Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 112. MIMPI ITU LAGI


__ADS_3

"Seandainya hari ini adalah hari terakhir kita bersama, Aku akan sangat bahagia pernah mengenalmu dan akan menempatkanmu disini, selamanya." ujar Bayu sembari menunjuk dadanya serta menatap Naura yang terlihat cemberut karena ucapannya itu.


"Kenapa Kak Bayu bicara seperti itu, apa Kak Bayu akan meninggalkan Aku?" tanya Naura memicingkan matanya.


"Tidak, Aku tidak akan pernah melakukan itu, walaupun ragaku tidak berada disisimu, tapi jiwaku akan selalu bersamamu." jawab Bayu dengan tersenyum.


"Udah ah, mending Kak Bayu pulang aja, Aku gak suka dengarnya." rajuk Naura, saat ini mereka berdua sedang duduk di teras rumah Naura.


"Hei kok marah sih, Aku kan cuma bercanda." Bayu membujuk calon istrinya itu, namun Naura sudah terlanjur merajuk.


"Ya udah deh, kalau gitu Aku pulang ya. Tapi awas loh jangan sampai nyesel nanti kalau Aku beneran pulang."Ya udah deh, kalau gitu Aku pulang ya. Tapi awas loh jangan sampai nyesel nanti kalau Aku beneran pulang." ujar Bayu lalu berdiri, kemudian melangkah menuju mobilnya.


"Kak Bayu...


"Kak, Kak Bayu...


"Halo, selamat siang. Apakah benar ini adalah kerabat dari pemilik ponselnya ini?" suara seorang laki-laki terdengar di seberang sana.


"I-ya, maaf ini siapa ya?" tanya Naura terbata, entah kenapa tiba-tiba perasaannya jadi tak enak.


"Kami dari kepolisian, pemilik ponselnya beberapa saat lalu mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dalam penanganan dokter, kondisinya kritis, jadi tolong kepada keluarga korban untuk segera datang ke rumah sakit."


"Kak Bayu...


"Kak, Kak Bayu...


Bu Lastri yang lewat di depan kamar Naura terkejut mendengar putrinya itu berteriak-teriak memanggil nama Bayu, namun saat bu Lastri masuk ke kamar Naura, ternyata Naura sedang mengigau.


"Astaghfirullah Naura, ayo bangun Nak," bu Lastri menepuk-nepuk pipi Naura.


"Kak Bayu... " Naura pun akhirnya terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal serta keningnya yang basah karena keringat.


Bu Lastri pun memberikan Naura air minum, lalu mengelus punggung putrinya itu untuk menenangkannya.


"Naura ada apa, Nak? Kamu ngigau manggil manggil nama nak Bayu," tanya bu Lastri.

__ADS_1


Naura menoleh menatap ibunya, namun tidak bisa menjawab karena nafasnya yang tersengal-sengal.


"Ceritain sama ibu, kamu mimpi apa sampai manggil manggil nama Nak Bayu gitu?"


"Apa mimpi yang sama, sama mimpi yang kamu ceritakan waktu itu?" Naura hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Astaghfirullah, mungkin kamu terlalu memikirkannya sampai-sampai kebawa mimpi itu lagi, mulai sekarang jangan dipikirin itu hanya bunga tidur. Udah sekarang mendingan kamu bangun, terus lihat tuh kasur kamu, mungkin udah kering." ucap bu Lastri lalu beranjak keluar dari kamar putrinya itu.


Setelah ibunya keluar dari kamarnya, Naura kembali membaringkan tubuhnya sebentar, benar-benar merasa lemas karena mimpinya itu seolah menguras tenaganya.


"Ya Allah, lindungilah Kak Bayu dimanapun dia berada, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya Ya Allah, amiin."


Naura pun bangun, sebelum ke teras untuk melihat kasurnya yang dia jemur disana, terlebih dahulu Naura pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar sedikit segar.


"Kenapa, kenapa mimpi itu datang lagi, ya Allah semoga apa yang dikatakan ibu benar, itu hanyalah bunga tidur." gumam Naura sembari mengusap wajahnya yang basah dengan handuk kecil.


Dengan pelan, Naura melangkah keluar dari kamarnya menuju teras rumah untuk melihat kasurnya yang dia jemur, namun sepanjang langkahnya Naura terlihat melamun hingga dia sampai menabrak ayahnya yang baru saja dari halaman belakang.


"Astaghfirullah, Naura kamu kenapa Nak, kok melamun?" tanya pak Agung lalu meletakkan cangkul yang dibawanya, kemudian mengusap pundak putrinya itu.


Naura pun terkesiap. "Maaf Pak, Aku gak sengaja." ucap Naura merasa bersalah.


"Kamu sakit?" Naura menggelengkan kepalanya.


"Enggak kok, Pak, Aku gak sakit kok." jawab Naura sendu.


"Terus kamu kenapa, kelihatannya lesu gitu?"


"Gak tau Pak, rasanya lemes aja."


"Ya udah kalau gitu, kamu istirahat aja di kamar, jaga kesehatan jangan sampai sakit, pernikahan kamu tidak lama lagi loh. Kan gak asyik kalau pengantinnya sakit." kekeh pak Agung sembari mengusap puncak kepala putrinya.


"Iya Pak, Aku mau ke teras dulu lihat kasur Aku udah kering apa belum."


" Ya udah sana, setelah itu istirahat ya." Naura menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Si Ibu ada-ada aja, masa Naura dimandiin di tempat tidur." ucap Pak Agung terkekeh, lalu mengambil cangkul nya, kemudian melangkah keluar rumah.


Di teras, Naura tersenyum karena ternyata kasurnya sudah kering, dan itu artinya malam ini dia akan tidur dengan kasurnya itu.


Namun, senyumnya perlahan memudar kala ingatnya kembali tertuju pada mimpinya, mimpi yang sama datang dua kali dalam tidurnya benar-benar membuat Naura merasa resah, takut terjadi hal buruk dengan calon suaminya itu.


"Pokoknya Aku harus peringati Kak Bayu untuk tidak pergi kemana-mana." ucapnya pelan, lalu mengangkat kasurnya membawanya kembali ke dalam kamarnya.


Sesampainya didalam kamar, Naura meletakkan kasurnya ditempatnya semula, lalu mengambil ponselnya kemudian menghubungi nomor Bayu.


Panggilannya tersambung, namun tidak ada jawaban, beberapa kali Naura mencoba menelpon calon suaminya itu selalu berakhir dengan suara operator.


"Kak Bayu kemana sih, kok telepon Aku gak diangkat," sudah cemas karena mimpinya itu, kini bertambah khawatir karena orang yang dimimpikan tak juga menjawab teleponnya.


...*******...


"Nona ini baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu sudah biasa, kalau jatuh pasti rasanya sakit," ucap seorang dokter laki-laki yang terlihat seumuran dengan Noval, usai memeriksa Renita.


"Sama halnya dengan jatuh cinta, lalu tak tergapai itu rasanya jauh lebih sakit." sambung dokter itu diiringi dengan tawa renyahnya karena merasa lucu, namun ucapannya itu membuat hati Noval tersentil.


"Jadi Mbak ini gak kenapa-kenapa kan, Dok?" tanya Noval memastikan.


"Iya gak apa-apa, tapi lain kali harus lebih berhati-hati agar tidak jatuh lagi." ucap dokter itu memperingati.


"Aku tuh bukan jatuh sendiri, Dokter. Tapi di tabrak sama dia." Renita menunjuk Noval.


"Jangan nunjuk nunjuk gitu dong, Aku kan gak sengaja, udah minta maaf dan juga bertanggung jawab dengan membawa kamu ke rumah sakit, yah walaupun sebenarnya kamu itu gak kenapa-kenapa." ucap Noval tak terima di tunjuk seperti itu.


"Makanya punya mata tuh di pake!" tukas Renita menatap tajam Noval.


"Sudah, sudah jangan berdebat di sini, sekarang kalian silahkan keluar karena di luar masih banyak pasien lainnya yang mengantri." ucap dokter itu menengahi dengan menatap Noval dan Renita bergantian.


"Dasar nyebelin!" gerutu Renita lalu turun dari ranjang pasien.


"Kenapa sih hari ini Aku ketemu sama orang-orang yang menyebalkan." ucapnya lalu melangkah keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Dokter, terima kasih banyak ya. " ucap Noval menjabat tangan dokter itu, kemudian juga keluar dari ruangan dokter itu.


Karena tidak menemukan sosok wanita itu dirumah sakit, akhirnya Noval pun pergi dari sana. Toh dia juga sudah bertanggung jawab dengan membawanya ke rumah sakit, dan hasilnya wanita itu baik-baik saja.


__ADS_2