
"Wah, cucu Opa sudah ada disini rupanya," ucap pak Jhohan saat baru saja masuk ke dalam ruang rawat Renita.
"Kemari sayang." panggil pak Jhohan, dan Rayan pun segera turun dari gendong Noval lalu berlari ke pelukan Opa nya itu.
"Oma juga mau dong di peluk," ucap istrinya pak Jhohan.
"Rayan, sini peluk Oma juga." dan dengan gaya cool nya, Rayan melangkah lalu memeluk Oma nya itu.
"Aduh cucu Oma makin ganteng aja sih," ucap istrinya pak Jhohan sembari mencubit kedua pipi Rayan dengan gemas.
"Kenapa sih, semua orang suka banget cubit pipi Rayan, gak Mama, gak Tante Lusi, Tante Tasya juga dan sekarang Oma juga ikut-ikutan cubitin pipi Rayan, kan sakit." ucap Rayan dengan mengerucutkan bibirnya.
"Rayan, dikondisikan tuh bibir, nanti Tante cium lagi." sahut Lusi, dan membuat Rayan segera menutup mulutnya dengan rapat.
Semua yang ada di ruangan itupun tertawa melihat tingkah menggemaskan Rayan. Sejak masih bayi Rayan selalu menjadi rebutan bagi ke empat keluarga itu, karena bagi mereka Rayan adalah cucu pertama baik dari keluarga Renita, kedua orangtua Noval, bu Winda, pak Jhohan dan tentunya cucu pertama dari putri tunggal pak Agung dan bu Lastri.
"Awas ya semuanya nanti Rayan laporin sama Papa." kesal Rayan karena semua orang menertawainya.
Di dalam ruangan itu kini terasa hangat dengan tawa bahagia semua keluarga menyambut anggota baru keluarga mereka, Noval dan Renita junior.
Terlebih Renita yang kini benar-benar merasakan kehangatan sebuah keluarga setelah beberapa tahun dia lalui tanpa bersama dengan keluarganya.
Tuhan maha baik, masih memberinya kesempatan untuk bisa merasakan kehangatan seperti ini. Dan tentunya ucapan terimakasih pada seseorang yang sudah membantunya agar kembali diterima dengan baik oleh keluarganya.
Dan dalam haru ini pak Jhohan lah yang paling berjasa karena sudah berhasil membuat keluarga Renita menerimanya kembali setelah kemarahan yang bertahun-tahun demi mengejar sebuah cita-cita.
__ADS_1
"Naura, Bu Winda dan Tasya kemana, kok gak ikut?" tanya bu Lastri.
"Aku sih gak tau, Bu, Mama Winda sama Tasya pergi kemana. Soalnya mereka gak bilang sama Aku kalau mau pergi, tapi kata Lusi mereka keluar sebentar katanya." jawab Naura.
Bu Lastri pun menganggukkan kepalanya, begitupun dengan pak Jhohan yang kini sedang memangku cucu pertamanya itu.
Tak terasa hari semakin beranjak sore, jam dinding yang berada di ruang rawat itu menunjukkan sudah pukul lima sore.
Satu persatu semua keluarga berpamitan pulang, dan kembali menyisakan Noval, Renita dan bayi mereka di ruangan itu.
Setelah mobil Lusi terparkir di pelataran rumah, dia segera turun membukakan pintu mobil untuk Naura karena saat di perjalanan Rayan sudah tidur.
Dan setelah mengantarkan Rayan ke kamarnya, Naura pun keluar dari kamar putranya itu dan tujuannya kini adalah menuju dapur. Memasak makan malam.
Melihat Mama Winda dan Tasya sepertinya belum pulang, Naura pun bergegas menuju dapur, dan sore ini dia akan memasak sendiri tanpa Mama Winda dan Tasya seperti biasanya.
Mencium aroma tubuhnya yang tak sedap karena berbaur aroma bumbu dapur, Naura pun pergi ke kamarnya, mandi dan berdandan seperti kesukaan suaminya. Tak muluk-muluk, hanya sedikit polesan bedak dan pewarna bibir alami serta parfum aroma bunga menjadi andalan Naura setiap malam untuk menaklukkan suaminya, terlebih masalah urusan ranjang kini Naura semakin jago saja.
Setelah selesai mandi dan berdandan, Naura keluar dari kamarnya menuju ruang tamu untuk menunggu suaminya pulang, namun waktu maghrib semakin dekat suaminya itu belum juga pulang.
"Kok gak biasanya pulang telat gini, biasanya paling lambat jam 5 tapi ini sudah hampir magrib tapi belum pulang juga, mana gak ngabarin lagi."
Naura terus mengintip ke arah pagar dari jendela, namun yang ditunggu belum juga menampakkan keberadaan nya.
Beberapa saat merasa lelah juga terus mengintip, Naura pun menyandarkan tubuhnya di sofa, sejenak memejamkan matanya.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
Naura terlonjak kaget mendengar suara ketukan pintu, dengan cepat Naura beranjak membukakan pintu, berharap yang pulang adalah suaminya.
"Mama, Tasya." Naura tersenyum kecut karena yang pulang ternyata bukan suaminya.
Bu Winda dan Tasya pun membalas senyuman Naura sembari melangkah masuk kedalam rumah.
"Mama sama Tasya abis dari mana?" tanya Naura yang membuntuti ibu dan anak itu hingga ke ruang tamu.
"Biasa," jawab bu Winda tersenyum, dan Naura pun mengangguk paham.
"Maaf ya, Mama pulangnya kesorean." kata mama Winda yang baru saja duduk di sofa di samping Naura.
"Iya, Ma gak apa-apa." ujar Naura tersenyum. "Mama abis dari kantor polisi lagi ya?" tanyanya kemudian.
Dan bu Winda menganggukkan kepalanya. "Diandra masih belum mau membuka mulut." ucapnya dengan lirih.
"Ya udah Ma, gak apa-apa, nanti kita juga bakal tau apa alasannya dia melakukan itu." kata Naura sembari mengusap pundak mama Winda.
Beberapa saat kemudian ruangan itupun hening, mama Winda dan Naura larut dalam pikirannya masing-masing.
Hingga kembali terdengar suara ketukan pintu membuyarkan lamunan mama Winda dan Naura.
"Rayan... Papa pulang."
__ADS_1
Naura pun tersenyum dan segera beranjak menuju pintu mendengar suara yang familiar itu, suara yang sudah ditunggu nya sedari taditadi dan suara yang sudah di rindukan nya sejak pagi.