearah surat cerai yang berada di pangkuannya.


Wow! Segitunya efek dari ucapannya beberapa saat yang lalu, kenapa suaminya itu sampai semarah itu?


Perlahan Naura meraih surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Wahyu kemudian memasukkan kembali ke dalam map, lalu Naura pun beranjak dari tempat duduknya.


"Terima kasih" Ucap Naura, kemudian melangkah keluar dari kamar itu.


Yah, Naura akan pergi dari rumah itu malam ini juga tanpa menunggu esok pagi, tanpa berpamitan dengan Bu Winda dan Tasya.


Pernikahannya dengan Wahyu sudah benar-benar berakhir sekarang. Wahyu dan Naura telah resmi bercerai.

__ADS_1


"Aaaaaaa....!!!" Wahyu berteriak frustasi setelah Naura berlalu dari kamarnya, sedikit penyesalan sudah menandatangani surat cerai itu hanya karena kemarahan yang tak berdasar.


__ADS_2