Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 108. SEMUANYA SUDAH BERAKHIR


__ADS_3

"Kangen," kalimat pertama yang diucapkan Bayu saat wajah Naura sudah terlihat di layar ponselnya.


"Ucapin sama dulu, Kak. Assalamualaikum," ucap Naura memperingati calon suaminya itu. "Kebiasaan deh, Kak Bayu ini."


"Hehehe, maaf, lupa karena saking kangennya." ujar Bayu sambil cengengesan.


"Modus aja, baru juga tadi dari sini." dengus Naura.


Namun, dalam hati Naura tersenyum, beginikah sesungguhnya cinta? Akan membuat orang yang terlihat tegas sekalipun akan bertingkah seperti anak kecil jika sedang jatuh cinta. Bahkan mengalahkan manjanya seorang anak kecil.


Dan itulah yang terjadi pada Bayu saat ini, sosok yang terkenal tegas itu kini berubah kekanak-kanakan jika berhadapan dengan seorang Naura Anindhita, wanita muda dengan status jandanya.


"Emangnya kamu gak kangen apa sama Aku, huh?" Bayu sampai tak berkedip saat Naura mengerucut bibirnya sembari menggeleng pelan.


"Enggak sama sekali." kata Naura, lalu terkekeh.


"Ah, gak asyik nih, masa cuma Aku aja yang kangen." dengus Bayu.


"Ya resiko Kak Bayu sendiri, siapa suruh pake acara kangen padahal baru juga dari sini, lebay!" ucap Naura diiringi dengan senyuman nya.


Melihat senyum Naura sejenak hati Bayu menghangat, inilah yang dia rindukan bila tak bertemu dengan gadis kecilnya itu, namun untuk beberapa hari ini dirinya harus menahan untuk tak melihat secara langsung senyum yang mampu memporak-porandakan hatinya.


"Kak, coba arahin kameranya ke ke bawah," perintah Naura sesaat dia menyadari akan kebiasaan calon suaminya ini.


"Ke bawah mana?" tanya Bayu dengan bingung.


"Ke kaki Kak Bayu." Bayu pun mengarahkan ponselnya ke arah kakinya.


"Tuh kan, kebiasaan sepatu nya aja belum di buka, baju juga belum ganti langsung mainan handphone aja. Sekarang cepetan Kak Bayu buka sepatunya dulu terus ganti baju biar enakan dilihatnya."


"Ya udah bentar ya," Bayu pun meletakkan ponselnya di atas nakas dengan posisi tegak dan kamera yang mengarah padanya, sehingga di sana Naura bisa melihat Bayu sedang membuka sepatunya.


"Kak Bayu... " pekik Naura saat Bayu mulai membuka kancing kemejanya.

__ADS_1


Dengan cepat Bayu berlari ke arah ponselnya mendengar teriakan Naura, dalam keadaan dadanya sudah terekspos setengahnya dan tanpa Bayu sadari itulah yang membuat Naura berteriak.


"Naura kamu dimana?" tanya Bayu dengan khawatir tak melihat Naura di layar ponselnya.


"Kak video call nya udahan dulu ya, Kak Bayu selesaikan aja dulu ganti bajunya." terdengar suara Naura, namun tak nampak orangnya.


Naura pun mematikan sambungan video call itu secara sepihak membuat Bayu mendengus kesal.


"Kamu benar-benar menguji kesabaranku gadis kecil, lihat aja nanti tak akan kuberi ampun." Bayu terkekeh membayangkan dirinya memberi hukuman pada Naura dengan caranya sendiri.


"Huh, jadi udah gak sabar nungguin dua minggu lagi." gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.


Setelah mengganti pakaiannya, Bayu hendak menelpon Naura lagi, namun baru dia akan mengambil ponselnya, terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.


Bayu pun menatap nanar ponselnya lalu melangkah ke arah pintu untuk membukanya.


"Eh Mama rupanya, kirain siapa." ujar Bayu cengengesan, lalu membuka lebar daun pintu kamarnya dan mempersilahkan mamanya masuk.


"Ya Mama lah, emang kamu pikir siapa,"


"Alah bilang aja gak mau diganggu lagi teleponan."


"Ya itu salah satunya, Ma." ucap Bayu cengengesan.


"Dasar Jomblo karatan baru merasakan jatuh cinta, lebaynya kebangetan!"


"Justru Aku bangga Ma, baru merasakan jatuh cinta sekarang karena sekali jatuh cinta langsung pada orang yang tepat." ujar Bayu dengan yakin.


Mungkin ini rencana Allah untuknya, yang tidak pernah merasa tertarik pada wanita manapun, bahkan wanita-wanita bule yang sangat menggoda iman saat dia berada di luar negeri.


Ternyata Allah sudah mempersiapkan wanita yang terbaik untuknya, meski wanita tersebut sebelumnya pernah dimiliki oleh laki-laki lain, namun itu bukanlah persoalan untuk Bayu, yang terpenting dirinya merasa nyaman bersamanya dan yang terpenting bisa saling membahagiakan dalam ikatan yang suci.


Bayu yang tadinya terus tersenyum perlahan kembali ke mode dinginnya, tatapannya lurus menatap ke depan menerawang jauh pada perjalanan hidupnya hingga di usianya yang hampir menginjak angka 30.

__ADS_1


"Ma, apa Naura benar-benar adalah jodohku?" tanyanya dengan lirih.


Mamanya yang kini tengah duduk di tepi ranjang, berdiri lalu menghampiri putranya yang sedang bersandar di dinding, kemudian mengusap lembut pundak putranya itu.


"Kenapa kamu jadi tidak yakin begini, huh?"


"Aku bukannya gak yakin, Ma. Aku malah sangat yakin, tapi Aku hanya takut jika suatu hari nanti Aku harus terpisah dengan Naura, walaupun dalam kematian sekalipun, jika bisa meminta, Aku akan meminta untuk diambil lebih dulu karena Aku gak akan sanggup jika Naura yang meninggalkan Aku."


Mama yang tadinya merasa prihatin dengan putranya itu, kini menjadi kesal dengan apa yang diucapkan oleh putranya barusan.


"Dasar anak bodoh!" pukul nya di kepala Bayu.


"Kalau gak mau ada perpisahan, ya mending gak usah nikah aja sekalian, jadi jomblo aja seumur hidup." maki nya lalu melangkah keluar dari kamar putranya itu.


...*******...


"Sudahlah Diandra, Aku gak mau kamu ganggu lagi," Wahyu yang tengah fokus pada layar laptopnya mendengus kesal saat ponselnya terus bergetar karena ada panggilan masuk dari mantan kekasihnya itu.


Dengan malas Wahyu meraih ponselnya lalu menjawab panggilan itu.


"Kenapa menelpon terus?" tanya Wahyu langsung pada intinya.


"Aku hanya ingin bertemu, sebentar saja." ucap Diandra di seberang sana.


"Tidak bisa, Aku sedang sibuk, pekerjaanku banyak." telak Wahyu tak ingin berbasa-basi.


"Aku mohon sebentar saja, Wahyu." mohon Diandra, namun Wahyu tak menghiraukan nya.


"Untuk apa lagi, Diandra? Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bahas, semuanya sudah berakhir, dan kau jangan sampai lupa bahwa kau sendirilah yang mengakhirinya." setelah mengatakan itu, Wahyu pun mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, lalu menonaktifkan ponselnya.


"Aku rasa, Aku tidak membutuhkan apapun lagi saat ini. Tidak dengannya, tidak pula denganmu, biarlah Aku melangkah kemana takdir membawaku." gumam Wahyu sembari memijit pelipisnya, dan beberapa saat kemudian dia kembali fokus pada pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya.


Biarlah kemana takdir membawa nasibnya, mungkin ini adalah pelajaran untuk dirinya agar dikemudian hari bisa lebih menghargai sebuah hubungan yang terjalin.

__ADS_1


Karena setiap perbuatan pasti akan mendapat teguran baik secara langsung maupun tidak, namun bagi Wahyu ini adalah hukuman untuknya karena sudah menyia-nyiakan waktu yang berharga untuk hal yang tidak berguna.


Meskipun ribuan kali kata maaf yang diucapkan nya tak akan mampu mengembalikan keadaan yang sudah bertolak belakang, sehingga Wahyu lebih memilih hidup seperti ini tanpa ingin menoleh lagi pada salah satu masa lalu nya.


__ADS_2