Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 92. FOTO


__ADS_3

"Pa, nanti aja kita bicarakan ini sama Naura. Dia belum pulih benar, biarkan Naura istirahat dulu." sela istrinya pak Jhohan, dan dijawab anggukan oleh suaminya.


"Ayo tante antar ke kamar kamu," ucapnya lalu membantu Naura berdiri. "Lusi, buatin bubur untuk Naura ya." perintahnya kemudian pada putri bungsunya.


"Iya, Ma." jawab Lusi sembari menganggukkan kepalanya, Lusi pun beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah menuju dapur.


Dan kini tinggal menyisakan pak Jhohan dan juga Bayu di ruang tamu.


"Pa, Aku takut," ucap Bayu dengan lirih.


"Takut kenapa?" tanya pak Jhohan menatap putranya itu sekilas lalu mengambil koran yang terletak di atas meja yang berwarna senada dengan sofa yang didudukinya, kemudian mulai membawa koran tersebut.


"Aku takut kalau Naura bakal nolak Aku, Pa."


"Yah siapa surut tadi kamu ngomong gitu," ujar pak Jhohan sambil membuka lembaran kedua koran yang dibacanya itu.


"Naura, jangan dengerin Papa, dia itu cuma bercanda." ucap pak Jhohan mengulang ucapan putranya beberapa saat yang lalu.


"Ayo, mau ngomong apa lagi?" celetuk pak Jhohan melihat putranya itu hendak berkata sesuatu namun menutup mulutnya kembali.


"Pa, kita semua tau kalau Naura itu pernah mengalami kegagalan dalam pernikahannya. Dan Aku yakin Naura pasti memiliki rasa trauma akan pernikahan, dan Aku khawatir Naura akan menolak lamaran Papa." ucap Bayu mengungkapkan kekhawatiran nya.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Naura gak bakal nolak." ucap pak Jhohan kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu membuka galeri foto dan memperlihatkan sebuah foto pada Bayu.


"Astaghfirullah, Papa!" pekik Bayu terkejut melihat foto yang ditunjukkan oleh papanya itu. "Ternyata Papa masih sempat sempat nya ambil gambar Aku sama Naura. Pa, ayo hapus fotonya!" Bayu hendak merampas ponsel papanya, namun pak Jhohan dengan cepat menarik tangannya ke belakang.


"Kalau Papa hapus, kita gak ada senjata dong buat nikahin kamu sama Naura." pak Jhohan mengerlingkan matanya menggoda Bayu.


"Tapi bukan seperti ini caranya, Pa. Kalau orang-orang lihat foto ini, pasti mereka akan berpikiran sama dengan yang sebelumnya Papa tuduhkan. Apalagi kalau foto ini sampai ke kakaknya Naura, Aku bisa babak belur dihajar nya, Pa." ucap Bayu dengan khawatir, namun pak Jhohan malah terkekeh.


"Kamu takut sama kakaknya, Naura?"


"Bukannya takut, Pa. Papa gak lihat aja sih gimana brutalnya Noval menghajar Wahyu sampai babak belur, Aku gak mau ah Pa kayak gitu juga."


"Tapi kan itu hanya akan membuat Naura terpaksa, Pa. Papa pikir Aku bakalan senang Naura menikah dengan Aku tapi karena terpaksa? Engga, Pa. Justru Aku akan merasa bersalah karena sudah mengingat Naura dengan keterpaksaan." ujar Bayu dengan lirih.


"Naura dan Wahyu dulu bukanya juga di jodohkan, kan?" Bayu menganggukkan kepalanya.


"Nah, Naura bisa menerima pernikahannya itu meski dijodohkan dan bahkan mulai mencintai Wahyu sebelum dia mengetahui kebenarannya." ucap Pak Jhohan.


"Sama kamu nanti Naura juga pasti bisa belajar mencintai kamu." sambung pak Jhohan.


"Tapi Papa tolong hapus foto itu ya, biar Aku sendiri yang meyakinkan Naura. Kalau Papa tunjukin foto itu, Aku takutnya Naura akan marah sama Aku, mengira Aku berbuat hal yang tidak tidak padanya disaat dia sedang sakit dan tak sadarkan diri."

__ADS_1


Pak Jhohan terdiam sejenak, ucapan putranya itu ada benarnya juga. Entah apa yang ada di pikirannya sehingga bisa berpikir seperti itu. Ingin menikahkan putranya dengan modal foto yang tidak sama dengan kebenarannya.


Beberapa kemudian pak Jhohan pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, Papa tidak akan menunjukkan foto itu pada Naura. Tapi, Papa tidak akan menghapusnya, buat kenang-kenangan, kalian itu terlihat manis sekali di foto itu." ujar pak Jhohan terkekeh, kemudian beranjak meninggalkan Bayu yang tercengang di ruang tamu.


"Papa ada-ada aja." gumamnya lalu juga beranjak dari sana menuju kamarnya.


Didalam kamar Naura, wanita paruh baya yang merupakan istri dari lelaki paruh baya yang beberapa waktu lalu mengatakan akan melamarnya untuk putranya, membantu Naura untuk rebahan di atas ranjang. Dan tak lama kemudian Lusi masuk ke kamar itu dengan membawa semangkuk bubur hangat untuk Naura.


"Aku suapin ya," ujar Lusi yang baru saja duduk di tepi ranjang dimana Naura sedang berbaring.


"Biar Mama aja." ucap mamanya Lusi, lalu mengambil alih semangkuk bubur yang diletakkan Lusi di atas meja.


"Gak usah tante, Aku bisa sendiri kok." ucap Naura, lalu menarik tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang.


"Udah nurut aja, biar tante yang suapin. Bukan mulutnya." perintah mamanya Lusi, dan Naura pun mengangguk patuh lalu menerima suapan demi suapan hingga bubur yang berada dalam mangkok cap ayam jago tandas tak bersisa.


Sementara pak Jhohan yang kini berada didalam kamarnya Bayu, tersenyum senyum sendiri sembari terus menatap foto Bayu dan Naura yang tidur berdampingan.


Didalam foto itu, terlihat Naura yang berbaring lurus sementara Bayu meringkuk disamping Naura dengan sebelah tangannya menempel di keningnya Naura, benar-benar manis jika mereka berdua itu adalah pasangan halal.

__ADS_1


__ADS_2