
Saat ini Naura berada di dalam mobilnya Lusi, namun mobil itu belum juga meninggalkan pelataran kantor pengadilan agama seusai Naura mengajukan gugatannya di pengadilan itu.
Sebuah map berwarna coklat kini berada di dalam genggamannya, netra nya terus menatap map coklat itu dengan berkaca-kaca. Selembar kertas yang ada didalam map coklat itu sudah terbubuhkan tanda tangannya, tinggal suaminya yang menanda tangani maka pernikahannya akan benar-benar berakhir.
Sekuat tenaga dia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tak menitihkan air matanya lagi untuk pernikahan yang ternyata tidak ada artinya selama satu tahun ini. Semuanya palsu, semuanya hanya dusta, tanpa Naura sadari dia telah tertipu akan cinta palsu suaminya.
'Miris banget sih hidup kamu, tepat di satu tahun pernikahan kamu dan Wahyu, kamu harus mendapati kenyataan ternyata selama ini cinta suamimu itu palsu. Dan kini pernikahanmu harus berakhir dengan cara seperti ini. Tapi aku akan selalu mendoakanmu, agar suatu hari nanti kau menemukan kebahagiaanmu yang sesungguhnya, Naura" Doa tulus yang diucapkan oleh Lusi dalam hatinya.
"Kalau kamu sudah merasa baikan, aku akan mengantarkan kamu pulang sekarang ya" Ucap Lusi, dia benar-benar iba dengan keadaan temannya itu saat ini. Naura benar-benar terlihat rapuh, namun sebisanya dia tak menampakkan kerapuhan nya itu.
Naura menganggukkan kepalanya, dan Lusi pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kantor pengadilan agama itu.
"Lusi, kamu temenin aku ya, dan setelahnya tolong antarkan aku pulang ke rumah orang tuaku" Ucap Naura, setelah beberapa menit mobil Lusi melaju di jalanan.
"Aku akan selalu menemani kamu, kapanpun kamu butuhkan, Naura" Lusi mengelus punggung tangan temannya itu, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Terima kasih ya Lusi, kamu memang temanku yang terbaik. Seandainya tidak ada kamu, mungkin aku akan merasa sendiri saat ini" Ujar Naura.
Yah, seandainya Lusi tidak ada, entah apa yang akan terjadi pada Naura disaat seperti ini. Lusi lah yang selalu menemani nya, Lusi lah yang selalu ada disaat tersulit nya dan Lusi lah yang selalu ada untuk menenangkan nya di saat seperti ini.
*******
__ADS_1
"Enggak, apa-apaan ini, Naura pokoknya Mas gak mau!"
Mendengar penolakan dari suaminya yang enggan menandatangani surat perceraiannya membuat Naura semkin merasa muak pada suaminya itu.
Apa alasannya tidak mau bercerai, padahal beberapa saat yang lalu suaminya itu lagi-lagi bertemu dengan kekasihnya dibelakangnya.
Bukankah Naura sudah berbaik hati ingin membebaskan suaminya itu untuk kembali bersama kekasihnya? Lalu apa ini, suaminya itu malah memperkeruh keadaan.
"Aku mohon tolong bebaskan aku dari pernikahan ini Mas, mari kita akhiri kepura-puraan ini. Kembalilah Mas pada Bu Diandra, dan aku juga akan mencari kehidupan ku sendri" Ujar Naura, matanya sudah berkaca-kaca menatap suaminya yang terlihat sangat kacau. Sesungguhnya Naura tidak tega, namun inilah keputusannya, mengakhiri pernikahan yang pada dasarnya berawal dari kebohongan.
"Enggak, Naura. Mas nggak mau kita pisah, Mas baru sadar sekarang kalau Mas gak bisa kehilangan kamu. Apa kamu tega meninggalkan Mas, Naura. Bagaimana Mas bisa tidur dengan nyenyak kalau kamu tidak ada, Naura Mas mohon jangan lakukan ini.
"Sebelumnya, aku sudah sering mengatakan pada Mas utnuk terbiasa tanpa aku, jadi itu masalah Mas sendiri dan maaf Mas, aku tidak akan mencabut gugatan ku, aku ingin kita berpisah!" Tegas Naura mulai emosi dengan situasinya.
Sementara di ruangan sebelumnya, Bu Winda, Lusi dan juga Tasya hanya bisa saling menatap mendengar perselisihan sepasang suami-istri yang saling berdebat didalam kamar sana, terdengar suara Wahyu yang terus memohon agar istrinya tidak pergi.
Tak lama kemudian, Naura keluar dari dalam kamar dengan menyeret koper besarnya, kemudian menghampiri Bu Winda dan juga Tasya.
"Mama, maafin aku ya Ma. Aku gagal jadi istri, maafkan aku yang memilih untuk mundur, sekali lagi maafin aku Ma" Ucap Naura, sembari menggenggam tangan Mama mertuanya itu.
"Kamu gak perlu minta maaf, Nak. Ini bukan salah kamu, ini semua salah putra Mama, dia yang sudah sendiri yang sudah menyebabkan hari ini terjadi. Tapi Mama mohon sama kamu, jangan pernah lupakan Mama dan Tasya dimana pun kamu berada nanti" Ucap Bu Winda, mengelus puncak kepala menantunya itu.
__ADS_1
"Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu, Nak" sambungnya, memeluk Naura.
Saat Naura pergi ke kamar membereskan pakaiannya. Lusi memperlihatkan pada Bu Winda foto dan video yang didapatkan Naura hari ini yang mana itu semakin menguatkan keyakinan Naura untuk bercerai.
Bu Winda hanya bisa mengelus dada nya, melihat kemesraan putranya bersama wanita lain didalam foto dan video itu, dan apapun yang akan diputuskan oleh menantunya dia akan mendukungnya, termasuk menceraikan putranya.
Sementara Tasya menggeram marah saat melihatnya, dia bersumpah dalam hati akan memberikan pelajaran pada kekasih kakaknya itu jika dia bertemu nanti, gara-gara wanita itu kakak iparnya jadi pergi.
"Sering-seringlah datang mengunjungi Mama dan Tasya, kami berdua pasti akan sangat merindukanmu Naura" Ujar Bu Winda setelah mengurai pelukannya.
"Iya, Ma. Aku juga pasti akan sangat merindukan Mama dan Tasya" Kata Naura, kemudian berpindah memeluk adik ipar kesayangannya itu.
"Kak Naura, kenapa sih ini semua harus terjadi, aku pasti bakalan kangen banget sama kakak. Kak Naura jangan lupain aku sama Mama ya Kak" Dan akhirnya, Tasya pun tetap terisak didalam pelukan kakak iparnya itu.
Hampir saja Naura menangis, namun dia segera menengadahkan kepalanya menatap langit langit. Naura sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Dan setelah ini, dia harus menjadi wanita yang kuat diluar sana dengan statusnya yang baru.
Dibalik pelukan Tasya, tatapan Naura tertuju pada map coklat yang dia bawa dari kantor pengadilan agama, terletak di atas meja dan belum terbuka sama sekali.
"Kamu tentang saja, Mama akan membuat Wahyu menandatangani surat itu. Dan Mama sendiri yang akan mengantarkannya nanti kerumah orang tuamu, sekalian Mama akan menemui dan meminta maaf kepada mereka atas prilaku putra Mama" Ujar Bu Winda yang memperhatikan Naura terus menatap map coklat itu.
Setelah berpamitan kepada Bu Winda dan juga Tasya, Naura pun pergi dengan diantarkan Lusi menuju ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
Sementara Wahyu yang masih berada didalam kamarnya, dia terduduk lemas di atas lantai menatap nanar pada pintu lemari yang terbuka itu, semua pakaian Naura sudah tidak ada disana, dia tidak meninggalkan satu pun untuk Wahyu simpan sebagai kenangan.
"Maafkan Mas Naura, Mas memang bodoh, Mas sendiri yang memberikan perhatian dan kenyamanan padamu walaupun itu semua hanya kepalsuan, tapi lihatlah Mas sendiri yang menyesali. Mas baru menyadari sekarang, kalau Mas lah yang merasa nyaman berada di dekat mu"