Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 29. TERCYDUK


__ADS_3

Naura telah sampai di cafe tempat dia temu janji dengan Lusi. Naura memilih untuk masuk terlebih dulu kedalam cafe dan akan menunggu Lusi didalam.


Baru saja Naura duduk, pelayan datang membawakan buku menu. Naura pun memesan dua orange jus untuknya dan Lusi. Kalau makanan, nanti akan memesannya setelah Lusi datang.


Beberapa saat menunggu, Lusi pun datang, dia langsung menghampiri Naura di meja nomor 10. Sebelumnya Naura sudah memberitahu Lusi melalui pesan singkat kalau dia duduk meja nomor 10.


"Halo bestie, udah lama nunggu ya, sorry ya tadi jalanan macet" Lusi terkekeh.


"Lewat jalanan mana sih? perasaan aku lancar aja di jalan, gak ada kemacetan sama sekali" ujar Naura.


"Nih minum" sambungnya, menyodorkan segelas orange jus pada Lusi, yang sudah dia pesan sbelumnya.


"Wah tau aja kalau aku lagi haus banget" Lusi langsung meminum orange jus itu hingga setengahnya, dan saat tengah asyik meminum orange jus nya Lusi tersedak karena tatapannya tertuju pada dua sosok orang yang dikenalnya. Dua orang itu duduk di meja nomor 8, sangat dekat dengan meja Lusi dan Naura bukan, dan tepatnya meja nomor 8 itu berada di belakang Naura.


"Uhuk... uhuk... uhuk...


" Lus, Lusi kamu gak apa-apa kan? aduh ya ampun makanya kalau minum itu pelan-pelan dong" tegur Naura.


Lusi tak menjawab, tatapannya masih tertuju pada dua orang itu yang kini tengah saling menyuapi makanan.


'Busyet dah! kali ini feeling aku gak salah lagi, Bu Diandra sama suaminya Naura pasti ada hubungan, mana mungkin temenan sampai suap suapan gitu. Mesra banget lagi kelihatannya' Batin Lusi.


"Lus, Lusi kamu gak apa-apa kan, lihatin apa sih" baru saja Naura akan menoleh ke arah pandang Lusi, tapi Lusi dengan cepat mencegahnya.


"Eh Naura Naura, aku gak apa-apa kok, ya udah kamu juga minum gih" ujar Lusi beralasan.


'Huh, hampir aja Naura lihat. Tapi gimana ya kalau Naura sampai tau, aku juga sebenarnya gak tega lihat Naura dimainin gini, tapi aku juga gak mau Naura sakit hati kalau sampai dia tau. Duh gimana nih' Lusi menjadi bingung.


Naura pun meminum orange jus nya sesuai perintah Lusi. Beberapa saat setelah meminum orange jus nya, tiba-tiba saja Naura kebelet pipis.


"Lusi, kamu pesan makan gih, aku ke toilet bentar" Naura pun beranjak dari tempat duduknya.


"Eh Naura tunggu... " belum sempat Lusi mencegah, Naura terlebih dulu menoleh ke arah belakang, dan...

__ADS_1


Deg... Rasa ingin pipis, tiba-tiba saja berubah menjadi rasa panas yang menjalar ditubuhnya, melihat dua orang yang beberapa saat lalu saling mengungkapkan perasaan diruang Dosen, kini tengah saling suap menyuapi dengan senyuman diwajah mereka.


Dan tanpa sengaja, Diandra dan Wahyu pun menoleh ke arah Naura.


Deg... Mereka berdua sama terkejutnya melihat keberadaan Naura di cafe itu juga.


"Naura...


Sesaat, Naura tersadar akan keinginannya untuk buang air kecil, dia pun akhirnya berlari menuju toilet.


Sementara Wahyu, dia berpikir istrinya berlari pasti merasa kecewa karena lagi-lagi dia membohonginya, dan kenyataannya memang begitulah adanya.


Wahyu ingin berdiri mengejar Naura, tapi Diandra menahannya.


"Wahyu, kau mau kemana?"


"Itu, Naura... " ucap Wahyu menunjuk ke arah dimana Naura berlari.


Sebelumnya Diandra mengatakan, jika Wahyu tak bisa menceraikan istrinya, maka hubungannya dengan Wahyu akan berakhir. Tapi setelah berpikir panjang, Diandra akan mempertahankan Wahyu bagaimanapun caranya karena Wahyu adalah kekasihnya sejak dulu jauh sebelum ada Naura diantara mereka.


"Iya, aku tau Diandra. Tapi setidaknya aku harus menghampiri dia untuk menenangkan nya, dia pasti sedang sedih saat ini. Karena bagaimanapun juga, saat ini dia masih istriku" ucap Wahyu, kemudian berjalan cepat menyusul Naura, tanpa memperdulikan Diandra yang memanggilnya.


"Wahyu... Ah sial!!!" umpat nya kesal.


'Wahyu adalah milikku sejak dulu, siapapun tak akan kubiarkan untuk memiliki Wahyu termasuk bocah tengil itu' gumamnya dalam hati.


Rasa cemburu nya membuat Diandra menjadi gelap mata, dia akan melakukan apa saja untuk memiliki Wahyu seutuhnya.


Sementara Lusi, yang melihat itu merasa geram pada dosennya itu. Ralat! mantan dosen. Lusi dulu selalu mengayomi wanita itu dan sekarang tidak lagi. Baginya, sekarang Diandra adalah musuhnya karena telah berani menyakiti temannya.


Lusi pun beranjak, menyusul Naura dan Wahyu ke toilet. Lusi takut, kalau Wahyu dan Naura akan bertengkar disana.


Diandra tersenyum menyeringai, melihat Lusi yang juga ikut menyusul Naura dan Wahyu.

__ADS_1


Diandra mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lagi-lagi senyum seringai yang dia tampilkan sambil menatap ponselnya.


Flashback on


"Diandra, maaf ya kau pasti sudah lama menunggu" ucap Wahyu.


"Engga kok, aku juga baru beberapa menit sampai" jawab Diandra.


"Jadi bagaimana, Wahyu? keputusan apa yang kau ambil untuk hubungan kita? apakah kau akan memilih istrimu dan mengakhiri hubungan kita? atau malah sebaliknya, kau memilih aku dan menceraikan istrimu?" pertanyaan spontan langsung diajukan Diandra pada Wahyu, padahal Wahyu baru saja sampai dan duduk.


Sejenak Wahyu diam tampak berpikir.


"Em, Diandra. Kau tau kan? kalau aku sangat mencintaimu. Kalau saja kau mau berbagi suami dengan Naura, aku akan menepati janjiku untuk menikahimu. Aku minta maaf, aku tidak bisa menceraikan Naura, aku tidak bisa mengingkari amanah dari almarhum Papa ku. Aku mohon Diandra tolong mengertilah, hanya ini satu-satunya cara agar kita bisa bersama" ucap Wahyu.


"Em, baiklah. Lalu bagaimana dengan Naura, apa dia mau berbagi suami dengan ku?"


"Kalau itu aku belum membicarakannya pada Naura. Tapi nanti aku akan memberitahunya dan membuatnya mengerti"


"Kalau dia tidak mau, bagaimana?"


"Kamu tenang saja, Diandra. Aku pasti bisa membuat Naura mengerti, percayalah padaku" kata Wahyu, berusaha meyakinkan Diandra.


"Baiklah Wahyu, aku pegang kata-kata mu" Wahyu tersenyum.


Tanpa Wahyu sadari, tenyata Diandra merekam percakapannya tadi di ponselnya untuk berjaga-jaga jika suatu hari nanti Wahyu mengingkari ucapannya, dia akan menunjukkan bukti rekaman itu pada Naura, dan Naura akan bertambah sakit hati mendengarnya.


Flashback off


"Kita lihat saja Wahyu, apa kata-kata mu bisa dipercaya" gumam Diandra, kemudian beranjak dari tempat duduknya meninggalkan cafe itu, tanpa perduli apa yang terjadi didalam toilet sana. Menurutnya Naura dan Wahyu bertengkar atau tidak, itu bukanlah urusannya, yang terpenting sekarang ialah, dia sudah mempunyai bukti percakapannya dengan Wahyu.


Dimana Wahyu yang mengatakan sangat mencintainya, dan berjanji untuk menikahinya.


Istri mana yang tidak sakit hati, mendengar suaminya menyatakan cinta pada wanita lain, bahkan mengatakan akan menikahi wanita tersebut.

__ADS_1


__ADS_2