Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 113. SIAPA YANG DATANG?


__ADS_3

"Uh, akhirnya bisa rebahan juga," ucap Renita yang baru saja menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang empuk di sebuah kamar hotel.


"Tapi, sampai kapan Aku harus berada disini, kalau Aku pulang kira-kira mereka mau terima Aku gak ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Renita pun terdiam sembari menatap langit-langit kamar hotel yang bernuansa serba putih itu, ingatannya menerawang jauh pada lima tahun lalu saat dia akan pergi ke Amerika untuk mengejar cita-cita nya di sana. Namun, Renita tak menyangka bahwa keluarganya menentang keputusannya itu.


"Huh... " helaan nafas panjang terhembuskan. Apakah mengejar cita-cita itu adalah sebuah kesalahan sehingga kini semua keluarga memusuhi nya, bahkan mengatakan jangan kembali lagi jika ingin tetap pergi mengejar cita-cita nya itu.


Menyesal? Ah, tidak. Lihatlah apa yang dia dapatkan dari keputusannya itu, meski tinggal di Negeri orang Renita mempunyai segalanya walaupun tak bersama keluarganya, bahkan tanpa sepengetahuan keluarganya Renita mempunyai sebuah butik di Jakarta yang sangat berkembang pesat. Dan butik nya itu di kelola oleh sahabatnya semasa kuliah dulu.


"Om Jhohan," ucapnya setelah beberapa saat terdiam. "Yah, Om Jhohan pasti bisa bantuin Aku, Om Jhohan kan teman dekat Papa." Renita tersenyum mengingat laki-laki paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.


"Om Jhohan apa kabarnya ya sekarang, udah lama banget gak ketemu. Mending besok Aku ke rumahnya deh sekalian mampir ke butik kasih kejutan sama bestie ku, dan hari Aku istirahat dulu di sini, sumpah capek banget." Renita pun menggeliat kan tubuhnya dan beberapa saat kemudian akhirnya tertidur.


...*******...


"Huuummm, jam berapa ya sekarang?" Bayu yang sebelumnya tertidur kembali karena kesal dikerjai adiknya, telah bangun dan menggeliat seperti bayi lalu meraih ponselnya di atas nakas ingin melihat jam, namun mata sipit ala bangun tidur itu seketika terbuka lebar saat melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Naura.


"Astaghfirullah, Naura nelpon Aku sampai sebanyak ini, aduh ada apa ya?" merasa khawatir terjadi sesuatu Bayu pun menelpon balik nomor Naura.


Tak butuh waktu lama, panggilannya pun tersambung karena sedari tadi Naura memang tak melepas ponselnya, berharap Bayu menelponnya balik.


"Assalamu'alaikum, Kak Bayu baik-baik aja kan, kenapa telepon Aku gak di angkat-angakat?" tanya Naura dengan khawatir.


"Waalaikumsalam, iya Aku baik-baik aja kok." Bayu tersenyum, ternyata Naura menelponnya berkali-kali karena sedang mengkhawatirkan dirinya.


"Ada apa, kenapa kedengerannya lagi khawatir gitu?" tanya Bayu.


"Abisnya kakak gak angkat-angakat telepon Aku, pikir Kak Bayu kenapa-kenapa." senyum Bayu semakin merekah karena dikhawatirkan oleh calon istrinya.


"Maaf udah bikin kamu khawatir, Aku gak kenapa-kenapa kok, Aku tuh seharian ini kerjaannya cuma tidur aja." ujar Bayu terkekeh.


"Aku seneng loh dikhawatirin sama kamu, itu artinya kamu mulai perhatian dan sayang sama Aku, atau jangan-jangan Kamu juga udah jatuh cinta ya sama Aku." ucap Bayu dengan tersenyum lebar, namun senyumnya itu perlahan memudar karena tak mendapat tanggapan dari Naura, disana Naura hening bahkan helaan nafasnya pun tak terdengar oleh Bayu.

__ADS_1


Bayu pun tersenyum kecut, inilah salah satu resiko yang harus dia tanggung, harus bersabar sampai cinta itu tumbuh dengan sendirinya di hati Naura. Setidaknya, Naura mau menerima lamarannya saja sudah membuat Bayu sangat senang.


"Em, Naura, seharian ini kamu ngapain aja?" tanyanya mencairkan keheningan.


"Aku takut, Kak." jawab Naura, ternyata sedari tadi Bayu berceloteh Naura melamun memikirkan mimpinya itu.


"Takut," Bayu mengerutkan keningnya. "Takut kenapa?" tanyanya.


"Mimpi itu datang lagi, Kak."


"Mimpi? Kamu mimpi itu lagi?" Naura menganggukkan kepalanya seolah Bayu melihatnya.


"Hem, pasti kamu kepikiran terus makanya kamu sampai mimpiin itu lagi. Kan Aku sudah bilang gak usah dipikirkan, itu hanya bunga tidur, bandel sih dibilangin."


"Kak Bayu jangan kemana-mana ya, dirumah aja sampai waktunya nanti kita ketemu." ujar Naura dan itu membuat Bayu terkekeh.


Meski Naura tidak pernah mengatakan mencintai ataupun sekedar sayang sebagai seorang kakak, namun semenjak hari lamaran itu Naura mulai menunjukkan perhatiannya, dan itu membuat Bayu senang karena sudah mengalami kemajuan dalam hubungannya dengan Naura.


"Iya, tenang aja, Aku gak bakalan bandel kok." ucap Bayu terkekeh.


"Oh ya, kamu belum jawab pertanyaan Aku loh," ujar Bayu.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Naura bingung.


"Tadi Aku tanya, Kamu seharian ini ngapain aja?" ucap Bayu mengulang pertanyaannya.


Naura pun menceritakan tentang hari ini dirinya yang disiram dengan seember air oleh ibunya karena bangun kesiangan, dan karena ulah ibunya itu kasurnya sampai basah dan dia harus menjamurnya seharian.


"Hahahah," Naura sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya, mendengar gelak tawa Bayu yang menggelegar.


"Ternyata calon ibu mertua galak juga ya rupanya," ucap Bayu dengan menahan tawanya.


"Ya ampun kasihan banget calon istriku di mandikan di tempat tidur, hahaha." tawa Bayu pun kembali meledak.

__ADS_1


"Kak Bayu, nyebelin banget sih!" Naura pun langsung mematikan sambungan teleponnya karena merasa kesal ditertawakan.


"Eh kok dimatiin sih, kan Aku belum puas ngetawain nya." Satu pesan masuk dari Bayu dan membuat Naura bertambah kesal.


"Awas ya, nanti kalau telpon gak bakal Aku angkat!" gerutu Naura, lalu memberi mode silent pada ponselnya.


"Yah kok gak di angkat sih, hahaha pasti dia marah karena aku ketawain." Bayu tersenyum membayangkan wajah Naura yang sedang marah, dan saat seperti itu yang di nantikan Bayu, membujuk Naura yang sedang marah.


"Ah, kok Aku jadi halu gini sih." Bayu terkekeh geli.


"Aduh kapan sih, perasaan dua minggu lama banget."


...*******...


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Renita sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Pak Jhohan.


Setelah merasa oke dengan penampilannya, Renita pun melangkah keluar dari kamar hotel menuju pelataran hotel menunggu taksi pesanannya.


Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi Renita itu sudah berhenti di depan rumah mewah yang tak lain adalah kediaman Pak Jhohan.


"Wow, rumah ini ternyata sudah banyak sekali perubahannya." gumamnya lalu meminta sekuriti membukanya gerbang.


"Om Jhohan, i'm coming." ucapnya sembari menekan bel.


Tak berapa lama, pintu itupun terbuka.


"Siapa ya?" tanya Lusi, dia menatap wanita didepannya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Kayak gak a**sing, tapi siapa ya?" ucap Lusi dalam hati.


"Wow Lusi, kamu bertambah cantik saja ya." ujar Renita, dan Lusi pun mulai mengenali wanita didepannya ini.


"Kak Renita?"

__ADS_1


"Lusi, siapa yang datang?" teriak mamanya dari ruang tamu.


__ADS_2