
Hari ini juga Naura sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Namun, tetap harus menjaga kondisinya yang belum sepenuhnya pulih pasca keguguran.
Walaupun sempat berdebat dengan Bayu dan Pak Agung, akhirnya Naura pun mendapat persetujuan dari bapaknya untuk tetap di Palembang meski kondisinya belum pulih benar.
Naura merasa tidak enak pada pak Jhohan kalau harus menunda pekerjaannya lagi. Walaupun Bayu sudah memberinya pengertian, namun Naura tetap akan melanjutkan pekerjaannya. Baginya, ini adalah kesempatan untuk mengembangkan bakatnya.
Saat ini, Bayu, Naura, Lusi serta pak Agung dan bu Lastri sedang berada di bandara. Sore ini juga, Lusi, pak Agung dan bu Lastri akan kembali ke Jakarta.
"Ra, Kamu yakin tetap mau lanjutkan pekerjaan Kamu? Kondisi Kamu belum pulih bener loh," Kata Lusi, merasa khawatir pada temannya itu. "Kamu ikut pulang ke Jakarta aja ya, Ra." mohon Lusi. Entah sudah berapa kali Lusi memohon pada temannya itu agar mau ikut pulang ke Jakarta. Namun, Naura menolak dengan tegas.
Naura tersenyum pada temannya itu, kemudian meraih tangan Lusi kedalam genggamannya.
"Jangan khawatir, Aku udah mendingan kok" kata Naura, kemudian memeluk temannya itu. Naura benar-benar merasa beruntung memiliki teman seperti Lusi yang sangat perduli dan perhatian padanya.
"Titip Ibu dan Bapak ya, hati-hati di jalan, kabari kalau sudah sampai." sambungnya, lalu mengurai pelukannya dari tubuh Lusi.
"Iya, Ra. Kamu jangan khawatir. Nanti, Aku pasti akan sering-sering mengunjungi Ibu dan Bapak Kamu." ucap Lusi, lalu beralih menatap kakaknya.
"Kak Bayu, pokoknya Kakak harus jagain Naura. Jangan sampai Naura kenapa-kenapa lagi,"
Namun, Bayu hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab adiknya itu. Sebelumnya dia sudah berjanji pada pak Agung dan bu Lastri akan menjaga putri mereka. Tetapi, mereka mengalami kecelakaan yang menyebabkan Naura keguguran, meski itu bukanlah salahnya tetapi tetap saja Bayu merasa lalai.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar pengumuman panggilan untuk para penumpang agar segera menaiki pesawat.
__ADS_1
Setelah pesawat yang ditumpangi oleh Lusi, pak Agung dan bu Lastri, lepas landas. Naura dan Bayu pun meninggal bandara, menuju ke apartemen tempat mereka akan tinggal. Kali ini mereka menggunakan taksi, karena mobil yang sebelumnya mereka pakai sedang berada di bengkel karena mengalami kerusakan yang lumayan parah di bagian depannya.
Sesampainya di apartemen, Bayu langsung menunjukkan di mana Kamar Naura, sementara kamar Bayu sendiri berada di dekat dapur. Bayu lebih mengutamakan kenyamanan untuk Naura daripada untuknya sendiri. Bukan hanya karena dia menyukai gadis kecil itu, namun juga karena sudah berjanji pada orang tua Naura akan memenuhi semua kebutuhan putri mereka.
"Kak, biar Aku saja yang di kamar didekat dapur itu, Kak Bayu di kamar ini saja." kata Naura, merasa tak enak pada Bayu bila dia yang menempati kamar utama.
"Gak apa-apa, Aku biar dikamar yang dibelakang aja. Dan kamu di sini."
"Udah, stop gak usah bantah!" perintah Bayu, saat Naura akan kembali berbicara.
"Sekarang Kamu masuk ke kamar, istirahat. Besok kita akan ke lokasi pembangunan cafe nya," kata Bayu, kemudian menggeledah saku jasnya mengeluarkan ponsel Naura dari dalam sana. "Ini ponsel Kamu, beruntung tidak rusak." ujar Bayu, memberikan ponsel Naura.
Naura pun menyambut ponselnya dari tangan Bayu, lalu tersenyum pada laki-laki itu. "Terima kasih, Kak." ucapnya, lalu membuka pintu kamarnya. Naura tercengang melihat isi kamar itu yang sangat luas, bahkan tiga kali lebih luas dari kamarnya.
Naura terkesiap mendengar kalimat tanya, namun terdengar seperti kalimat ancaman untuknya. Naura pun akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar itu, kemudian menutup pintunya dan sebelumnya tersenyum pada Bayu.
Setelah Naura masuk ke kamarnya, Bayu pun berlalu dari depan kamar itu, lalu melangkah ke keluar menuju lift. Yah Bayu akan pergi ke minimarket untuk membeli beberapa bahan masakan.
Selama berada di luar Negeri, Bayu lebih memilih untuk memasak sendiri daripada harus membeli makanan di luar karena lebih terjamin kehigienisan nya. Jangan tanya Bayu bisa memasak belajar dari mana? Tentu saja dia mengandalkan salah satu peralatan elektronik yang bernama smartphone. Hingga, lama-kelamaan Bayu bisa menghafal bumbu-bumbu dan cara memasak tanpa harus melihat resep lagi.
Satu jam kemudian, Bayu kembali ke apartemen dengan membawa dua kantong plastik berukuran besar yang berisi beberapa macam sayur-sayuran, daging, ayam, telor, ikan serta lengkap dengan berbagai macam bumbu dapur.
Bayu pun langsung menuju dapur, kemudian menata barang belanjaannya sesuatu tempat. Seperti sayur-sayuran, ikan, telor serta ayam dan daging dia masukkan ke dalam kulkas. Kemudian, bumbu-bumbu yang berjenis bubuk dia masukkan kedalam wadah yang khusus beserta rangkaian bahan pokok untuk masakan seperti garam, penyedap dan juga gula. Bayu mengerjakannya dengan sangat rapi seperti seorang yang sudah profesional.
__ADS_1
Setelah semuanya beres, Bayu pergi ke kamarnya yang berdekatan dengan dapur lalu mandi. Setelah mandi, Bayu kembali lagi ke dapur untuk memasak makan malam untuknya dan Naura melihat jam yang menunjukkan sudah masuk waktu maghrib.
Naura yang baru saja selesai menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim merasa bosan didalam kamarnya, diapun memutusukan keluar kamar untuk melihat pemandangan di luar, namun saat melintasi dapur Naura mendengar suara seperti sedang mengongseng dari arah dapur. Naura pun pergi ke dapur untuk melihat sumber suara itu.
Sesampainya di dapur, Naura tercengang melihat pemandangan di depannya. Laki-laki yang beberapa saat lalu bersamanya datang ke apartemen ini, dengan gesit nya menggunakan beberapa peralatan masak. Tatapan Naura tertuju pada meja makan, disana sudah tersedia ayam goreng serta sayur sup.
Merasa tak enak, Naura pun mendekati Bayu lalu mengambil alih spatula di tangan Bayu yang sedang mengaduk sambal didalam wajan.
"Kenapa gak menyuruh Aku yang memasak? Kenapa Kak Bayu masak sendiri?" tanya Naura tanpa melihat ke arah Bayu. Naura mencicipi sambal yang dibuat oleh Bayu, dan Naura merasakan seperti ada yang kurang.
"Garamnya kurang sedikit lagi," ujar Naura, dan Bayu pun dengan cepat mengambil wadah garam kemudian memberikannya pada Naura.
"Maaf kalau masakan Aku tidak enak, maklum Aku hanya melihat resep di internet," ujar Bayu tersenyum canggung.
"Lain kali biar Aku yang memasak. Kenapa tadi tidak menyuruh Aku yang memasak?" kata Naura, mengulang pertanyaannya yang belum dijawab oleh Bayu.
"Mana mungkin Aku menyuruhmu memasak, sementara Kamu saja baru keluar dari rumah sakit." Jawab Bayu, lalu mengambil wadah untuk sambal yang sudah dibuatnya dan juga sudah disempurnakan rasanya oleh Naura.
Sementara Naura, mengambil nasi serta piring dan sendok lalu membawanya ke meja makan.
Naura dan Bayu pun makan dalam diam, karena sudah memang kebiasaan Naura yang tidak suka berbicara saat makan. Sementara Bayu sendiri sesekali melirik ke arah Naura yang terlihat fokus dengan makanannya.
Bayu tersenyum melihat Naura yang makan dengan lahap, makanan yang sudah di masaknya. Entah bagaimana rasanya di lidah Naura, namun gadis kecilnya itu terlihat sangat menikmati makanannya.
__ADS_1
Salah satu keahlian Bayu yang membuatnya merasa bangga pada dirinya sendiri, ialah bisa memasak.