
Malam ini, Wahyu benar-benar tergoda dengan istrinya walaupun Naura tak melakukan itu. Hanya dengan seperti ini saja, sudah mampu membuat sesuatu dibawah sana menegang dengan sendirinya.
Biarlah Wahyu menjadi sedikit egois, walaupun dia tidak mencintai istrinya ini. Tapi dia sepenuhnya berhak atas istrinya ini, termasuk menjadikan Naura selayaknya istri yang sesungguhnya.
Dengan gerakan pelan, Wahyu menempelkan bibirnya pada bibir Naura, kemudian ******* nya dengan perlahan sembari memberi gigitan kecil.
Sementara Naura, dia merasakan aliran darahnya mengalir begitu cepat sehingga membuat tubuhnya seketika menegang merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya akibat ulah suaminya.
Saat nafasnya mulai terengah, barulah Wahyu melepaskan tautan bibirnya dengan Naura. Wahyu menyunggingkan senyum sembari mengusap bibir istrinya yang basah karena ulahnya, dan di detik berikutnya Wahyu menghujani wajah Naura dengan banyak kecupan tanpa melewatkan satu inci pun bagian wajah istrinya itu.
"Naura, Mas boleh melakukannya sekarang ya?" Wahyu menatap istrinya itu dengan raut wajah yang sudah terlihat sangat bergairah.
Bukannya menjawab, Naura malah memalingkan wajahnya, sejujurnya raganya juga menginginkan lebih, tapi dia begitu malu untuk mengakuinya.
Hingga, Naura begitu terkejut saat Wahyu menuntun tangannya untuk menyentuh bagian bawah suaminya yang sudah menegang.
Dengan cepat Naura menarik tangannya, lalu memalingkan wajahnya lagi. Membuat Wahyu sedikit kecewa karena berpikir jika Naura tidak menginginkannya.
__ADS_1
Padahal, Wahyu tidak tahu saja, kalau saat ini jantung Naura seakan ingin lompat dari tempat nya. Naura begitu deg-degan, dia tak sanggup menatap wajah suaminya yang juga sangat menggoda baginya.
Melihat tak ada respon dari istrinya, Wahyu pun menanyakan sesuatu yang sedang dia pikirkan saat ini.
"Naura, apa kau tidak ingin melakukannya sekarang, dengan Mas? kalau begitu baiklah, Mas tidak akan memaksa kalau kamu belum siap, kita bisa melakukan nya nanti setelah kamu sudah benar-benar siap, Mas akan menungu sampai kamu siapa" walau ucapannya tak sejalan dengan hatinya, namun dengan terpaksa dia katakan, Wahyu tak ingin memaksakan kehendaknya yang hanya akan membuat Naura dengan terpaksa melakukannya.
Wahyu pun hendak turun dari atas tubuh Naura, namun Naura dengan cepat menahan kedua lengan suaminya.
"Maaf, Mas. Aku bukannya tidak ingin, tapi aku hanya sedang gugup saja saat ini" kata Naura, dia memberanikan diri menatap suaminya.
Mendengar jawaban istrinya, Wahyu pun tersenyum dan sekali lagi dia menghujani wajah Naura dengan banyak kecupan. Sementara Naura, dia memejamkan matanya, pasrah terhadap apa yang akan suaminya nya lakukan padanya saat ini juga.
Walau dengan mata terpejam, Naura masih bisa merasakan apa yang sedang dilakukan Wahyu saat ini pada tubuhnya, bibir Wahyu terus bergerak menelusuri setiap inci bagian tubuhnya, dari bibir, leher, dan berakhir pada bukit kembar nya yang menimbulkan sensasi luar biasa yang baru pertama kalinya Naura rasakan.
Desah*n yang berhasil lolos dari bibir Naura, membuat Wahyu tersenyum dan semakin bersemangat dengan kegiatannya saat ini. Dan sesuatu yang semakin menegang dibawah sana sudah tak sabar ingin segera memasuki sarangnya.
Merasa sudah tak tahan, Wahyu segera menanggalkan seluruh pakaiannya, kemudian dia juga mulai melepas satu persatu kain yang menempel di tubuh Naura sehingga kini tubuh keduanya sudah sama polosnya tanpa sehelai benang pun yang menempel pada tubuh mereka berdua.
__ADS_1
Naura menatap wajah suaminya dengan penuh tanya dalam hatinya. Sebenarnya apa yang dirasakan oleh Wahyu saat ini padanya, apakah suaminya itu merasakan hal yang sama dengannya, yaitu perasaan nyaman berada di sampingnya.
Naura yang larut dengan segala pemikiran nya, tidak menyadari kalau saat ini wajah Wahyu semakin mendekat memangkas jarak dekat dengan wajahnya. Dan sekali lagi, Wahyu memberikan ******n pada bibir Naura yang seketika menjadi candu bagi nya.
Naura memekik saat merasakan sesuatu yang keras mulai memasuki miliknya, beriringan dengan air mata yang tiba-tiba saja menetes karena rasa sakit dibagian intimnya yang terasa perih.
Naura mencengkram bahu suaminya, saat Wahyu semakin memperdalam gerakannya sehingga air mata Naura semakin deras mengalir di pipinya.
Wahyu mulai memompa tubuhnya, dan perlahan rasa sakit yang dirasakan oleh Naura berangsur-angsur menghilang, dan tergantikan dengan kenikmatan hakiki yang tiada tara.
Desah*n desah*n yang keluar dari bibir Naura, beriringan dengan Wahyu yang terus memompa tubuhnya, semakin menambah panas suasana malam ini. Kedua insan itu saling berlomba mencapai puncaknya, hingga tak berapa lama, Wahyu pun merasakan sesuatu yang akan segera keluar, lalu Wahyu pun semakin mempercepat gerakan nya dan...
Ah... Kelegaan seketika mendera keduanya. Dengan masih berada di atas tubuh istrinya, Wahyu kembali mencium seluruh bagian wajah istrinya, sementara Naura terlihat pasrah sembari mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan.
"Naura, terima kasih ya, karena sudah dengan ikhlas memberikannya pada Mas"
"Aku juga berterima kasih, karena Mas telah menjadikan aku istri yang sesungguhnya" balas Naura, dan setelah ini dia bertekat untuk menjadi istri yang sebagimana mestinya. Usianya yang terpaut 6 tahun dengan Wahyu tak membuat nya menjadikan alasan untuk mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Dan Wahyu, jangan ditanyakan perasaan nya saat ini, sudah pasti sangat bahagia karena di usia nya yang ke 28 tahun akhirnya dia merasakan indahnya Surga Dunia.