Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 125. BAHAGIA


__ADS_3

Setelah selesai melepas alat kontrasepsi yang tertanam di lengannya, Naura membawa tubuhnya duduk disamping Rayan yang terlihat cemberut, namun Naura tidak mengerti apa yang membuat putranya itu cemberut.


Sementara Bayu, dia yang lebih antusias untuk berhadapan dengan dokter.


"Ini yang pertama kalinya ya Ibu Naura melepas implan, jadi jangan khawatir kalau nanti bekas luka akan terasa nyeri, panas atau bengkak, itu sudah biasa terjadi," ucap dokter wanita yang kini duduk berhadapan dengan Bayu.


"Tapi, untuk 24 jam pertama harus dipastikan bekas luka agar tetap kering, dan setelah keluhan hilang maka Ibu Naura bisa beraktivitas kembali seperti biasa." sambung dokter itu menjelaskan.


Bayu mengangguk paham, dia menoleh menatap anak dan istrinya sekilas lalu kembali menatap dokter didepannya.


"Dok, apa setelah ini Istri saya bisa segera hamil?" tanya Bayu tanpa ragu, dirinya lah yang terlalu bersemangat ingin mempunyai anak lagi.


Dokter itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, pelan. "Bila pola haid Ibu Naura sebelumya teratur, kemungkinan besar Ibu Naura bisa segera hamil setelah KB implan dilepas." jawab dokter sembari tersenyum.


"Kalau pola haid Istri saya, saya jamin teratur, Dok," ucap Bayu dengan serius. "Karena saya sendiri setiap bulannya itu selalu puasa." sambungnya tersenyum masam.


Dan senyuman Bayu itu seakan menular pada dokter didepannya, dokter itu juga ikut tersenyum mendengar penuturan Bayu yang sangat jujur.


"Bagus kalau begitu, Pak. Mudah-mudahan Ibu Naura bisa segera hamil." ujar dokter mendo'akan.


"Amiin." ucap Bayu penuh harap.


"Kalau begitu kami permisi dulu, Dok," ucap Bayu kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Terima kasih, Dok." ucapnya lagi sebelum melangkah keluar dari ruangan itu bersama anak dan istrinya.


Di ruangan lain dirumah sakit itu, laki-laki yang baru dua hari lalu bergelar seorang ayah dengan cekatan mengemas semua barang-barang milik istri dan perlengkapan bayinya, karena dokter sudah mengizinkan istri dan bayinya pulang hari ini.


Bahagia? Jangan ditanyakan lagi, jika ada yang lebih dari kata bahagia, itulah yang dirasakan oleh Noval saat ini.


Hidupnya sudah sempurna dengan memiliki istri, dan kini terasa lebih sempurna dengan kehadiran buah hatinya bersama Renita.


Tak ada lagi yang diinginkan Noval saat ini selain selalu dilimpahkan kebahagiaan seperti ini. Baginya, ini sudah lebih dari cukup dari apa yang dimilikinya selama ini.


"Oh ya sayang, bayi kita belum dikasih nama. Em, kira-kira kamu mau kasih nama apa, bayi cantik kita ini?" tanya Noval pada istrinya, namun tatapannya tertuju pada bayinya yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Ayahnya lebih berhak memberikan nama pada anak-anaknya, jadi sebaiknya kamu saja yang memberinya nama." ujar Renita juga menatap bayinya.


"Baiklah kalau begitu, hei anak cantik ayahmu ini akan memberikan mu nama... Em... " Noval terdiam sejenak memikirkan nama yang bagus untuk putrinya itu.


Beberapa saat kemudian, kedua sudut bibir Noval tertarik membentuk sebuah senyuman, sembari menggendong putranya itu.


"Delisa, bagaimana apa kau suka, hum?" ujar Noval pada bayinya itu.


"Delisa? Nama yang bagus," sahut Renita kemudian bergabung dengan anak dan dan suaminya.


"Cantik, sekarang namamu adalah Delisa." ucap Renita sembari mencium gemas kedua pipi putrinya.


Setelah semuanya selesai, Noval pun membawa anak dan istrinya keluar dari rumah sakit, kembali ke rumah mereka yang bertahun-tahun sunyi tanpa adanya suara di tangisan bayi dan kini suara tangisan bayi akan selalu menggema didalam rumah mereka.


...*******...


Setelah dari rumah sakit, kini Bayu melajukan mobilnya menuju kantor dan tentunya bersama Naura dan juga Rayan.


Namun, sepanjang perjalanan menuju kantor, Rayan terlihat cemberut dan seperti tidak bersemangat, padahal putranya itu sebelumnya sangat antusias ingin ikut ke kantor saat masih berada di rumah.


"Rayan kenapa? Atau kalau Rayan lagi gak enak badan Papa anterin pulang aja ya sama Mama." ucap Bayu dan membuat putranya itu langsung menoleh menatapnya.


"Rayan, kesel sama Papa sama Mama," ucap Rayan. "Papa sama Mama udah bohongin Rayan, katanya ke rumah sakit mau buat adik, tapi nyatanya enggak." ucapnya lagi.


Bayu dan Naura seketika saling pandang mendengar apa yang dikatakan putranya, tidak menyangka jika Rayan akan berpikir hal demikian. Oh, apa yang harus mereka jawab pada bocah itu.


Sementara Rayan, menatap Mama dan papanya bergantian karena tak ada yang menanggapi ucapannya.


"Mama sama Papa ngeselin, udah bohongin Rayan!" ucap Rayan lagi dengan sedikit mengeraskan suaranya.


Mau tak mau Bayu pun mencari tempat yang aman untuk menepikan mobilnya.


"Rayan mau punya adik kan?" tanya Bayu setelah menepikan mobilnya.

__ADS_1


Rayan menganggukan kepalanya, "Mau dong Pa. Tapi adik bayi nya mana? Katanya ke rumah sakit mau adik bayi kayak Om Noval sama Tante Renita."


"Sini, Rayan dengerin Papa ya," ucap Bayu mengangkat Rayan ke atas pangkuannya.


"Kalau Rayan mau cepetan punya adik bayi, mulai malam ini Rayan harus tidur dikamar Rayan sendiri ya, dan gak boleh tidur sama Papa sama Mama lagi."


Rayan tak langsung menjawab, bocah kecil itu diam nampak berpikir. Beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya, pelan.


"Anak pintar," ucap Bayu sembari mengucap puncak kepala Rayan serta mencium kening putranya itu.


"Terus sekarang jadi gak nih mau ikut Papa ke kantor, atau Mama sama Rayan Papa antar pula aja?" Rayan menggelengkan kepalanya.


"Engga, Pa, Rayan mau ikut ke kantor bantuin Papa kerja." jawab Rayan, namun nada suaranya terdengar lesu tak seperti saat masih di rumah Rayan sangat bersemangat ingin ikut ke kantor.


Bayu pun kembali melajukan mobilnya menuju kantor.


Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya, Bayu menggendong putranya turun dari mobil, dan sama seperti saat dirumah sakit Bayu menggenggam tangan Naura kemudian melangkah masuk ke kantor menuju ruangannya.


Naura mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang dia lalui di sela-sela langkahnya, ada banyak sekali perubahan yang terjadi diperusahaan milik Papa mertuanya.


Terakhir Naura datang ke perusahaan itu saat Rayan masih berusia 2 tahun dan Rayan sekarang sudah berusia 4 tahun yang artinya sudah 2 tahun Naura baru menginjakkan kakinya di perusahaan itu lagi.


Sesampainya di ruangannya, Bayu langsung membawa putranya duduk di kursi kebesarannya, membiarkan putranya itu menikmati apa yang diinginkannya, dan kemudian Bayu pun mengajak istrinya duduk di sofa sambil memperhatikan putra mereka yang sangat senang duduk di kursi putar itu.


"Lihatlah Putra kita, dia sangat lucu dan tampan, aku yakin saat besar nanti Rayan akan menjadi pemimpin yang hebat." ucap Bayu dengan terus memperhatikan putranya.


"Amiiin." jawab Naura, juga ikut mendo'akan yang terbaik untuk putranya itu.


.


.


BABY DELISA

__ADS_1



__ADS_2