Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 43. RUMAH SAKIT


__ADS_3

Tok tok tok


"Assalamu'alaikum...


Belum selesai Lusi berbicara, kalimatnya terhenti saat terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari luar rumah.


Serentak Lusi dan Naura menoleh ke arah pintu.


"Bentar ya Lusi, aku buka pintu dulu" Ucap Naura, kemudian beranjak dari tempat duduknya melangkah ke arah pintu.


Naura menautkan kedua alisnya melihat siapa yang kini berdiri dihadapannya.


"Kak Naura, Kak aku kangen banget sama Kakak" Ucap seseorang yang berdiri di hadapan Naura, yang tak lain adalah Tasya.


Naura tersenyum, kemudian meraih tubuh adik iparnya itu kedalam pelukannya. "Kakak juga kangen banget sama kamu" Ucap Naura, sembari mengelus punggung adik iparnya itu.


"Kak, Kak Wahyu sakit, apa Kak Naura gak mau pergi jengukin Kak Wahyu sebentar aja, Kak Wahyu manggil manggil nama Kak Naura terus" Ujar Tasya, dan kini dia sudah terisak didalam pelukan Naura.


Mengetahui kalau suaminya itu sedang sakit, entah kenapa hati Naura merasa pilu. Ingin sekali rasanya pergi mengurus suaminya yang sedang sakit itu, namun dengan cepat Naura menggelengkan kepalanya kala mengingat surat gugatan yang dia ajukan beberapa hari yang lalu.


Tidak ada respon dari kakak iparnya, Tasya pun mengurai pelukannya dan menatap sendu pada kakak iparnya.


"Kak, Kak Naura mau kan pergi jengukin Kak Wahyu? Sebentar aja Kak" Tanya Tasya sekali lagi. Walaupun sebenarnya dia juga merasa kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh kakaknya itu, namun Tasya tak sampai hati melihat keadaan kakaknya yang sekarang terbaring lemah.


"Em, Tasya kita masuk dulu yuk, ngobrolnya didalam aja" Ajak Naura, merangkul adik iparnya itu membawanya masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu.

__ADS_1


"Eh, ada Kak Lusi juga rupanya" Ujar Tasya saat telah sampai diruang tamu.


"Hai Tasya" Sapa Lusi, tersenyum pada adik ipar temannya itu.


Tasya membalas senyuman Lusi, lalu beralih menatap Naura yang duduk disamping Lusi.


"Kak Naura, Semalam Kak Wahyu dilarikan ke rumah sakit karena mengalami kejang-kejang dan sesak nafas" Ujar Tasya, dan membuat Naura dan Lusi seketika tercengang.


"Rumah sakit? Kejang-kejang? Sesak nafas?" Naura menundukkan kepalanya sebentar, kemudian menatap adik iparnya itu lagi.


"Tasya, kenapa Mas Wahyu bisa mengalami seperti itu? Bukankah Mas Wahyu tidak memiliki riwayat penyakit apapun. Kenapa bisa mengalami kejang-kejang dan sesak nafas?'' Dan kali ini Naura terlihat benar-benar panik mendengar keadaan suaminya sekarang.


"Semenjak Kak Naura pergi, ternyata Kak Wahyu selalu mengkonsumsi obat tidur agar bisa tidur. Sebelumnya Kak Wahyu sudah bilang sama Mama kalau dia gak bisa tidur semenjak tidak ada Kak Naura, tapi Mama gak percaya, Mama mengira itu hanya akal-akalan Kak Wahyu supaya tidak bercerai dari Kak Naura,"


"Kak, jengukin Kak Wahyu sebentar ya dirumah sakit, Kak Wahyu selalu nyebut nyebut nama Kak Naura. Dokter pun terpaksa menyuntikkan obat penenang pada Kak Wahyu agar tidak terus mengigau. Kak Naura, aku tau kesalahan Kak Wahyu memang gak pantas untuk dimaafin, aku pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi kakak. Tapi aku mohon kali ini, sebentar saja Kak Naura menemui Kak Wahyu. Beri Kak Wahyu pengertian Kak, aku mohon"


Setelah Tasya selesai berbicara. Naura dan Lusi saling menatap, kemudian Lusi menganggukkan kepalanya sebagai isyarat agar Naura mau memenuhi permohonan adik iparnya itu.


"Baiklah, Kakak akan menemui Mas Wahyu, tapi sebentar saja" Ucap Naura, dan Tasya pun seketika telah tersenyum, lalu mengusap sudut matanya.


"Terima kasih banyak, Kak" Ucapnya.


Setelah berpamitan pada Bu Lastri dan Pak Agung. Naura, Lusi dan Tasya berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan mobilnya Lusi.


Sesampainya di rumah sakit, Tasya menggandeng tangan Naura menuju ruangan perawatan kakaknya, sementara Lusi mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Tasya membuka pintu ruangan perawatan Wahyu, sementara sebelah tangannya masih menggenggam tangan Naura.


Bu Winda yang melihat Putri dan menantunya datang, segera beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri Naura dan Tasya, dan tak lama Lusi pun masuk ke ruangan itu. Bu Winda tersenyum pada Lusi, dan Lusi membalas senyuman Bu Winda, kemudian duduk di sofa yang sebelumnya diduduki oleh Bu Winda sambil menyaksikan interaksi ketiga wanita berbeda usia itu.


"Ma, gimana keadaan Mas Wahyu?" Tanya Naura pada Mama mertuanya, namun tatapannya tertuju pada suaminya yang berbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


"Seperti yang kamu lihat, Naura. Beberapa saat yang lalu, dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang agar Wahyu bisa istirahat dengan tenang, dia terus saja menyebut-nyebut nama Kamu" Ujar Bu Winda, tatapannya juga tertuju pada putranya.


Perlahan, Naura melangkah mendekati bed suaminya, kemudian meraih tangan yang lemah itu kedalam genggamannya.


Kali ini Naura terlihat tegar walaupun dalam hati ia benar-benar iba melihat suaminya terbaring lemah seperti itu. Naura sudah berjanji akan membuang jauh jauh perasaannya terhadap suaminya itu, dan untuk beberapa hari ini tinggal terpisah membuat Naura sedikit demi sedikit bisa menghilang perasaan itu.


"Mas, aku gak nyangka kalau Mas akan seperti ini. Seharusnya Mas senang kita berpisah, karena dengan begitu Mas bisa bersatu dengan Bu Diandra tanpa adanya aku di antara kalian. Tapi kenapa Mas Wahyu malam jadi seperti ini, jangan membuat aku bingung, Mas" Gumam Naura, Ibu jarinya mengusap punggung tangan suaminya.


Keadaan Wahyu benar-benar membuatnya bingung. Naura pikir, dengan mengajukan gugatan suaminya itu akan senang karena bisa bersatu lagi dengan kekasihnya tanpa ada dia yang menghalangi, namun nyatanya suaminya malah seperti ini seolah tak rela berpisah darinya.


Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Wahyu, Naura benar-benar dibuat kebingungan oleh suaminya itu.


"Naura... " Naura menoleh kala Mama mertuanya itu menepuk pundaknya.


"Tadi pagi Wahyu sempat bilang, dia akan menandatangani surat cerai kalian tapi dengan satu syarat... " Bu Winda menghentikan kalimatnya sejenak, kemudian mengalihkan tatapannya dari Naura pada Wahyu.


"Syarat apa Ma?" Tanya Naura.


.

__ADS_1


__ADS_2