
"Aku pikir, bersamamu Naura tidak akan pernah menangis lagi. Tapi apa ini Bayu, kau membuatnya menangis begitu pilu, bahkan Aku sendiri tidak sanggup melihat tangisannya itu," Wahyu berucap dalam hati, dan sesekali melirik Naura yang masih menangis.
"Sadarlah Bayu, bangunlah dan katakan pada Naura kalau kau baik-baik saja, hentikan air matanya itu."
"Bangunlah Bayu, sebentar lagi hari pernikahan mu dengan Naura, kau pasti sangat bahagia bisa mendapatkannya." Wahyu tersenyum kecut kala mengingat Bayu sering menceritakan padanya tentang gadis yang disukainya, yang ternyata adalah Naura.
Wahyu menggenggam tangan temannya itu dengan begitu eratnya. Tak terasa cairan bening itu lolos dari sudut matanya sembari menatap wajah Bayu yang begitu pucat.
"Aku tau, hanya kau yang bisa membuat Naura bahagia, maka dari itu kau harus baik-baik saja, harus!"
Perlahan Wahyu melepas tangan Bayu dari genggamannya lalu mengusap sudut matanya yang berair, kemudian menoleh menatap semua orang yang berada di ruangan itu.
"Om, Tante, Aku pamit pulang dulu," ucap Wahyu, dan pak Jhohan serta istrinya mengangguk pelan.
"Terima kasih sudah datang menjenguk Bayu." dan Wahyu pun menganggukkan kepalanya.
Wahyu menoleh pada kedua mantan mertuanya itu, namun pak Agung segera membuang muka sementara bu Lastri menundukkan kepalanya, dan itu semua tak lepas dari pandangan Renita yang semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga itu.
Tak lama setelah Wahyu pergi, Andi pun datang bersama anak dan istrinya. Saat Andi mengatakan bahwa atasannya jatuh sakit, istrinya sangat antusias ingin menjenguknya.
Istrinya Andi pun menceritakan pada pak Jhohan tentang kejanggalan pada Bayu yang sering dialami oleh atasan suaminya itu selama berada di luar Negeri.
"Pak Bayu memang sering merasakan nyeri di dadanya, tapi saat saya sarankan untuk periksa ke rumah sakit, pak Bayu selalu menolak. Katanya, itu hanya efek dari asam lambungnya yang naik karena sering telat makan," cerita istrinya Andi.
"Dan saya sangat menyayangkan, jika saja sejak dulu Pak Bayu mau mendengar saran saya untuk periksa ke rumah sakit, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini karena cepat mendapat penanganan." sambungnya.
Dan semua yang ada di ruangan itupun sama seperti istrinya Andi yang sangat menyayangkan atas apa yang dialami oleh Bayu saat ini.
Jika saja sejak dulu Bayu memeriksa diri, dan sejak dulu mengetahui penyakit yang sebenarnya pasti kejadiannya tidak akan seperti ini karena sejak awal ditangani.
Namun, semuanya sudah terjadi, hanya dengan cara transplantasi jantung yang bisa benar-benar menyembuhkan Bayu dari penyakitnya itu.
"Pa, bagaimana dengan Bayu? Dimana kita harus mencari donor jantung untuknya? Mama tidak akan bisa bernafas dengan lega jika terjadi sesuatu pada Bayu, hiks... hiks... hiks... " istrinya pak Jhohan kini tersedu-sedu didalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Ma, Mama jangan berbicara seperti itu, Kak Bayu pasti akan baik-baik saja." Lusi tak kuasa mendengar ucapan mamanya.
"Iya, Ma, kita berdoa saja semoga segera menemukan jalan keluarnya." sahut pak Jhohan sembari mengusap pelan punggung istrinya.
"Ini sudah siang, sebaiknya kita semua makan dulu." ucap Renita dan angguki oleh semua orang yang ada di ruangan itu.
"Naura, ayo kita makan dulu," ajak Renita, namun Naura menggelengkan kepalanya.
"Kalian makan saja duluan, Aku tunggu Kak Bayu bangun dulu, Aku mau makan bareng Kak Bayu saja." ucap Naura, dan semuanya hanya bisa menghela nafas berat mendengarnya.
"Naura, makan dulu ya, Nak, kalau kamu juga jatuh sakit bagaimana?" bu Lastri membujuk putrinya.
"Benar apa yang dibilang ibu kamu Naura, sebaiknya kamu makan dulu, Bayu tidak akan suka melihat kamu seperti ini." ucap pak Jhohan menyahuti.
"Iya Naura, siapa yang akan menyemangati Kak Bayu kalau kamu juga jatuh sakit." Lusi juga berusaha membujuk temannya itu.
Namun, lagi-lagi Naura menggelengkan kepalanya.
Satu persatu mereka keluar dari ruang rawat Bayu, terkecuali Naura yang masih setia berdiri di samping Bayu, menatap wajah pucat itu dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku akan marah kalau Kak Bayu gak bangun juga!" ucap Naura, terdengar seperti kalimat ancaman namun tak sejalan dengan hatinya yang begitu pilu melihat calon suaminya kini terbaring lemah tak berdaya. Naura pun kembali menangis.
Air mata Naura semakin deras menuruni kedua pipinya saat teringat ucapan Bayu didalam mimpinya.
"Seandainya hari ini adalah hari terakhir kita bersama, Aku akan sangat bahagia pernah mengenalmu dan akan menempatkanmu disini, selamanya." ujar Bayu sembari menunjuk dadanya.
"Walaupun ragaku tidak berada disisimu, tapi jiwaku akan selalu bersamamu."
"Naura," Naura menoleh saat namanya di sebut beriringan dengan pintu ruang rawat itu terbuka.
"Kak Noval," Naura langsung berlari ke dalam pelukan kakak sepupunya itu, sembari tersedu-sedu.
"Kak Bayu, Kak." ucapnya dengan tersedu-sedu.
__ADS_1
"Sudah Naura, jangan menangis, Bayu tidak akan suka melihat kamu seperti ini."
"Tapi Kak Bayu sendiri yang sudah buat Aku menangis, Kak."
"Iya, nanti kakak Akan menghajarnya karena sudah membuatmu menangis." ucap Noval dengan terkekeh, berharap Naura akan menghentikan tangisannya.
"Maaf, Kakak baru bisa datang sekarang, kakak baru selesai mengajar." ucap Noval sembari mengusap puncak kepala Naura.
Dan Naura menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Oh ya, yang lainnya pada kemana?" tanya Noval.
"Pergi makan, Kak." jawab Naura dengan pelan, lalu perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Noval.
"Terus, kamu kenapa gak makan juga, hum?" Noval menatap adiknya itu.
"Nanti, Aku mau tunggu Kak Bayu bangun dulu, Aku mau makan bareng Kak Bayu aja." ujar Naura, kemudian memalingkan wajahnya dari tatapan Noval.
Dan Noval hanya bisa menghela nafas berat mendengar ucapan adiknya itu.
"Lihatlah Bayu, kau sudah membuat adikku menangis." ucap Noval dalam hati, dengan menatap wajah pucat Bayu.
...*******...
Sekembalinya dari rumah sakit sehabis menjenguk Bayu, Wahyu yang saat ini berada di kantor tengah berpikir keras dengan cara apa agar Bayu bisa kembali sehat.
"Sepertinya Aku harus mencari donor jantung untuk Bayu," gumamnya. "Tapi dimana Aku harus mencarinya?" ucapnya bingung.
"Sementara yang bisa menjadi pendonor itu adalah orang yang baru meninggal dengan kondisi jantung yang masih baik." sambungnya dengan lirih.
"Bayu, Aku akan berusaha untuk mencarikan donor jantung untukmu, agar Naura bisa kembali tersenyum dan tidak menangis lagi." ucapnya lagi.
"Ya Allah permudahkan lah semuanya, ini semua demi Naura. Sudah cukup air matanya jatuh karena Aku, jangan lagi, ya Allah. Aku mohon berilah petunjuk dimana Aku bisa menemukan pendonor jantung untuk Bayu."
__ADS_1