Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 103. SEANDAINYA WAKTU DAPAT DIPUTAR


__ADS_3

Dengan langkah gontai Wahyu melangkah keluar dari ruangan tempatnya membahas masalah pekerjaan bersama Bayu dan juga Andi.


Meski tadi dia menjelaskan dengan sangat detail pada Bayu tentang perkembangan perusahaan, tapi kini fokusnya kembali teralihkan pada Naura.


Tidak mudah baginya menahan gejolak didadanya yang kian bergemuruh, belum lagi hampir setiap hari dia bertemu dengan mantan istrinya itu.


Ah, Wahyu merutuki dirinya sendiri saat tadi dia mencoba bersikap acuh pada Naura diruangan Bayu, padahal jika diperbolehkan dia ingin bercerita banyak hal pada wanita yang pernah berada disisinya itu.


Dan hingga sampai di ruangannya sendiri, Wahyu masih tampak melamun.


"Ya Allah, rasanya sakit," lirih nya sembari mengelus dadanya. "Apa ini yang dulu dirasakan Naura."


"Seandainya waktu dapat diputar, Mas akan menjadi imam yang baik untukmu, tapi Mas terlalu naif lebih mengedepankan perasaan dibandingkan status. Maafkan Mas, Naura, Mas benar-benar minta maaf. Maafkan laki-laki bodoh ini." tiada hentinya Wahyu menggumamkan kata maaf, meski permintaan maafnya itu tidak akan bisa didengar oleh orang yang dituju nya.


"Ya Allah, jika ini adalah hukuman, maka Aku siap menjalaninya meski setiap harinya Aku akan merasakan sakit melihat kedekatan mereka." Wahyu pun mengusap wajahnya dengan kasar, menghembuskan nafasnya secara perlahan mencoba menenangkan hati dan fikiran nya dari sebuah penyesalan yang menjerumuskan nya sendiri.


Karena p jagaenyesalan yang sangat menyakitkan adalah, ketika mengabaikan kesempatan yang datangnya hanya satu kali.


Mencoba ikhlas dari suatu kehilangan dan tersenyum dari suatu kesakitan adalah hal yang tidak mudah dilakukan, namun itulah resiko bagi seseorang yang pernah menyakiti. Meski rasa sakitnya kini belum sebanding dengan luka tak berdarah yang pernah ditorehkan nya.


Setiap rangkaian cerita pasti akan ada penyesalan, dan di situlah yang dapat diambil maknanya dari arti sebuah hubungan.


Masih didalam bangunan yang sama, namun diruangan yang berbeda. Dua insan yang tak akan lama lagi mendapat gelar pengantin baru itu tiada hentinya terus saling melirik satu sama lainnya meski dihadapan mereka kini banyak pekerjaan yang menunggu mereka selesaikan.


Benar kata pak Jhohan, 'apa salahnya mencoba', mencoba membuka hati untuk yang lain, kenapa tidak?

__ADS_1


Beberapa saat terus saling melirik, Naura pun menghentikan aksi konyolnya itu lalu kembali fokus pada pekerjaannya yang sedari tadi menanti untuk dikerjakan, namun lain halnya dengan Bayu yang malah menjadi kesal karena Naura kini tak lagi menoleh padanya.


Namun, Bayu mencoba sedikit mengerti calon istrinya itu, Naura harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum tiba hari pernikahan mereka karena setelah itu Naura akan tidak masuk bekerja selama beberapa waktu, berbeda dengan Bayu yang pekerjaannya bisa diwakilkan pada Andi, dan bahkan kini ada Wahyu yang juga akan turut andil dalam pekerjaannya itu.


"Makan dulu yuk, udah laper nih." rengek Bayu, dan seperti biasa Naura hanya menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


"Kak Bayu makan duluan aja, Aku tunggu ini selesai dulu bentar lagi." ucap Naura tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


"Yaaah, tapi kan Aku maunya disuapin." ujar Bayu dengan manja.


"Jangan manja deh, uda tua juga." Naura terkekeh, namun tatapannya masih tertuju pada pekerjaannya.


"Udah, pokoknya makan dulu, yang ini nanti lagi dilanjutkan nya." Bayu menjauhkan tangan Naura dari benda-benda yang membuatnya tidak dihiraukan.


"Di sini bosnya itu calon mertua kamu, jadi dia gak bakal marah kalau kerjaan kamu belum selesai. Kalaupun gak selesai kita bisa cari orang lain yang melanjutkannya, lagipula setelah kita nikah kamu udah gak boleh kerja lagi, cukup dirumah aja dan ngurusin Aku."


"Apa, gak boleh kerja lagi? Ya gak bisa gitu dong, buat apa Aku kuliah sampai sarjana kalau ujung-ujungnya harus dirumah aja." protes Naura lagi.


"Aku bilang gak boleh ya gak boleh!" telak Bayu tak ingin dibantah, dia menarik tangan Naura beranjak dari kursi kerjanya itu.


"Aku kalau gak dibolehin kerja lagi setelah nikah, mending kita gak usah nikah aja, dibatalin aja!" tukas Naura lalu menarik tangannya dari genggaman Bayu, kemudian membelakangi calon suaminya itu namun Naura tersenyum karena pasti Bayu akan mengalah dengan ancamannya itu.


"Yah kok gitu sih. Naura, jangan gitu lah," ujar Bayu memohon, dan Naura yang membelakangi Bayu semakin melebarkan senyumnya, senyum penuh kemenangan.


"Naura, eh sini lihat Aku," namun Naura enggan membalikkan badannya.

__ADS_1


"Ya udah iya kamu boleh tetap kerja nanti setelah kita nikah." ucap Bayu pada akhirnya mengalah juga pada calon istrinya itu.


Dan Naura pun akhirnya membalikkan badannya dan tersenyum lebar.


"Dan kita harus pisah ruangan." ucap Naura dan membuat Bayu membulatkan matanya.


"Kamu boleh tetap kerja, tapi gak boleh pisah ruangan sama Aku, titik! Udah gak usah ngebantah lagi, pokoknya sekarang kita harus makan dulu." Bayu pun menarik tangan Naura lalu melangkah keluar dari ruangannya.


"Kamu harus makan yang banyak, gak boleh sampai sakit, jangan dibiasakan telat makan, pokoknya makan harus tepat waktu. Kalau sudah waktunya makan ya makan dulu, masalah kerjaan nanti dilanjutkan lagi kalau sudah makan, pokoknya gak boleh menunda-nunda waktu makan, kamu paham kan?"


Sepanjang langkah menuju parkiran Bayu terus berceloteh dan membuat para karyawannya tertawa karena ini adalah pertama kalinya melihat Bayu cerewet seperti itu.


Pemandangan yang baru pertama kalinya dilihat oleh para karyawan itu membawa suasana yang berbeda di kantor hari ini. Bayu yang biasanya terlihat tegas kini berubah menjadi sosok yang cerewet, namun hanya cerewet pada calon istrinya.


Dan Wahyu yang baru saja dari luar bersama Andi pun turut menyaksikan hal yang tak biasa itu. Andi tersenyum seolah ikut merasakan kebahagiaan sepasang calon pengantin baru itu, sementara Wahyu langsung membuang muka tak ingin melihatnya.


Hal seperti inilah yang tak sanggup Wahyu saksikan, tangan yang dulunya selalu dia genggam setiap hari, kini berada di dalam genggaman tangan laki-laki lain.


Tak ingin berlama-lama disana, Wahyu pun mempercepat langkahnya kembali ke ruangannya, sementara Andi sendiri masih berdiam diri menyaksikan kecerewetan atasannya itu sembari terus menyunggingkan senyum, hingga dua insan itu hilang dibalik pintu kaca baru lah Andi juga meninggalkan tempat itu dan kembali ke ruangannya.


Di parkiran Bayu masih saja terus berceloteh hingga masuk ke dalam mobil sampai-sampai Naura menutup telinganya, tak sanggup lagi mendengarkan celotehan calon suaminya itu.


"Di mana-mana kalau orang lapar itu ya lemes, ngomong pun enggan. Tapi, Kak Bayu kok malah makin kuat ngoceh nya." tegur Naura.


"Aku bukannya lagi ngoceh ya, tapi lagi nasihatin kamu."

__ADS_1


__ADS_2