
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali, Bayu dan Naura sudah keluar dari hotel tempat mereka menginap, pagi ini mereka akan melakukan perjalanan menuju apartemen tempat mereka akan tinggal selama berada di kota yang terkenal dengan sebutan kota pempek itu, dan butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di lokasi apartemen tersebut.
Sepanjang perjalanan, Naura habiskan hanya dengan terus memperhatikan pemandangan yang dilalui oleh mobil yang membawanya itu.
Sementara Bayu, dia sibuk mengecek e-mail yang dikirimkan oleh sekertaris nya, Andi. Dalam perjalanan Bayu kali ini, Andi tidak ikut karena ditugaskan oleh bosnya itu untuk mengurus perusahaan bersama Wahyu. Sementara Pak Jhohan, beliau tidak bisa mengelola perusahaan karena kondisi kesehatannya yang mulai menurun.
Naura yang terus memandang ke arah luar jendela, sedikit terkejut dengan suara dentingan ponselnya yang menandakan ada pesan masuk. Dengan malas Naura mengeluarkan ponselnya dari dalam tas mengira itu adalah pesan dari mantan suaminya. Namun ternyata bukan, itu adalah pesan dari temannya, Lusi, dan kakak sepupunya, Noval.
Belum lagi Naura membuka pesan dari Noval dan Lusi, tiba-tiba sebuah motor menyalip sehingga mobil yang ditumpangi nya oleng dan menabrak pembatas jalan. Naura, Bayu dan supir yang berada di dalam mobil itu terhempas didalam mobil.
Orang-orang yang melihat kejadian itu segera berhamburan mendekati mobil yang mengalami kecelakaan itu. Mobil yang ditumpangi oleh Bayu dan Naura itu terlihat sudah penyok di bagian depannya.
"Naura, apa kau baik-baik saja?" Bayu sangat panik melihat kening Naura yang berdarah, padahal keningnya juga berdarah. Begitupun dengan supir yang terlihat lebih parah karena kepalanya terbentur di stir.
Naura meringis kesakitan, kepalanya berdarah. Tapi, sakit itu bukan berasal dari kepalanya, melainkan dari perutnya yang terasa sangat sakit. Naura pun memegangi perutnya dan semakin meringis kesakitan.
"Awww... Shhttt...Perutku sa-kit," desisnya memegangi perutnya yang terasa semakin sakit.
Bayu pun semakin bertambah panik melihat Naura yang begitu kesakitan, belum lagi saat tatapan Bayu tertuju pada kaki Naura yang terlihat ada darah yang mengalir. Bayu pun pun berteriak meminta tolong pada orang-orang yang sudah membawa keluar supirnya.
"Tolong, tolong panggilan ambulance," panik Bayu, orang-orang itupun segera membuka pintu mobil dan membawa Naura dan Bayu juga keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Beruntung sekali dari lokasi kejadian terdapat rumah sakit yang terdekat sehingga tak butuh waktu lama akhirnya ambulance pun datang.
Bayu segera menggendong Naura masuk kedalam ambulance tanpa menunggu lagi petugas ambulance itu menurunkan brankar untuk membawa Naura masuk kedalam ambulance. Bayu tak memperdulikan dirinya yang juga terluka, yang terpenting adalah keselamatan gadis kecilnya itu. Sementara sang supir dibantu oleh para warga dan menaiki ambulance lainnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Bayu menggenggam erat sebelah tangan Naura, membantu menguatkan gadis kecilnya itu yang terlihat sangat kesakitan.
"Kak Bayu, perutku sa-kit," ucap Naura membalas menggenggam erat tangan Bayu. Rasa sakit di perutnya amat tak tertahankan.
"Iya Naura, Kau harus bertahan sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Kamu jangan khawatir di sini ada Aku."
Melihat Naura yang sangat kesakitan, Bayu merasa tak tega, entah kenapa dia juga seolah ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh gadis kecilnya itu. Namun, Bayu tak mengerti kenapa Naura bisa mengalami sakit di bagian perutnya karena kecelakaan itu, bukankah mereka sama-sama hanya terbentur di bagian kepala saja. Dan, belum lagi darah yang mengalir di kaki Naura semakin membuat Bayu bingung.
Darah apa itu?
Bagaimana bisa kecelakaan yang hanya menabrak pembatas jalan bisa menyebabkan seorang gadis mengalami pendarahan.
Naura segera dibawa ke ruang instalasi gawat darurat, sementara Wahyu dan sang supir dibawa menuju ruangan lain untuk mengobati memar di kepala mereka.
Setelah kepalanya selesai diobati oleh suster, Bayu segera keluar dari ruangan itu, kemudian menuju IGD untuk melihat keadaan Naura. Namun, saat Bayu sampai di depan IGD pintu ruangan itu masih tertutup rapat. Bayu pun membawa tubuhnya duduk di kursi yang sudah tersedia di sana.
Bayu duduk termenung memikirkan tentang apa yang terjadi pada Naura saat ini.
Bagaimana bisa mengalami pendarahan hanya karena kecelakaan itu.
__ADS_1
Atau jangan-jangan?
"Oh tidak," Bayu menggelengkan kepalanya kala terpikirkan hal yang dialami Naura saat ini.
Hamil? Lalu keguguran karena kecelakaan itu?
"Tidak mungkin," Lagi-lagi Bayu menggelengkan kepalanya. Bayu masih ingat betul pada lampiran data diri Naura, disitu tertulis dengan jelas kalau status Naura adalah single.
Jika memang Naura sedang hamil, lalu hamil dengan siapa kalau Naura saja tak mempunyai suami.
"Atau jangan-jangan Naura memang sedang hamil, dengan kekasih? Yang dia temui di taman waktu itu? Oh Tuhan, apa-apaan ini." Bayu meremas rambutnya, kepalanya seketika terasa berat berdenyut.Tapi, bukan karena luka di kepalanya, namun karena terkaan nya yang mungkin saja benar.
Bagaimana jika terkaan nya itu benar? Keadaan seolah benar-benar mempermainkan Bayu jika itu semua adalah benar. Baru saja dia menyukaimu seorang gadis, namun dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa dia telah menyukai milik orang lain, dan ternyata gadis kecilnya itu...
Tak ingin berpikiran buruk pada gadis kecilnya itu, Bayu pun berusaha untuk menenangkan pikirannya dan menunggu nanti dokter yang akan menjelaskan padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Naura.
Beberapa saat menunggu, namun pintu ruangan IGD itu belum juga terbuka. Bayu pun terpikirkan untuk menghubungi kedua orangtua Naura tentang kecelakaan yang menimpa mereka.
"Oh tidak, Aku tidak mempunyai nomor Pak Agung maupun Bu Lastri, bagaimana ini?" Bayu pun bingung sendiri. Namun, beberapa saat kemudian dia teringat dengan adiknya.
"Lusi, yah sebaiknya Aku menghubungi Lusi," ujarnya lalu menelpon adiknya itu.
Setelah memberitahu pada Lusi tentang kecelakaan yang menimpanya dan Naura hari ini Bayu pun memutus panggilan itu, lalu menyadarkan kepalanya didinding. Masih benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada Naura. Sebenarnya Bayu tadi ingin bertanya pada adiknya tentang Naura, pasti adiknya itu mengetahui banyak hal tentang Naura. Namun, karena keadaan yang tidak tepat membuat Bayu mengurungkan niatnya untuk bertanya. Biarlah nanti dia akan menanyakan setelah adiknya itu tiba bersama kedua orangtua Naura.
__ADS_1
Sementara Lusi, dia segera menuju rumah orangtua Naura. Hari ini juga Lusi akan membawa pak Agung dan bu Lastri berangkat ke Palembang sesuai dengan perintah kakaknya.
Tak lama, pintu ruangan IGD itupun terbuka. Bayu segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.