Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 28. BOHONG!


__ADS_3

"Mas, sebaiknya kita bicarakan ini juga bersama keluarga kita. Mereka yang memulai pernikahan ini, dan mereka juga yang harus mengakhirinya, jangan menutupi apapun dari mereka"


Ucap Naura pada akhirnya setelah beberapa saat terdiam.


"Tidak Naura, kita tidak perlu mengatakan apapun pada mereka, karena Mas tidak akan pernah menceraikan kamu, Mas juga mencintai kamu...


" Bohong! " sarkas Naura, kemudian turun dari ranjang, Naura melangkah keluar dari kamar menuju dapur, perutnya sudah sangat lapar. Mungkin, dengan mengisi perut, akan lebih menjernihkan pikirannya yang kalut.


Sementara Wahyu dikamar, dia memilih untuk mandi. Mungkin dengan berendam didalam bathup akan menjernihkan pikirannya saat ini.


Bu Winda yang baru saja dari belakang melintasi dapur, melihat Naura sedang makan sendirian, Bu Winda pun menghampiri menantu nya itu.


Naura makan dengan cepat, perutnya sudah sangat lapar sejak pagi hanya makan roti selai dan setengah gelas susu sebelum berangkat ke kampus.


"Laper banget kelihatannya" tegur Bu Winda, kemudian duduk disamping menantunya itu.


Naura sedikit terkejut sekaligus canggung karena ketahuan makan dengan cepat seperti orang yang sudah tiga hari tidak makan.


"Eh, Mama. Maaf Ma, aku laper banget" jawab Naura, tersenyum canggung.


"Iya, tapi makannya jangan buru-buru begitu juga kali, kalau kamu keselek, gimana coba?"


"Hehehe, Iya Ma, Maaf"


"Em, Oh ya, kok kamu makan sendirian, suami kamu mana?" tanya Bu Winda celingak celinguk mencari keberadaan putra nya.


"Mas Wahyu, lagi ada dikamar Ma" jawab Naura, melanjutkan makannya.

__ADS_1


"Wahyu kok gak makan? apa dia sudah makan?" tanya Bu Winda lagi.


"Gak tau Ma" jawab Naura santai sambil terus menyuapi mulutnya.


'Naura kenapa ya, tumben ngomongnya kayak gitu. Biasanya dia paling tau semua mengenai Wahyu, kok sekarang dia kayak masa bodo gitu ya. Apa jangan-jangan benar yang dibilang sama Tasya, Wahyu dan Naura lagi berantem. Tapi karena apa ya?' Gumam Bu Winda dalam hati.


"Em, ya udah. Kamu lanjutin makannya, Mama mau kekamar dulu" ujar Bu Winda, kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Iya Ma" jawab Naura.


Disela-sela langkahnya, Bu Winda sesekali menoleh melihat Naura, Bu Winda curiga kalau anak mantunya itu sedang ada masalah. Tapi kenapa? padahal tadi pagi baik-baik saja saat akan berangkat ke kampus.


*****


Didalam kamar, Wahyu telah selesai mandi. Dia membawa tubuhnya duduk disofa yang berdekatan dengan ranjang, di tangannya handuk kecil yang dia gunakan untuk mengusap rambutnya yang basah.


Beberapa saat kemudian, duduk termenung disofa. Wahyudi dikagetkan oleh dering ponselnya yang berada di atas nakas. Gegas Wahyu meraih ponselnya, dan ternyata yang menelpon adalah Diandra. Tanpa berpikir panjang, Wahyu pun mengangkat panggilan itu.


Deg... Sudah sakit, semakin sakit saja. Di luar kamar, baru saja Naura akan masuk, namun dia mengurungkan niatnya, mendengar suaminya menyebut nama dosennya, wanita yang telah lama menjalin kasih dengan suaminya itu. Naura pun hanya berdiri didepan pintu mendengarkan percakapan itu


'Kalau kau serius dengan hubungan kita, temui aku sekarang, aku menunggumu di cafe biasa'


Ck. bodohnya, Wahyu mengaktifkan speaker sehingga diluar kamar Naura bisa mendengar apa yang dikatakan Diandra.


"Tentu aku serius, Diandra. Berapa kali aku harus bilang, kalau aku sangat mencintaimu. Baiklah, tunggu aku disana, aku bersiap sebentar"


Di luar kamar, Naura menengadahkan kepalanya, menahan agar air matanya tidak jatuh. Kenapa sesakit ini mencintai. Sementara yang dicintai, mencintai orang lain.

__ADS_1


Setelah sambungan teleponnya terputus, Wahyu bergegas mengganti pakaiannya yang saat ini hanya mengenakan kaos oblong dan celana bokser. Setelah berganti pakaian, Wahyu mengambil ponsel dan kunci mobilnya.


Bertepatan dengan itu Naura masuk ke kamar, Wahyu pun menghampiri istrinya yang kini duduk di sofa yang sebelumnya diduduki oleh dirinya.


"Naura, Mas pergi sebentar ya, Mas janji tidak akan lama. Kamu jangan kemana-mana ya, Mas mohon kamu jangan pergi" Wahyu bersimpuh dihadapan istrinya, serta menggenggam kedua tangan Naura.


Setelah berpamitan pada Naura, Wahyu pun bergegas pergi.


'Apa ini, Mas? Mas menahan ku disini, sementara Mas sendiri pergi menemui dia'


Seandainya Naura tidak bisa menahan, entah sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan karena cinta yang berbalut dusta.


Tak ingin terus larut dalam keterpurukan nya, Naura pun menelpon temannya, Lusi. Dia ingin mengajak temannya itu bertemu di cafe yang biasa mereka datangi dulu sebelum dia menikah dengan Wahyu.


Mungkin, dengan mengenang masa masa remajanya bersama Lusi, hati yang lara itu akan sedikit terhibur dengan adanya Lusi yang humoris.


"Lusi, kita ketemu di cafe, yang dulu sering kita datangi ya. Aku hari ini mau ajak kamu nostalgia di sana, hehehe" Naura tetap berusaha tersenyum walaupun sebenarnya hatinya menangis.


"Oke bestie, aku siap-siap dulu ya, ganti baju terus otw kesana, aku baru sampai rumah juga ini soalnya" ucap Lusi diseberang sana.


"Kok baru sampai emangnya dari mana?"


"Biasalah tuh dua curuk tadi banyak maunya, kekuras dah dompet ku, hahahah, eh tapi gak apalah, nyenengin teman juga sekali-kali, hehehe, yaudah Naura, aku tutup telepon dulu, bye"


Setelah berpamitan pada Bu Winda, mertuanya. Naura pun berangkat menggunakan Taksi menuju cafe yang dulunya sering dia datangi bersama Lusi.


"Setahun lebih, akhirnya bisa datang kesana lagi" gumam Naura, saat ini dia sudah berada didalam Taksi.

__ADS_1


Sementara Lusi, dia juga sudah di perjalanan saat ini menuju cafe. Lusi menggunakan mobilnya sendiri, kehidupan Lusi sangat jauh dari Naura yang hanya anak dari pengusaha kecil pengrajin batik, dan orangtua Lusi adalah pemilik perusahaan ternama di ibukota.


Rencananya, mereka berdua akan melamar pekerjaan nantinya di perusahaan milik orangtua Lusi.


__ADS_2