Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 37. JANJI NAURA


__ADS_3

"Naura, pembicaraan kita ditelepon tadi, itu hanya bercanda kan? Kamu gak serius kan mau cerai dari suami kamu?" Tanya Lusi, saat ini mereka berdua berada di rumah makan yang terletak di pinggiran jalan.


"Naura, kok kamu tumben ngajak aku ketemuan disini? Kenapa kita gak ke cafe biasa aja?" Tanya Lusi lagi, dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan di rumah makan yang terlihat sangat sederhana itu.


"Ke cafe itu cuma bakal ingetin aku sama kejadian tempo hari, tau!" Jawab Naura jutek.


Yah, Naura masih ingat betul saat tempo hari datang ke cafe itu, di sana dia memergoki suaminya bertemu dengan kekasihnya.


Dan pada hari itu juga Naura meyakinkan hatinya bahwa perpisahan lah jalan terbaik untuk nya dan suaminya itu. Bagi Naura, untuk apa mempertahankan suami yang hatinya sudah di penuhi oleh wanita lain, karena hubungan yang seperti itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri.


"Lusi... " Panggil Naura.


"Ya" Jawab Lusi malas.


"Kamu lihat rumah makan ini... " Ujar Naura, dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, sama seperti yang dilakukan oleh Lusi sebelumnya.


"Ya elah, dari tadi aku juga lihat kali, emangnya kenapa dengan rumah makan ini?" Tanya Lusi, sedikit kesal.


Yah, sejak awal kedatangannya ke rumah makan itu, tak hentinya Lusi terus mengedarkan pandangannya didalam rumah makan yang sangat sederhana itu. Hanya ada beberapa sepasang kursi dan meja yang ukurannya kecil, luas rumah makan itupun paling hanya bisa menampung sekitar 20 orang pengunjung. Untuk dapurnya hampir bisa dibilang kurang higienis, serta menu nya juga sangat sederhana. Tempe, tahu, ikan, ayam dan beberapa macam sayuran serta sambal. Tak lupa juga kerupuk, rengginang yang dimasukkan ke dalam wadah kaleng Kong Guan. Dan untuk minumannya hanya es jeruk peras, es teh manis dan juga air putih.


"Kalau suatu hari nanti aku bahagia karena cinta yang tulus, aku akan renovasi rumah makan ini. Itu janjiku" Ucap Naura, dengan masih mengedarkan pandangannya.


"Kamu itu udah punya suami, kamu juga pernah bilang sangat mencintai suami kamu, terus bahagia apalagi yang kamu maksud itu, huh?" Lusi melirik temannya itu sekilas, kemudian melanjutkan kegiatannya yang sedari tadi mengaduk-aduk sambal dengan tempe tanpa memakannya.


"Satu tahun pertama pernikahan kami itu sudah cacat, dan aku gak tau apa yang akan terjadi pada tahun-tahun berikutnya bila aku masih mempertahankan pernikahan yang di dalamnya hanya aku sendiri yang memiliki cinta" Ujar Naura, kemudian menyeruput es jeruknya.

__ADS_1


Dan Lusi hanya diam saja, entah kenapa dia jadi merasa enggan untuk melanjutkan pembahasannya mengenai rumah tangga temannya itu. Padahal tujuan Lusi mengajak Naura bertemu adalah untuk menasehati temannya itu.


"Oh ya Lusi, jadi gimana nih tawaran kerja untuk aku?" Tanya Naura pada akhirnya setelah beberapa saat hening.


"Yah seperti yang aku bilang tadi di telepon. Kalau kamu menerimanya, kamu harus tinggal di Palembang sampai proyek pembangunan cafe itu selesai" Jawab Lusi, masih dengan mode malasnya.


"Cafe yang mau dibangun Papa aku itu cafe yang besar, Naura. Waktunya tidak sebentar, dan sudah pasti selama pembangunan itu, membutuhkan jasa Desain Interiornya sampai pembangunan selesai. Kalau jasa kamu yang dipakai, kamu akan tinggal lama di sana, Naura" Sambung Lusi, masih dengan kegiatannya mengaduk-aduk sambal dengan tempe.


"Aku juga bingung sih, gak tau kenapa Mas Wahyu malah gak mau menceraikan aku" Ujar Naura, kemudian menghembuskan nafasnya dengan berat yang seakan menumpuk di tenggorokan.


"Loh, bukannya kamu bilang, kalau suami kamu akan menceraikan kamu setelah kamu Sarjana, terus kenapa sekarang dia gak mau?"


"Entahlah, aku sendiri juga heran. Tapi kalau Mas Wahyu gak mau menceraikan aku, biar aku saja yang menggugat nya"


"Hem, terserah kamu deh, Naura"


Sesampainya di rumah, Lusi langsung masuk ke dalam kamarnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian memejamkan mata hendak tidur.


Namun, baru beberapa detik Lusi memejamkan matanya. Dia merasa kesal karena terganggu dengan suara ketukan pintu kamarnya.


Lusi tak menghiraukan ketukan pintu itu, dia pikir itu adalah asisten rumah tangga yang hendak memanggilnya untuk makan seperti biasanya. Dia terus memejamkan matanya berharap dia akan tertidur tanpa terganggu oleh suara ketukan itu, namun ternyata suara ketukan dipintu kamarnya semakin kencang dan bertalu-talu sehingga membuat Lusi semakin kesal dan akhirnya bangun dan turun dari ranjang kemudian melangkah menuju pintu untuk memarahi ART nya itu.


Lusi pun membuka pintu kamarnya dengan perasaan kesal.


"Bibik, kan aku sudah bilang kalau aku mau makan aku bisa keluar kamar sendiri gak perlu di panggil-panggil seperti anak kecil... "

__ADS_1


Jleb... Seketika, Lusi menghentikan kalimatnya setelah melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini. Matanya mengerjap berulang kali, berharap dia tidak salah lihat. Sosok yang selama ini dirindukan nya itu sekarang ada di hadapannya.


"Oh, jadi ternyata adik kakak ini sudah besar rupanya ya, kakak pikir sampai sekarang masih suka disuapin sama Bibik" Ejek seseorang yang saat ini berdiri di hadapan Lusi, dan orang itulah yang sedari tadi terus mengetuk pintu kamar Lusi.


"Kakak, ya ampun ini beneran Kak Bayu" Tanpa aba-aba, Lusi langsung memeluk kakaknya itu. Sosok yang sudah lima tahun ini di rindukan nya.


"Kakak kok gak bilang-bilang sih mau pulang" Ucap Lusi, memeluk kakaknya dengan sangat erat.


"Kalau bilang, bukan kejutan dong namanya" Ucap Bayu. Membelai lembut rambut panjang adiknya itu.


"Udah dong, nanti kakak kehabisan nafas loh kamu meluk kakak kenceng banget"


"Aku kangen banget sama kakak" Lusi semakin mengeratkan pelukannya.


"Lusi, sekarang lepasin kakak dulu ya, ada yang mau kakak tanyain sama kamu" Dan Lusi pun mengurai pelukannya.


"Tanya apa, Kak?" Lusi menautkan kedua alisnya menatap kakaknya itu.


"Soal teman kamu, yang kamu rekomendasikan sebagai Desain interior pembangunan cafe Papa di Palembang" ujar Bayu.


"Loh, kok kakak tau?"


"Ck. Kamu lupa ya? Kalau kakak ini juga anaknya Pak Jhohan, huh?" Bayu tersenyum kecut pada adiknya itu. Dan Lusi pun menyengir kuda menanggapinya.


"Kakak pulang ke Indonesia itu karena Papa menugaskan kakak untuk memantau langsung pembangunan cafe baru Papa yang akan dibangun di Palembang" Sambung Bayu menjelaskan, dan membuat Lusi semakin banyak seketika membelalak kan matanya.

__ADS_1


'Ya ampun, itu artinya Naura akan ke Palembang bareng Kak Bayu kalau seandainya Naura beneran jadi ambil job itu'


__ADS_2