
Lima tahun kemudian...
"Mama, kenapa Papa lama sekali pulangnya? Rayan kan udah gak sabar pengen lihat dedek bayi, Om Noval dan tante Renita pasti udah nungguin kita." ucap bocah laki-laki berusia 4 tahun yang bernama Rayan itu.
"Kita tunggu sebentar lagi ya Nak, Papa mungkin masih sibuk di kantor, atau mungkin Papa sudah diperjalanan pulang." ujar Naura sembari mengusap puncak kepala putranya itu.
"Papa bilang mau pulang jam satu, tapi ini udah hampir jam tiga sore tapi Papa belum pulang juga. Kita duluan aja yuk, Ma." ajak Rayan dengan mata berbinar menatap mamamnya.
Namun, Naura menanggapi ajakan putranya itu dengan senyuman sehingga membuat Rayan menjadi kesal dan menarik-narik tangan mamanya agar segera pergi menjenguk dedek bayi yang tak lain adalah bayi Noval dan Renita yang baru beberapa jam lalu dilahirkan.
"Rayan, gimana coba kita mau pergi? Mama kan gak bisa bawa mobil, terus Papa juga ngelarang kita pergi berdua tanpa Papa." ucap Naura mencoba membujuk putranya, namun bukan Rayan namanya jika hanya tinggal diam saja.
"Kan ada Tante Lusi, Tante Lusi kan bisa bawa mobil kita minta di antar sama Tante Lusi aja ya Ma," Rayan menatap mamamnya dengan penuh harap.
"Kamu tuh sama aja kayak Papa kamu, selalu aja mau diturutin permintaannya." Naura mencubit hidung putranya dengan gemas.
Rayan memang mirip dengan papanya yang selalu ingin dituruti setiap permintaannya. Namun, wajah Rayan lebih mirip dengan Naura sementara sifatnya menurun dari papanya.
"Ya iyalah, kan anak Papa. Tapi Rayan heran kok muka Rayan mirip mama sih?" Rayan kan cowok harusnya mirip Papa." Rayan berceloteh dengan lucunya membuat Naura tiada hentinya tersenyum jika Rayan sudah berbicara panjang lebarlebar akan terlihat sangat menggemaskan.
"Kala mau pergi jenguk dedek bayi, sekarang Rayan pergi cari Tante Lusi," perintah Naura, dan Rayan pun dengan antusias pergi mencari tante kesayangannya itu.
Rayan tahu dimana Lusi berada, jika di sore hari begini Lusi lebih banyak menghabiskan waktu dikamarnya sembari menuangkan isi kepalanya pada selembar kertas besar berserta beberapa peralatan menggambar, menjadi sebuah gambar sketsa.
"Tante Lusi... Anterin Rayan sama Mama mau pergi lihat dedek bayi." ucap Rayan sedikit berteriak sembari membuka pintu kamar Lusi.
"Rayan... Uh sini sayang peluk Tante," Lusi merentangkan kedua tangannya dan Rayan pun segera berlari ke pelukan Lusi, begitupun dengan Lusi yang langsung memeluk Rayan dengan erat.
Saat baby Rayan lahir, Lusi langsung jatuh cinta pada bayi mungil itu, bahkan Lusi sampai rela ikut pindah tinggal bersama Naura juga bersama Tasya dan mama Winda demi agar bisa selalu berdekatan dengan baby Rayan bahkan hingga usia Rayan memasuki 4 tahun tak mengurangi kasih sayang Lusi pada Rayan.
"Oh ya, Tante Tasya kemana? Kok tumben gak ada di sini temenin Tante Lusi menggambar, biasanya Tante Tasya di sini ngeliatin Tante Lusi menggambar. Tante Tasya nya kemana?" tanya Rayan beruntun dan membuat Lusi langsung mencubit kedua pipi Rayan karena sangat gemas.
"Tante Lusi sakit tau pipi Rayan," Rayan mengusap kedua pipinya yang memerah karena ulah Lusi. "Tante Lusi sama aja kayak Mama suka banget cubit Rayan, kan sakit." Rayan mengerucutkan bibirnya dan itu semakin terlihat menggemaskan dimata Lusi.
"Emmuachh... Emmuachh... Emmuachh... " nafas Rayan sampai terengah-engah karena dihujani kecupan oleh Lusi.
"Ah Tante Lusi nyebelin!"
__ADS_1
"Abisnya Rayan gemesin banget sih.m," Lusi terkekeh melihat tingkah Rayan yang membelakangi nya.
"Ih menghadap sana sih, sini lihat Tante."
"Enggak, Tante Lusi nyebelin! Rayan kan udah besar malu di cium-cium." ucap Rayan dengan lucunya.
"Iya iya Tante janji deh gak cium-cium Rayan lagi, nanti kalau Tante mau cium Rayan nanti Tante minta izin dulu sama Rayan."
"Ih pokoknya gak boleh cium-cium!" Rayan menegaskan, dan kini bocah laki-laki itu melipat kedua tangannya didada serta menatap Lusi dengan tajam.
"Ih kok Rayan jadi nyeremin gini sih?"
"Biarin, biar Tante Lusi gak berani cium-cium Rayan lagi." Rayan semakin melebarkan matanya.
"Ih takut," Lusi memeluk tubuhnya sendiri seolah dia takut melihat Rayan, dan itu berhasil membuat Rayan tertawa karena mengira Lusi benar-benar takut padanya.
"Wah pantesan lama banget, ternyata lagi asyik ngobrol rupanya." Naura melangkah masuk ke kamar Lusi dan ikut bergabung dengan Tante dan keponakan itu.
"Ma, Mama lihat Rayan, baaakkkk." Rayan melebarkan matanya bermaksud menakut-nakuti mamanya juga.
"Rayan, ngapain melotot melotot gitu?" Naura mengerutkan keningnya melihat tingkah putranya itu.
Naura menggelengkan kepalanya. "Enggak."
"Yah Mama kok gak takut sih, Tante Lusi aja takut sama Rayan." Rayan mengerucutkan bibirnya lagi, dan membuat Lusi dan Naura tertawa gemas melihatnya.
"Udah Rayan, ini udah sore loh, katanya mau pergi lihat dedek bayi." ucap Naura, dan membuat Rayan melompat-lompat girang.
"Yeay mau pergi lihat dedek bayi, Tante Lusi ayo anterin Rayan sama Mama pergi lihat dedek bayi." Rayan menarik-narik tangan Lusi.
"Dedek bayi, dedek bayi nya siapa?" Lusi menatap Naura.
"Itu, Kak Renita udah lahiran." ucap Naura.
"Wah alhamdulillah akhirnya penantian mereka gak sia-sia, setelah hampir 5 tahun akhirnya Kak Noval dan Kak Renita di kasih keturunan juga." ucap Lusi.
Setelah 6 bulan Naura menikah, Noval dan Renita pun menikah. Dan saat baby Rayan lahir, Renita sedih karena tak kunjung hamil juga. Namun, Noval terus menyemangati istrinya itu agar tak putus asa, dan sampai penantian mereka saat ini, di usia pernikahan mereka yang hampir memasuki tahun ke-5, akhirnya Noval dan Renita diberikan keturunan.
__ADS_1
"Iya, gak ada yang sia-sia kalau kita mau bersabar." ucap Naura tersenyum.
"Ya udah kalau gitu Aku siap-siap dulu, terus kita pergi lihat dedek bayi, uh gemesin banget bayi besar ini." Lusi masih sempat nya mencubit pipi Rayan sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Tante Lusi nyebelin!"
"Oh ya Lusi, Tasya sama Mama Winda kemana? Kok gak kelihatan?" tanya Naura.
"Oh itu, mereka pergi keluar sebentar katanya." jawab Lusi sambil membereskan peralatan menggambarnya.
"Bilang gak mau pergi kemana?" Lusi menggelengkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Naura, Rayan dan Lusi kini telah sampai di rumah sakit. Mereka bertiga langsung menuju ruangan Renita dan bayi nya.
"Dedek bayi... Rayan datang." ucap Rayan sembil berlari ke arah Noval.
Noval menangkap keponakannya itu lalu menggendongnya, kemudian memperlihatkan dedek bayi yang sedang di beri ASI oleh Renita.
"Ih dedek bayinya lucu banget kayak Rayan." Rayan tersenyum gemas melihat dedek bayi yang sangat rakus menyusu.
"Oh ya, Rayan kesini sama Mama dan Tante Lusi aja nih? Papa, Oma Winda sama Tante Tasya gak ikut juga?" tanya Noval pada keponakannya itu.
"Rayan kesel sama Papa, lama banget pulangnya. Kalau Oma Winda sama Tante Tasya, Rayan gak tau kemana."
"Mereka pergi keluar sebentar katanya." ucap Lusi menyahuti. Noval pun menganggukkan kepalanya.
"Naura, Lusi terima kasih ya udah repot-repot datang kesini jengukin kita." ucap Renita sembari mengusap usap pipi bayinya yang sedang menyusu.
"Iya Kak, kita kan keluarga jadi udah seharusnya begitu." ucap Naura, sementara Lusi menanggapinya dengan senyuman.
Tak lama pintu ruangan itu terbuka.
Ruangan perawatan Renita seketika menjadi ramai karena kedatangan 4 keluarga besar sekaligus. Yang terdiri dari keluarga Renita sendiri, kedua orang tua Noval, ayah dan ibunya Naura, serta pak Jhohan dan istrinya.
.
.
__ADS_1
Mulai dari bab ini dan seterusnya hanya akan disuguhi yang manis manis dan menyegarkan hingga tamat 😁😁😁 HAPPY READING. 🙏🙏🙏