Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 96. RUMAH UNTUK NAURA


__ADS_3

"Pak, Wahyu sudah menandatangani surat serah terima sahamnya," ujar Andi lalu meletakkan map yang sudah dibubuhi tanda tangan Wahyu, diatas meja pak Jhohan.


"Parcel lamaran yang pak Jhohan minta juga sudah siap, Pak." sambungnya.


"Bagus, nanti tolong kirimkan kerumahku." kata pak Jhohan, dan Andi pun mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.


Setelah Andi keluar dari ruangannya, pak Jhohan mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang memintanya untuk bertemu di sebuah cafe karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan nya.


Beberapa saat kemudian Pak Jhohan pun kini sudah berada di cafe, tinggal menunggu seseorang yang diminta datang bertemu dengannya. Tak lama kemudian gadis yang seumuran dengan putri bungsunya itu sudah duduk di hadapannya dengan senyuman hangatnya.


"Maaf, Om, sebenarnya ada apa ya Om ingin bertemu disini?" tanya gadis yang tak lain adalah Naura.


"Seharusnya kamu sudah tau kenapa Om mengajak kamu bertemu di sini?" pak Jhohan menyunggingkan senyum melihat raut kebingungan diwajah Naura.


"Maksud Om, apa ya?" Naura bertanya dengan lirih, dia tidak mengerti maksud lelaki paruh baya yang sedang tersenyum padanya itu.


"Bukankah Om sudah mengatakan padamu tempo hari saat masih di Palembang." Naura pun terdiam, kini dia mengerti sekarang, pak Jhohan ingin membahas tentang lamarannya itu.


"Om tau, kamu tidak punya perasaan apapun pada Bayu. Tapi, Om ingin kamu tetap menikah dengan Bayu."


Naura tercekat, dia tidak tau harus berkata apa. Kalimat yang baru saja didengarnya adalah sebuah permintaan, namun lebih mengarah pada keharusan yang artinya Naura harus menerima dengan suka atau tidak.


"Om sedikit tau tentang awal pernikahan mu dengan Wahyu yang hanya dijodohkan. Kenapa kamu juga tidak mencobanya dengan Bayu." ucap pak Jhohan lagi dan membuat Naura semakin tak bisa berkata-kata.


"Om yakin, seiring berjalannya waktu kamu juga bisa mencintai Bayu sama seperti kamu mencintai Wahyu. Dan yang perlu kamu ketahui, diluar sana Bayu tidak memiliki wanita manapun selain Mama dan juga adiknya, selama ini Bayu hidup melajang tanpa seorang wanita disisinya, jadi kamu tidak perlu khawatir akan gagal seperti pernikahanmu dengan Wahyu."

__ADS_1


Sampai sini Naura masih terdiam tidak tahu harus bagaimana merespon ucapan lelaki paruh baya didepan nya ini. Dia memang masih memiliki trauma akan kegagalan pernikahannya, namun bukan itu yang menjadi permasalahannya sekarang.


Yang menjadi persoalannya sekarang adalah tentang perasaan. Dulu Naura juga sama sekali tidak memiliki rasa apapun pada saat awal pernikahannya, namun seiring berjalannya waktu cinta itu tumbuh, semakin dalam bahkan lebih dalam sehingga menorehkan luka yang begitu dalam.


Dan intinya Naura hanya tidak ingin mengulang kisah yang sama dengan menikahi lelaki yang tidak dicintainya, meski pria paruh baya dihadapannya ini sudah menjamin kegagalan itu tidak akan terjadi lagi, namun itu bukanlah jaminan yang sebenarnya. Siapa yang tau hati manusia, siapa yang tau bagaimana jalannya takdir manusia.


Manusia hanya bisa berkata, namun tetap sang Maha pemilik takdir lah yang menentukan segalanya.


"Menikah itu adalah nasib, dan mencintai itu adalah takdir. Kita bisa memilih dengan siapa kita akan menikah, namun Aku sendiri tidak tau kemana cinta itu akan berlabuh." pak Jhohan terkekeh mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Naura.


"Yah, itu memang benar. Tapi, apa salahnya mencoba, bukan?" kata pak Jhohan sembari mengerutkan keningnya.


"Apa kamu akan menolak lamaran Om, untuk Bayu?" tanya pak Jhohan pada akhirnya.


Lagi-lagi Naura terdiam, masih bingung harus menjawab apa. Bayu adalah laki-laki yang baik, dia memperlakukan Naura dengan sangat baik. Terbukti dengan beberapa bulan tinggal bersama dalam satu apartemen yang sama Bayu tidak pernah sekalipun bersikap diluar batas padanya. Namun, apakah itu bisa dijadikan alasan untuk tidak menolak.


Jika Naura sedang dilanda kebingungan saat ini, berbeda dengan Wahyu yang tersenyum puas setelah menghitung hasil tabungannya selama satu tahun ini, dan itu dimulai setelah dia menikahi Naura.


"Alhamdulillah, akhirnya tabunganku sudah terkumpul banyak. Ini akan Aku pergunakan untuk membeli rumah dan itu akan Aku berikan pada Naura, anggap saja sebagai harta gono gini." setelahnya Wahyu terkekeh sendiri dengan ucapannya itu.


Tak ingin membuang waktu, Wahyu pun bergegas menuju lokasi rumah yang akan dibelinya. Sebuah rumah yang minimalis, namun terlihat megah.


Sebuah kesenangan tersendiri bisa membeli rumah dari hasil keringat sendiri, namun rumah yang dibelinya itu akan dia berikan pada mantan istrinya, dan yang sangat disayangkan Wahyu membelikannya untuk Naura saat tak lagi menjadi istrinya.


Tak butuh waktu lama, surat-surat rumah itu sudah berpindah ke tangan Wahyu dengan nama Naura Anindhita sebagai pemiliknya. Setelah melakukan transaksi secara tunai, Wahyu bergegas pergi ke tempat tujuannya selanjutnya, yaitu bertemu Noval untuk meminta izin menemui Naura.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, wahyu pun sampai dihadapan bangunan berlantai dengan puluhan kelas didalamnya. Wahyu yakin Noval masih berada didalam bangunan itu mengajar para mahasiswanya. Dan benar saja, belum lama Wahyu menunggu diruangan dosen, Noval pun datang dengan beberapa tumpukkan buku diperlukannya. Sepertinya mantan kakak iparnya itu baru selesai mengajar.


Wahyu pun berdiri melihat kedatangan Noval, menyambutnya dengan senyuman hangat namun dibalas dengan tatapan membunuh dari Noval.


"Mau ngapain kesini?" ketus Noval, sembari meletakkan buku yang dibawanya di atas mejanya.


"Aku ingin meminta izin untuk bertemu Naura," ucap Wahyu dan seketika kembali mendapat tatapan tajam dari Noval.


"Sudah lupa ya, apa yang pernah Aku katakan!" Noval menyilangkan kedua tangannya didada sembari terus menatap tajam ke arah Wahyu.


"Aku mohon kali ini saja, Aku hanya ingin memberikan ini." Wahyu menyodorkan sebuah map yang berisi sertifikat, pada Noval.


"Apa itu?" tanya Noval hanya melihat map itu tanpa menyambutnya.


"Ini sertifikat rumah, Aku baru saja membelikan rumah untuk Naura." ucap Wahyu lalu meletakkan map itu di mejanya Noval.


"Untuk apa kamu membelikan Naura rumah, dia bukan istrimu lagi." ucap Noval dengan sinis.


"Aku tau, anggap saja ini adalah harta gono gini untuk Naura." kata Wahyu, dia tetap tersenyum meski mendapatkan tatapan membunuh dari Noval.


"Heh," Noval tersenyum sinis mendengar apa yang baru saja dikatan oleh Wahyu. "Harta gono gini." ucapnya dengan nada mengejek.


"Aku rasa Naura tidak membutuhkan itu, bawa saja pulang sertifikat rumah itu dan berikan saja pada wanita yang akan kau peristri." ujar Noval kemudian memutus kontak matanya dengan Wahyu.


"Tapi Aku serius ingin memberikan rumah itu pada Naura," Wahyu masih bersikukuh. "Aku tulus membelikannya untuk Naura, rumah itu untuk Naura." tegas Wahyu, dan Noval pun hanya bisa menggeleng geleng pelan kepalanya.

__ADS_1


"Terserah kau saja. Tapi kalau Naura tidak mau, kau jangan memaksanya!" ucap Noval memperingati.


Tanpa menjawab ucapan Noval, Wahyu pun dengan cepat meraih map berisi sertifikat rumah yang sebelumnya dia letakan di atas meja Noval, lalu dengan langkah cepat keluar dari ruangan dosen itu, benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan Naura.


__ADS_2