Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 98. LAMARAN


__ADS_3

Meski cuaca di luar sana terasa panas karena terik matahari yang begitu menyengat, namun kedua tangan Naura terasa dingin, dia terus menggosok gosokkan kedua tangannya agar terasa hangat, tapi yang didapatnya hanyalah hawa dingin yang kini bercampur peluh membasahi kedua telapak tangannya itu.


Naura tak hentinya menatap jam dinding dikamarnya sembari terus melangkah mondar-mandir.


Bukan hanya kedua telapak tangannya yang kini berkeringat dingin, bahkan keningnya juga sudah berkeringat. Gugup, bingung bercampur menjadi satu.


Dua hari telah berlalu setelah pertemuannya dengan pak Jhohan, dan tepatnya hari ini adalah hari dimana Naura harus memberikan jawaban dari pertanyaan pak Jhohan dua hari lalu.


Naura berdo'a dalam hati agar pak Jhohan melupakan hari ini, dan tidak pernah datang ke rumahnya. Bukan tanpa alasan, Naura hanya tidak ingin menyakiti lekaki sebaik Bayu jika menerima lamaran itu dengan sedikit keterpaksaan dalam hatinya, ingin menolak pun Naura tak sampai hatinya melakukannya karena pasti akan membuat kecewa orang-orang baik itu. Jadi lebih baik jika pak Jhohan tidak pernah datang menunaikan lamarannya itu.


Hingga terdengar suara ketukan dibalik pintu kamarnya menyadarkan Naura dari lamunannya.


"Naura, ayo keluar. Di luar ada Nak Bayu dan keluarganya." ucap bu Lastri di balik pintu.


Naura tercengang, ternyata pak Jhohan benar-benar datang.


Naura bingung. Apa, apa yang harus dilakukannya sekarang? Semakin bingung tidak tahu harus bagaimana.


Beberapa saat dilanda kebingungan. Tiba-tiba tatapannya tajam menatap lurus kedepan, keduanya tangannya ia kepal dengan erat.


"Ini semua gara-gara kamu, Mas. Seandainya kamu tidak pernah mendustai Aku, hari ini tidak akan pernah ada, hari tidak akan ada lelaki lain yang datang kerumah ini untuk mempersunting Aku. Aku benci kamu, Mas, Aku benci!" puas mengeluarkan semua unek-unek nya Naura pun beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah ke arah pintu dan membukanya.


Hari ini dia akan memberikan jawaban pada Jhohan dan itulah keputusannya. Keputusan yang akan membuat orang yang menyebabkan hari ini terjadi, menyesal.


Dengan santai Naura menuju ruang tamu, dimana semua orang sudah menunggunya di sana.


"Maaf ya semuanya sudah menunggu lama," ucap Naura lalu duduk ditengah-tengah ibu dan ayahnya sembari tersenyum hangat menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Ya elah, kirain lagi dandan lama banget keluarnya, tau nya enggak." celetuk Lusi lalu membuang muka sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


"Hus, Lusi jangan gitu ih." tegur mamanya.


"Gak apa-apa sekarang gak dandan, tapi nanti setelah jadi pengantin harus didandani yang cantik." sahut pak Jhohan.


"Gak dandan aja cantik ya, Pa. Apalagi kalau dandan." ujar istrinya pak Jhohan.


"Uh, pasti cantik banget, langsung klepek-klepek dah tuh si pangeran kodok." ucap Lusi menyahuti ucapan mamanya.


Sementara pak Agung dan bu Lastri hanya tersenyum getir menyimak percakapan keluarga yang datang bertamu ini, tanpa tau apa maksud kedatangan mereka.

__ADS_1


"Ehem, begini pak Agung, sebenarnya maksud kedatangan kami kesini untuk..." tiba-tiba pak Jhohan menjeda kalimatnya lalu mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi seseorang yang sedang menunggu di mobil.


"Tolong bawa masuk." perintahnya pada seseorang di ujung telepon.


Tak lama seorang laki-laki yang tak lain adalah Andi masuk bersama beberapa orang dengan membawa parcel lamaran yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.


Setelah meletakkan parcel itu di atas meja, Andi dan beberapa orang suruhan pak Jhohan pamit undur diri.


"Ini maksudnya apa ya, Pak?" tanya pak Agung bingung, ia menatap parcel itu lalu menatap satu persatu keluarga Bayu.


"Begini Pak Agung, maksud kedatangan kami sebenarnya ingin meminta Naura sebagai istrinya Bayu. Beberapa hari lalu saya sudah membicarakan hal ini pada Naura, namun Naura belum menjawab, dan hari ini kami datang untuk meminta secara baik-baik kepada Pak Agung dan juga Bu Lastri."


Dengan santai pak Jhohan mengutarakan maksud kedatangannya, berbeda dengan Bayu yang sedari tadi diam menyimak. Dahinya mulai berkeringat, dadanya mulai bergemuruh, bahkan dia menundukkan kepalanya tak berani menatap orang-orang yang ada di ruangan itu termasuk Naura.


Kecemasan melanda nya, dia takut kecewa mendengar jawaban Naura yang mungkin akan menolaknya.


Sementara Naura tersenyum geli dengan terus menatap Bayu yang menundukkan kepalanya. Naura tahu apa yang sedang dipikiran oleh laki-laki yang pernah mengatakan perasaannya itu padanya.


Lain halnya dengan pak Agung dan bu Lastri yang langsung saling tatap setelah pak Jhohan mengutarakan maksud kedatangannya.


"Pak Agung, Bu Lastri, bagaimana Pak, Bu?" tanya pak Agung kemudian.


"Kami mengucapkan terima kasih banyak atas niat baiknya, Pak Jhohan. Kami sebagai orangtua tentu sangat senang mendengarnya, tapi..." pak Agung menjeda ucapannya lalu menatap putrinya. "Kami tidak bisa memutuskan apapun, semua keputusan ada pada Naura, mau menerima atau tidaknya." sambung pak Agung.


"Bagaimana, Naura?" tanyanya pada putrinya.


Naura tersenyum sembari menatap ayahnya itu, lalu menatap ibunya kemudian menatap satu persatu keluarga Bayu, dan terakhir menatap Bayu.


"Aku bersedia menjadi istrinya, Pak." jawab Naura dengan masih menatap Bayu yang juga masih menundukkan kepalanya.


Mendengar jawaban Naura, sontak Bayu mengangkat kepalanya dan pandangannya seketika itu bertemu dengan Naura.


"Apa, apa Aku tidak salah dengar? Naura bersedia menjadi istriku, dan itu artinya, ya Allah terima kasih engkau sudah mengabulkan do'a ku." Bayu berucap dalam hati sembari menyunggingkan senyum.


"Naura, apa kamu sudah yakin, Nak?" tanya bu Lastri dengan berbisik ditelinga putrinya itu. "Pikirkan sekali lagi, Nak." ucapnya.


"Aku yakin, Bu, Aku sudah memikirkannya sejak kemarin." jawab Naura juga dengan berbisik.


Dan inilah keputusan Naura, walaupun belum sepenuhnya yakin dengan keputusannya ini. Namun apa salahnya mencoba, benar apa yang dikatakan pak Jhohan, kenapa tidak mencobanya dengan Bayu.

__ADS_1


Pak Jhohan dan istrinya tersenyum puas mendengar jawaban Naura, begitupun dengan Lusi yang tidak menyangka temannya itu menerima lamaran kakaknya.


Beberapa saat kemudian Lusi pun tersenyum kecut membayangkan Naura akan menjadi kakak iparnya, sementara usia Naura satu tahun lebih mudah di bawahnya.


"Naura, apa kamu sudah yakin dengan jawabanmu itu?" tanya pak Jhohan seolah memastikan, namun dalam hati dia tersenyum penuh kemenangan atas jawaban Naura itu.


"Aku sangat yakin, Om." ucap Naura dengan mantap.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu, Om turut senang mendengar nya." ucap pak Jhohan.


"Uh, akhirnya jomblo karatan ini laku juga." celetuk Lusi dengan menatap kakaknya dan seketika membuat semua orang yang ada diruangan itu, tertawa mendengarnya.


"Baiklah kalau begitu, apa perlu sekalian kita atur saja tanggal pernikahannya sekarang?" pak Jhohan menatap semua orang meminta persetujuan.


"Kalau Aku, terserah Om saja maunya kapan." ucap Naura dan membuat Lusi tersenyum geli mendengarnya.


"Iya Pak Jhohan, kalau kami ikut bagaimana baiknya saja, toh Naura juga tidak keberatan. Kami mendukung apapun keputusan putri kami, dan kami selalu mendoakan yang terbaik untuknya." sahut pak Agung dan diangguki oleh istrinya.


"Em, bagaimana kalau bulan depan?" tanya pak Jhohan, sekali lagi menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu.


"Bulan depan kelamaan, Pa, kenapa gak minggu depan aja atau sekalian aja besok." celetuk Lusi, dia menatap jengah kakaknya yang nampak tak setuju dengan ucapan papanya.


"Lusi, semuanya itu butuh persiapan, jadi gak bisa diadakan dalam waktu dekat ini." ucap mamanya.


"Kalau Aku sih ngerti, Ma, tuh Kak Bayu kelihatannya gak setuju dia tadi Papa bilang bulan depan." ujar Lusi dengan menunjuk kakaknya.


Dan semua orang yang ada diruangan itupun menatap Bayu lalu tertawa.


.


.


.


Mampir ke novel teman othor yuk sambil nunggu up selanjutnya 🙏



Aldrich Marchdika yang meninggal karena konspirasi paman dan sahabatnya, akhirnya terlahir kembali dalam tubuh seorang pria tampan bernama Kendra Argantara yang berstatus sebagai mahasiswa abadi jurusan Tehnik Arsitektur di sebuah Universitas Negeri ternama di negeri ini, sekaligus sebagai pewaris tunggal Perusahaan besar Argantara Group. Namun, dia harus meninggal dunia akibat konspirasi dari tunangan dan sepupunya sendiri yang menginginkan harta warisan milik Kendra.

__ADS_1


Bagaimana seorang Aldrich yang kini menjadi sosok Kendra mengungkapkan kematian si pemilik tubuh?


Bagaimana pula dia mengatakan pada Allana kalau sebenarnya dia adalah suaminya, sedangkan pertemuan pertama Kendra dan Allana memberikan kesan yang buruk untuk istrinya?


__ADS_2