
Di ruangannya, Wahyu yang baru saja selesai memeriksa beberapa berkas laporan tentang keuangan perusahaan, duduk termenung di kursi putar nya. Sebuah pulpen dia selipkan di daun telinganya, serta jari jemarinya dia ketuk ketukan pada meja kerjanya.
Wahyu sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya beberapa hari ini menjadi tak tenang, yaitu sebuah kesalahan yang sudah dia lakukan. Dari sekian banyaknya keslahan yang dia perbuat, namun ada satu kesalahan yang sangat mengganggu pikirannya.
Yah, hingga hari ini Wahyu belum menemui kedua orangtua Naura setelah dia menandatangani surat cerai itu. Apapun yang menyebabkan perceraian itu terjadi, seharusnya Wahyu mengembalikan Naura kepada orangtuanya dengan cara yang baik-baik, sama seperti setahun lalu saat Wahyu dan kedua orangtuanya datang dan meminta Naura untuk menjadi istrinya.
"Yah, apapun yang akan dilakukan Bapak padaku, Aku harus Terima. Sekalipun Bapak akan menghajar ku habis-habisan itu memang pantas Aku dapatkan, karena secara tidak langsung Aku sudah menelantarkan Putri mereka."
Setelah memantapkan hati untuk bertemu pak Agung, ayah dari mantan istrinya. Wahyu pun bergegas keluar dari ruangannya tanpa membereskan berkas yang tercecer di mejanya, terlebih dahulu.
Sesampainya di kediaman pak Agung dan bu Lastri, Wahyu mengerutkan keningnya melihat mobil Lusi juga berada di sana.
Untuk apa Lusi kemari, bukankah Naura sedang berada di kuar kota? Wahyu bertanya-tanya dalam hati.
Wahyu pun turun dari mobilnya, kemudian melangkah mendekati rumah itu. Baru saja Wahyu akan mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka lebih dulu dan keluarlah pak Agung, bu Lastri serta Lusi dengan sangat terburu-buru, di wajah mereka sangat jelas terlihat raut kesedihan.
"Loh, Bapak sama Ibu mau kemana? Kenapa membawa tas begini?'' Tanya Wahyu, mengerutkan keningnya, melihat mantan ayah mertuanya itu membawa tas berukuran sedang yang diyakini Wahyu berisi pakaian.
"Bukan urusanmu!" ketus Pak Agung. "Mau apa lagi kau datang kemari, huh?" belum lagi Wahyu menjawab, Pak Agung membalikkan badannya mengunci pintu rumahnya, kemudian melangkah menuju mobil Lusi dan memasukkan tas nya ke dalam mobil.
"Nak Lusi, ayo kita berangkat sekarang, nanti kita ketinggalan pesawat. Ini sudah hampir siang, bapak tidak mau kalau sampai kita ketinggalan dan menunggu penerbangan sore." Ucap pak Agung sedikit berteriak.
Bu Lastri dan Lusi pun segera menghampiri pak Agung. Begitupun dengan Wahyu yang juga ikut menyusul dibelakang bu Lastri dan Lusi dan, dia tidak akan membiarkan ditinggalkan begitu saja tanpa tau kemana dua paruh baya itu akan pergi.
__ADS_1
"Pak, sebenarnya Bapak dan Ibu mau kemana?" tanya Wahyu, menahan lengan pak Agung yang akan masuk kedalam mobil.
"Saya sudah bilang bukan urusan Kamu!" bentak pak Agung, kemudian menghempaskan tangan Wahyu yang menahan lengannya, Wahyu pun sedikit terdorong ke belakang karena hempasan itu.
Pak Agung menatap tajam laki-laki yang sudah membiarkan putrinya pulang seorang diri di tengah derasnya hujan dini hari. Jika saja keadaan tak darurat, mungkin pak Agung sudah menghajar habis habis mantan putra dari almarhum temannya itu. Namun, melihat keadaan putrinya jauh lebih penting saat ini dari pada meladeni laki-laki yang sudah menjandakan putrinya.
Sementara Wahyu, hanya bisa menatap nanar mobil Lusi yang membawa Pak Agung dan bu Lastri, sudah melaju semakin jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
...*******...
"Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya Bayu, dia semakin tampak khawatir melihat ekpresi wajah dokter yang menangani Naura terlihat tak bersemangat setelah keluar dari ruangan IGD itu.
Dokter laki-laki yang berkisar berusia lima puluh tahun itu melepaskan kacamatanya, kemudian sebelah tangannya terulur menepuk pundak Bayu.
"Anda yang sabar ya, mungkin Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang terbaik dari musibah yang menimpa Anda," ucap dokter itu, mengusap pundak Bayu lalu menarik tangannya kembali.
"Saya turut berdukacita. Janin yang berada di dalam kandungan istri Anda, tidak bisa diselamatkan," Ucap dokter itu penuh sesal dia wajahnya.
Deg...
Seketika Bayu mematung, apa yang didengarnya barusan benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Dugaannya beberapa saat lalu ternyata benar, gadis kecilnya itu ternyata benar-benar hamil, dan sekarang mengalami keguguran karena kecelakaan itu.
'Ya Tuhan, apa yang akan Aku katakan nanti pada Pak Agung dan Bu Lastri. Naura mengalami kecelakaan bersamaku, dan karena itu Naura mengalami keguguran. Tapi, bagaimana nanti kalau Pak Agung dan Bu Lastri mengetahui kalau Naura keguguran, mereka pasti akan sangat kecewa dengan Naura'
__ADS_1
Bayu berasumsi kalau Naura telah hamil bersama kekasihnya, karena Bayu melihat sendiri data diri Naura bahwa disitu tertulis dengan jelas kalau status Naura adalah single.
Tak lama pintu IGD itu kembali terbuka, dua orang perawat keluar dari ruangan itu dengan mendorong bad Naura dan akan membawanya ke ruang perawatan intensif.
Terlihat Naura memejamkan matanya, wajahnya pucat. Bayu pun mengikuti dua perawat itu menuju ruangan perawatan.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya, dua perawat itupun keluar dari ruangan itu meninggalkan Bayu berdua dengan Naura yang masih belum sadarkan diri.
Di pandangnya wajah Naura yang terlelap terlihat sangat damai. Timbul sebersit kekecewaan di hati Bayu mengetahui fakta tentang gadis kecilnya itu.
Tak lama, perlahan Naura mengerjapkan matanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Bayu yang terlihat datar tanpa ekpresi.
"Kak Bayu," lirih nya, sebelah tangannya terulur mengusap perutnya.
"Kamu keguguran, Naura." ucap Bayu spontan, dia ingin melihat bagaimana reaksi gadis kecilnya itu saat dia mengatakan hal itu.
"Apa? Ke-gu-guran? Ak-u keguguran?" seketika Naura syok mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Bayu. Air matanya luruh begitu saja, dia mengusap usap perutnya dengan penuh sesal. Menyesal karena sama sekali tidak mengetahui ada janin yang sedang tumbuh di rahimnya.
"Maafkan Mama yang tidak mengetahui keberadaan kamu, andai saja Mama tau ada kamu di rahim Mama, Mama pasti akan menjaga kamu dengan baik" ucapnya penuh sesal di iringi dengan isak tangisnya.
Bayu yang mendengarkan itu hanya bisa mengusap wajahnya, benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh gadis kecilnya itu.
Beberapa saat kemudian, Naura mengusap air matanya, dia menatap Bayu ingin menanyakan dimana ponselnya, dia ingin memberitahu Wahyu tentang apa yang sudah terjadi padanya. Mereka telah kehilangan anak yang bahkan mereka tidak ketahui sama sekali keberadaannya.
__ADS_1
"Kak Bayu, dimana handphone ku? Aku harus menghubunginya, Dia harus tau. Aku harus minta maaf padanya karena tidak bisa menjaga anaknya."
Ucapan Naura semakin membuat Bayu bingung. Bagaimana gadis kecilnya itu dengan santainya mengatakan akan memberitahu pada ayah janin itu, sementara jelas diketahui itu adalah sebuah aib. Naura hamil tanpa suami, begitulah yang dipikirkan oleh Bayu